A.
STRATEGI
PEMBELAJARAN
strategi
pembelajaran Secara
umum strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan
dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikn sebagai pola-pola umum
kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar
mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Strategi pembelajaran adalah “pola umum pengaturan hubungan antara siswa
dan guru dan atau siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungannya dari awal
hingga akhir sebuah pembelajaran dengan menggunakan berbagai siasat” (Didi
Supriadie : 1995).
Strategi
berasal dari kata “strategos” (Yunani) yang artinya memberdayakan semua unsur,
seperti perencanaan, cara dan teknik dalam upaya mencapai sasaran. Strategi
(pembelajaran dimaknai sebagai “kegiatan guru dalam memikirkan dan mengupayakan
terjadinya konsistensi antara aspek-aspek komponen pembentuk sistem
instruksional, dimana untuk itu guru perlu menggunakan siasasat
tertentu”(Dimyati dan Mudjiono :1991).
B.
JENIS
STRATEGI PEMBELAJARAN
1.
Strategi
Ekspositorik
Strategi
ini memosisikan siswa untuk tidak mencari dan menemukan sendiri
fakta,konsep,prinsip yang dipelajari, karena semua itu disajikan oleh guru.
Selain itu, strategi ini memosisikan siswa menjadi pasif.
a.
Ekspositorik
Model Guru
Strategi ini menyiasati
pembelajaran berbentuk “lecturer” dan secara konseptual dituturkan diatas,
sehingga mengajar lebih menggunakan metode ceramah, sebab yang mengekspos
adalah guru dan siswa berperan hanya
sebagai objek saja.
b.
Ekspositori
Model siswa
Model ini kebalikan
dari model yang pertama, artinya modle ini menyiasati agar siswa yang melakukan
ekspos dan guru yang berperan sebagai fasilitator. Konsep ini cenderung kebih
“romantik” dan dinamis karena cenderung dapat dikembangkan menjadi diskusi
ataupun curah pendapat.
2.
Strategi
Heuristik
Strategi
ini menyiasati agar unsur-unsur sistem pembelajaran mengaruh pada pemberdayaan
anak menjadi aktif dalam mencari dan menemukan sendiri fakta, prinsip dan
konsep yang mereka butuhkan, sedangkan peran guru menjadi pembimbing dan atau
organisator/fasilitator.
Strategi ini pun
dikaterogikan kedalam tiga model, yaitu :
a. Pure
Model
Model ini menyiasati agar unsur-unsur sistem
pembelajaran mengarah pada pemberdayaan siswa menjadi aktif mencari dan
menemukan fakta, konsep, prinsip yang mereka butuhkan secara “murni” dilakukan
oleh siswa, sedangkan guru memberi arah awal, menerima laporan, dan memberi feed back.
b. Guided
model
Model yang menyiasati unsur-unsur sistem
pembelajaran yang mengarah pada
pemberdayaan siswa menjadi aktif mencari dan menemuka fakta, konsep, prinsip
yang mereka butuhkan melalui bimbingan guru
c. Modified
Model
Model ini menyiasati unsur-unsur pembelajaran yang
mengarah pada pemberdayaan siswa menjadi aktif mencari dan menemukan fakta,
konsep, prinsip yang mereka butuhkan dengan cara memadukan dua model
sebelumnya.
C.
PRINSIP
PEMBELAJARAN
a.
Apersepsi
(Aperseption)
Apersepsi berasal dari kata apperception,
yang berarti menafsirkan buah pikiran. Jadi apersepsi adalah menyatukan dan
mengasimilasi suatu pengalaman dengan pengalamanan yang telah dimiliki dan
dengan demikian memahami dan menafsi rkannya
b.
Motivasi
(Motivation)
Prinsip ini sangat kental nuansa psikologinya. Oleh karena
itu, prinsip ini sangat penting, sebab pembelajaran akan dimotori oleh prinsip
ini. Motivasi berasal dari kata “motif” yang berarti dorongan atau keinginan
yang muncul dari diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan “motivasi”,
dimaknai sebagai upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai sesuatu
yang diinginkan. Artinya, prinsip motivasi perlu digunakan karena guru
berkewajiban untuk memlihara motivasi dirinya, membangkitkan, serta memelihara
motif dan motivasi yang telah ada pada dirinya.
c.
Aktivitas
(Activity)
prinsip ini secara
psikologis menuntut komitmen dan konsistensi pemahaman terhadap hakikat
pembelajaran, yakni guru/instruktur memiliki tugas untuk menciptakan atmosfer
belajar yang kondusif sehingga terjadi interaksi yang berkualitas. Secara
didaktis, pembelajaran hakikatnya adalah aktivitas.
d.
Korelasi (Correlation)
Prinsip ini secara
psikologis dimaksudkan untuk mengembangkan wawasan secara integrative,holistik,
dan atau interdisipliner. Secara didaktis siswa harus dibimbing
untuk berpikir bahwa “sesuatu” selain memiliki “keberadaan”, tetapi juga
memiliki kolerasi (hubungan) atau saling menunjang. Kolerasi dimaksudkan dengan
menghubungkan antara materi pokok dan atau mata pelajaran/bidang studi yang
dengan baik secara struktural maupun fungsional.
e.
Individualisasi
(Individually)
Prinsip ini dimaksudkan
untuk mencermati bahwa sasaran didik/siswa adalah individu dengan karakteristik
yang berbeda antara satu dan lainnya, bahkan akan ditemukan anak yang lamban,
sedang, dan cepat dalam belajar. Artinya, secara didaktis, guru perlu lebih
awal memahami kondisi ini, yakni memahami perbedaan karakteristik individual
dan kapasitas belajar siswa (learning capacity).
f.
Pengulangan
(Repetition)
Prinsip ini dimaksudkan
untuk memberikan “pemantapan” terhadap sejumlah hal yang dipelajari, selain itu
juga memberi peluang bagi siswa yang karena kondisi maupun karakteristiknya
belum dapat memahami substansi yang dipelajarinya. Secara didaktis pengulangan
ini dapat dilakukan guru dalam rangka proses memantapkan, merangkum, dan
memberikan kesimpulan.
g.
Kerjasama
(Cooperation)
Prinsip ini dimaksudkan
untuk membangun “sinergi”, saling membantu, dan menghindarkan “rasa keangkuhan
diri” serta menyadarkan siswa bahwa tidak semua hal dapat dikerjakan sendiri
atau mengembangkan “rasa saling menghargai” diantara mereka. Secara didaktis,
prinsip ini dapat dikembangkan melalui belajar kelompok. Selain itu, prinsip
ini dimaksudkan untuk mengembangkan suasana ssaling membelajarkan diantara
siswa.
h.
Lingkungan
Prinsip ini dimaksudkan untuk mengembangkan
pikir,skill, sikap siswa lebih nyata dan fungsional. Secara didaktis, melalui
prinsip ini siswa belajar dengan banyak sumber dan dengan konteks yang lebih
jelas. Implikasi bagi guru adalah bagaimana menciptakan suasana belajar lebih
bervariasi dengan cara memanfaatkan berbagai sumber belajar.
i.
Evaluasi
(Evaluation)
Prinsip
ini secara psikologis dimaksudkan untuk melakukan pengukuran kemampuan siswa
setelah melampaui suatu proses pengalaman (belajar), yakni apakah terdapat
perubahan perilaku. Secara didaktis evaluasi adalah bagian integral dari sistem
pembelajaran, dan evaluasi dimaksudkan untuk mmengukur seberapa jauh tujuan
telah tercapai dalam arti apakah siswa telah berubah tingkah lakunya sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.
D.
METODE
MENGAJAR
Seperti telah dikemukakan di muka,
metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Ini berarti, metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah
ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran
memegang peran yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi
pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran,
karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan
melalui penggunaan metode pembelajaran.
Berikut
ini disajikan beberapa metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk
mengimpelementasikan strategi pembelajaran.
A.
Metode
Ceramah
Metode
ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini senantiasa
bagus bila pengunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung alat dan
media serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunannya. Metode ceramah
merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau
instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga
adanya faktor kebiasaan baik dari guru atau pun siswa. Guru biasanya belum merasa
puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah.
Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang
memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah
berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode
ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran ekspositori.
1. Kelebihan dan Kelemahan Metode Ceramah
Ada beberapa kelebihan sebagai
alasan mengapa ceramah sering digunakan.
- Ceramah merupakan metode yang
’murah’ dan ’mudah’ untuk dilakukan. Murah dalam arti proses ceramah tidak
memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, berbeda dengan metode yang
lain seperti demonstrasi atau peragaan. Sedangkan mudah, memang ceramah
hanya mengandalkan suara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan
persiapan yang rumit.
- Ceramah dapat menyajikan materi
pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum
atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat.
- Ceramah dapat memberikan
pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur
pokok-pokok materi yang mana yang perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan
dan tujuan yang ingin dicapai.
- Melalui ceramah, guru dapat
mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggung
jawab guru yang memberikan ceramah.
- Organisasi kelas dengan
menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana. Ceramah tidak
memerlukan setting kelas yang beragam, atau tidak memerlukan
persiapan-persiapan yang rumit. Asal siswa dapat menempati tempat duduk
untuk mendengarkan guru, maka ceramah sudah dapat dilakukan.
Di samping beberapa kelebihan di
atas, ceramah juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
- Materi yang dapat dikuasai
siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai
guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang paling dominan, sebab apa yang
diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai
siswa pun akan tergantung pada apa yang dikuasai guru.
- Ceramah yang tidak disertai
dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme.
- Guru yang kurang memiliki
kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang
membosankan. Sering terjadi, walau pun secara fisik siswa ada di dalam
kelas, namun secara mental siswa sama sekali tidak mengikuti jalannya
proses pembelajaran; pikirannya melayang ke mana-mana, atau siswa
mengantuk, oleh karena gaya bertutur guru tidak menarik.
- Melalui ceramah, sangat sulit
untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan
atau belum. Walaupun ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, dan
tidak ada seorang pun yang bertanya, semua itu tidak menjamin siswa
seluruhnya sudah paham.
2. Langkah-langkah Menggunakan Metode Ceramah
Ada tiga langkah pokok yang harus
diperhatikan, yakni persiapan, pelaksanaan dan kesimpulan. Langkah-langkah
tersebut diantaranya adalah:
a. Tahap
Persiapan
Pada
tahap ini yang harus dilakukan adalah:
- Merumuskan tujuan yang ingin
dicapai.
- Menentukan pokok-pokok materi
yang akan diceramahkan.
- Mempersiapkan alat bantu.
b. Tahap
Pelaksanaan
Pada tahap ini ada tiga langkah yang
harus dilakukan:
1) Langkah
Pembukaan.
Langkah pembukaan dalam metode
ceramah merupakan langkah yang menentukan. Keberhasilan pelaksanaan ceramah
sangat ditentukan oleh langkah ini.
2) Langkah
Penyajian.
Tahap
penyajian adalah tahap penyampaian materi pembelajaran dengan cara bertutur. Agar
ceramah berkualitas sebagai metode pembelajaran, maka guru harus menjaga
perhatian siswa agar tetap terarah pada materi pembelajaran yang sedang
disampaikan.
3) Langkah
Mengakhiri atau Menutup Ceramah.
Ceramah
harus ditutup dengan ringkasan pokok-pokok matar agar materi pelajaran yang
sudah dipahami dan dikuasai siswa tidak terbang kembali. Ciptakanlah
kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa tetap mengingat materi pembelajaran.
Perlu diperhatikan, bahwa ceramah akan berhasil baik, bila didukung oleh metode-metode
lainnya, misalnya tanya jawab, tugas, latihan dan lainlain. Metode ceramah itu
wajar dilakukan bila: (a) ingin
mengajarkan topik baru, (b)
tidak ada sumber bahan pelajaran pada siswa, (c) menghadapi sejumlah siswa yang cukup banyak
B.
Metode Diskusi
Metode
diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu
permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu
permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa,
serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi
bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat
bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode diskusi
dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi: (1) diskusi merupakan metode yang
sulit diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar siswa muncul secara
spontan, sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentukan; (2) diskusi biasanya memerlukan waktu
yang cukup panjang, padahal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas,
sehingga keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara
tuntas. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru. Sebab, dengan
perencanaan dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari.
Dilihat
dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada perbedaan yang sangat prinsip
dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu ceramah dan demonstrasi. Kalau
metode ceramah dan demonstrasi materi pelajaran sudah diorganisir sedemikian
rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya, maka pada metode ini bahan atau
materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak disajikan secara
langsung kepada siswa, matari pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa
sendiri, karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar,
tetapi yang lebih penting adalah proses belajar.
Secara
umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran.
Pertama, diskusi kelompok. Diskusi ini dinamakan juga diskusi kelas. Pada
diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara
keseluruhan. Pengatur jalannya diskusi adalah guru. Kedua, diskusi kelompok
kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok
terdiri dari 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru
menyajikan masalah dengan beberapa submasalah. Setiap kelompok memecahkan
submasalah yang disampaikan guru. Proses diskusi diakhiri dengan laporan setiap
kelompok.
1. Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi
Ada beberapa kelebihan metode
diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
- Metode diskusi dapat merangsang
siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.
- Dapat melatih untuk membiasakan
diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
- Dapat melatih siswa untuk dapat
mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Di samping itu, diskusi
juga bisa melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
Selain beberapa kelebihan, diskusi
juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
- Sering terjadi pembicaraan
dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki
keterampilan berbicara.
- Kadang-kadang pembahasan dalam
diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.
- Memerlukan waktu yang cukup
panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan.
- Dalam diskusi sering terjadi
perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol.
Akibatnya, kadang-kadang ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat
mengganggu iklim pembelajaran.
2. Jenis-jenis Diskusi
Terdapat
bemacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran,
antara lain:
a. Diskusi
Kelas
Diskusi
kelas atau disebut juga diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang
dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Prosedur yang
digunakan dalam jenis diskusi ini adalah: (1) guru membagi tugas sebagai pelaksanaan diskusi, misalnya siapa
yang akan menjadi moderator, siapa yang menjadi penulis; (2) sumber masalah (guru, siswa, atau
ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15
menit; (3) siswa diberi
kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator; (4) sumber masalah memberi tanggapan;
dan (5) moderator menyimpulkan
hasil diskusi.
b. Diskusi
Kelompok Kecil
Diskusi
kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah
anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan
permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam
submasalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Selesai diskusi
dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.
c.
Simposium
Simposium
adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai
sudut pandang berdasarkan keahlian. Simposium dilakukan untuk memberikan
wawasan yang luas kepada siswa. Setelah para penyaji memberikan pandangannya
tentang masalah yang dibahas, maka simposium diakhiri dengan pembacaan
kesimpulan hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.
d. Diskusi
Panel
Diskusi
panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang
panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens. Diskusi panel
berbeda dengan jenis diskusi lainnya. Dalam diskusi panel audiens tidak
terlibat secara langsung, tetapi berperan hanya sekadar peninjau para panelis
yang sedang melaksanakan diskusi. Oleh sebab itu, agar diskusi panel efektif perlu
digabungkan dengan metode lain, misalnya dengan metode penugasan. Siswa disuruh
untuk merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi.
3. Langkah-langkah Melaksanakan Diskusi
Agar
penggunan diskusi berhasil dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Langkah
Persiapan
Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam persiapan diskusi di antaranya:
- Merumuskan tujuan yang ingin
dicapai, baik tujuan yang bersifat umum maupun tujuan khusus.
- Menentukan jenis diskusi yang
dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai..
- Menetapkan masalah yang akan
dibahas.
- Mempersiapkan segala sesuatu
yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan diskusi, misalnya ruang kelas
dengan segala fasilitasnya, petugas-petugas diskusi seperti moderator,
notulis, dan tim perumus, manakala diperlukan.
b.
Pelaksanaan Diskusi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam melaksanakan diskusi adalah:
- Memeriksa segala persiapan yang
dianggap dapat memengaruhi kelancaran diskusi.
- Memberikan pengarahan sebelum
dilaksanakan diskusi, misalnya menyajikan tujuan yang ingin dicapai serta
aturan-aturan diskusi sesuai dengan jenis diskusi yang akan dilaksanakan.
- Melaksanakan diskusi sesuai
dengan aturan main yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan diskusi
hendaklah memerhatikan suasana atau iklim belajar yang menyenangkan,
misalnya tidak tegang, tidak saling menyudutkan, dan lain sebagainya.
- Memberikan kesempatan yang sama
kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya.
- Mengendalikan pembicaraan
kepada pokok persoalan yang sedang dibahas. Hal ini sangat penting, sebab
tanpa pengendalian biasanya arah pembahasan menjadi melebar dan tidak
fokus.
c. Menutup
Diskusi
Akhir dari proses pembelajaran
dengan menggunakan diskusi hendaklah dilakuan hal-hal sebagai berikut:
- Membuat pokok-pokok pembahasan
sebagai kesimpulan sesuai dengan hasil diskusi.
- Me-review jalannya
diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta sebagai umpan balik
untuk perbaikan selanjutnya.
C.
Metode Demonstrasi
Demonstrasi
merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari
jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode
demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan
mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu,
baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian,
demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun
dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi
demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi
pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi
pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
1. Kelebihan dan Kelemahan Metode Demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran
demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
- Melalui metode demonstrasi
terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung
memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
- Proses pembelajaran akan lebih
menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa
yang terjadi.
- Dengan cara mengamati secara
langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori
dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi
pembelajaran.
Di samping beberapa kelebihan,
metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, di antarannya:
- Metode demonstrasi memerlukan
persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai
demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif
lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses
tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga
dapat memakan waktu yang banyak.
- Demonstrasi memerlukan peralatan,
bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini
memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
- Demonstrasi memerlukan
kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk
bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga memerlukan
kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses
pembelajaran siswa.
2. Langkah-langkah Menggunakan Metode Demonstrasi
a. Tahap
Persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa
hal yang harus dilakukan:
- Rumuskan tujuan yang harus
dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir.
- Persiapkan garis besar
langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
- Lakukan uji coba demonstrasi.
b. Tahap
Pelaksanaan
1) Langkah
pembukaan.
Sebelum demonstrasi dilakukan ada
beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:
- Aturlah tempat duduk yang
memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang
didemonstrasikan.
- Kemukakan tujuan apa yang harus
dicapai oleh siswa.
- Kemukakan tugas-tugas apa yang
harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat
hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
2) Langkah
pelaksanaan demonstrasi.
- Mulailah demonstrasi dengan
kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui
pertanyaanpertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa
untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
- Ciptakan suasana yang
menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
- Yakinkan bahwa semua siswa
mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
- Berikan kesempatan kepada siswa
untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat
dari proses demonstrasi itu.
3) Langkah
mengakhiri demonstrasi.
Apabila
demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan
memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan
demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk
meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain
memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi
bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.
D.
Metode Karyawisata
Karyawisata
dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri, berbeda dengan
karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar
kelas dalam rangka belajar.
Contoh:
Mengajak siswa ke gedung pengadilan untuk mengetahui sistem peradilan dan
proses pengadilan, selama satu jam pelajaran. Jadi, karyawisatadi atas tidak
mengambil tempat yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama.
Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut study tour. Langkah-
langkah Pokok dalam Pelaksanaan Metode Karyawisata
1. Perencanaan
Karyawisata
- Merumuskan tujuan karyawisata.
- Menetapkan objek kayawisata
sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
- Menetapkan lamanya karyawisata.
- Menyusun rencana belajar bagi
siswa selama karyawisata.
- Merencanakan perlengkapan
belajar yang harus disediakan.
2.
Pelaksanaan Karyawisata
Fase ini adalah pelaksanaan kegiatan
belajar di tempat karyawisata dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus
diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan di atas.
3. Tindak
Lanjut
Pada akhir karyawisata siswa diminta
laporannya baik lisan maupun tertulis, mengenai inti masalah yang telah
dipelajari pada waktu karyawisata.
E.
Metode Pemberian Tugas (Resitasi)
Tugas yang diberikan kepada siswa
hendaknya mempertimbangkan; tujuan yang akan dicapai, jenis tugas dan tepat,
sesuai dengan kemampuan siswa, ada petunjuk yang dapat membantu dan sediakan
waktu yang cukup.
1.
Langkah Pelaksanaan Tugas
- Diberikan bimbingan/pengawasan
oleh guru.
- Diberikan dorongan sehingga
anak mau melaksanakannya.
- Diusahakan atau dikerjakan oleh
anak sendiri.
- Mencatat semua hasil yang
diperoleh dengan baik dan sistematik.
2.
Fase Pertanggungjawaban Tugas
Hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Laporan siswa baik
lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakan.
- Ada tanya jawab dan diskusi.
- Penilaian hasil pekerjaan siswa
baik dengan tes atau nontes atau cara lainnya.
Fase
mempertanggungjawabkan tugas inilah yang disebut resitasi.
F.
Metode Eksperimen
Metode percobaan adalah pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan
atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful
Bahri Djamarah, (2000).Menurut Roestiyah (2001:80) Metode eksperimen adalah
suatu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu
hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil
pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.
Penggunaan
teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri
berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan
percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah.
Dengan eksperimn siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang
dipelajarinya.
Agar
penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut : (a) Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan
percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi
tiap siswa. (b) Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang
meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan
mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih. (c) dalam eksperimen
siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan , maka
perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian
kebenaran dari teori yang dipelajari itu. (d) Siswa dalam eksperimen adalah
sedang belajar dan berlatih , maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab
mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan, juga
kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek
eksperimen itu. (e) Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah
mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan social dan keyakinan manusia.
Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu
tidak bias diadakan percobaan karena alatnya belum ada.
Prosedur
eksperimen menurut Roestiyah (2001:81) adalah : (a) Perlu dijelaskan kepada
siswa tentang tujuan eksprimen,mereka harus memahami masalah yang akan
dibuktikan melalui eksprimen. (b) memberi penjelasan kepada siswa tentang
alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal
yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu
dicatat. (c) Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan
siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan
jalannya eksperimen. (d) Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan
hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes
atau tanya jawab.
Metode eksperimen mempunyai kelebihan sebagai berikut :
Kelebihan metode eksperimen : (a) Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya. (b) dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. (c) Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
Kelebihan metode eksperimen : (a) Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya. (b) dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. (c) Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
Kekurangan metode eksperimen :
(a) Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi. (b) metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal. (c) Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan. (d) Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada factor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian
(a) Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi. (b) metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal. (c) Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan. (d) Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada factor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian
Dalam
metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental,
serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih ketrampilan
proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pengalaman yang dialami
secara langsung dapat tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental
serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau
kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku
yang inovatif dan kreatif.Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan
mengajar siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan
fisika. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap
pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai
dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, , maupun aplikasi dalam kehidupannya. Dengan kata lain , siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, , maupun aplikasi dalam kehidupannya. Dengan kata lain , siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan.
G.
Metode Drill (latihan)
Metode
latihan pada umumnya digunakan untuk memeperoleh suatu ketangkasan atau
keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Mengingat latihan ini kurang
mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berpiki, maka hendaknya guru/pengajar
memperhatikan tingkat kewajaran dari metode Drill.
- Latihan, wajar digunakan untuk
hal-hal yang bersifat motorik, seperti menulis, permainan, pembuatan, dan
lain-lain.
- Untuk melatih kecakapan mental,
misalnya perhitungan penggunaan rumus-rumus, dan lain-lain.
- Untuk melatih hubungan,
tanggapan, seperti penggunaan bahasa, grafik, simbul peta, dan lain-lain.
Prinsip dan petunjuk menggunakan
metode Drill.
- Siswa harus diberi pengertian
yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu.
- Latihan untuk pertama kalinya
hendaknya bersifat diagnosis, mula-mula kurang berhasil, lalu diadakan
perbaikan untuk kemudian bisa lebih sempurna.
- Latihan tidak perlu lama asal
sering dilaksanakan.
- Harus disesuaikan dengan taraf
kemampuan siswa.
- Proseslatihan hendaknya
mendahulukan hal-hal yang essensial dan berguna.
H.
Metode
Problem Solving
Metode
problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode
mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem
solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data
sampai kepada menarik kesimpulan.
Langkah-langkah metode problem
solving.
- Ada masalah yang jelas untuk
dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf
kemampuannya.
- Mencari data atau keterangan
yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan
jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya dan lain-lain.
- Menetapkan jawaban sementara
dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada
data yang telah diperoleh, pada langkah kedua di atas.
- Menguji kebenaran jawaban sementara
tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah
sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut itu betul-betul cocok.
Apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai.
Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan metode-metode
lainnya seperti demonstrasi, tugas, diskusi, dan lain-lain.
- Menarik kesimpulan. Artinya
siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah
tadi.
E.
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Keterampilan
dasar mengajar (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang
bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus
dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan
tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Gilcman,1991).
Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa
keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai oleh
tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.
Dalam
mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga
pengajar, yaitu;
1) Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach)
2) Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya (how to teach)
Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.
1) Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach)
2) Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya (how to teach)
Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.
B.
Jenis-Jenis Keterampilan Dasar Mengajar
Keterampilan
dasar mengajar yang harus ada pada seorang tenaga pengajar atau pendidik dapat
dibedakan menjadi 8 jenis keterampilan. Keterampilan dasar mengajar tersebut
adalah sebagai berikut:
1.
Keterampilan Menjelaskan
a.
Pengertian keterampilan menjelaskan
Keterampilan
menjelasakan adalah suatu keterampilan menyajikan bahan belajar yang
diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga
mudah dipahami para peserta didik.
b.
Prinsip-prinsip menjelaskan
# Penjelasan harus disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik
# Penjelasan harus diselingi tanya jawab
# Materi penjelasan harus dikuasai secara baik oleh guru
# Penjelasan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran
# Materi penjelasan harus bermanfaat dan bermakna bagi peserta didik
# Dapat menjelaskan harus disertai dengan contoh-contoh yang kongkrit dan dihubungkan dengan kehidupan
# Penjelasan harus disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik
# Penjelasan harus diselingi tanya jawab
# Materi penjelasan harus dikuasai secara baik oleh guru
# Penjelasan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran
# Materi penjelasan harus bermanfaat dan bermakna bagi peserta didik
# Dapat menjelaskan harus disertai dengan contoh-contoh yang kongkrit dan dihubungkan dengan kehidupan
c. Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam menjelaskan #
Bahasa yang digunakan dalam menjelaskan harus sederhana, terang dan jelas
# Bahan yang akan diterangkan dipersiapkan dan dikuasai terlebih dahulu
# Pokok-pokok yang diterangkan harus disimpulkan
# Dalam menjelaskan serta dengan contoh dan ilustrasi
# Adakan pengecekan terhadap tingkat pemahaman peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan
# Bahan yang akan diterangkan dipersiapkan dan dikuasai terlebih dahulu
# Pokok-pokok yang diterangkan harus disimpulkan
# Dalam menjelaskan serta dengan contoh dan ilustrasi
# Adakan pengecekan terhadap tingkat pemahaman peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan
2. Keterampilan Bertanya
a. Pengertian keterampilan bertanya
Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban(respon) dari peserta didik.
Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban(respon) dari peserta didik.
b. Tujuan keterampilan bertanya :
# Memotivasi peserta didik agar terlibat dalam interaksi belajar
# Melatih kemampuan mengutarakan pendapat
# Merangsang dan meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik
# Melatih peserta didik berfikir divergen
# Mencapai tujuan belajar
# Memotivasi peserta didik agar terlibat dalam interaksi belajar
# Melatih kemampuan mengutarakan pendapat
# Merangsang dan meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik
# Melatih peserta didik berfikir divergen
# Mencapai tujuan belajar
c. Jenis-jenis pertanyaan
# Pertanyaan langsung, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu peserta didik
# Pertanyaan umum dan terbuka, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh kelas
# Pertanyaan retorik, yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban
# Pertanyaan faktual, yaitu pertanyaan untuk menggali fakta dan informasi
# Pertanyaaan yang diarahkan kembali, yaitu pertanyaan yang dikembalikan kepada peserta didik atas pertanyaan peserta didik lain
# Pertanyaan memimpin (Leading Question) yaitu pertanyaan yang jawabannya tersimpul dalam pertanyaan itu sendiri
# Pertanyaan langsung, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu peserta didik
# Pertanyaan umum dan terbuka, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh kelas
# Pertanyaan retorik, yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban
# Pertanyaan faktual, yaitu pertanyaan untuk menggali fakta dan informasi
# Pertanyaaan yang diarahkan kembali, yaitu pertanyaan yang dikembalikan kepada peserta didik atas pertanyaan peserta didik lain
# Pertanyaan memimpin (Leading Question) yaitu pertanyaan yang jawabannya tersimpul dalam pertanyaan itu sendiri
d. Prinsip-prinsip bertanya
# Pertanyaan hendaknya mengenai satu masalah saja. Berikan waktu berfikir kepada peserta didik
# Pertanyaan hendaknya singkat, jelas dan disusun dengan kata-kata yang sederhana
# Pertanyaan didistribusikan secara merata kepada para peserta didik
# Pertanyaan langsung sebaiknya diberikan secara random
# Pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan peserta didik
# Sebaiknya hindari pertanyaan retorika atau leading question
# Pertanyaan hendaknya mengenai satu masalah saja. Berikan waktu berfikir kepada peserta didik
# Pertanyaan hendaknya singkat, jelas dan disusun dengan kata-kata yang sederhana
# Pertanyaan didistribusikan secara merata kepada para peserta didik
# Pertanyaan langsung sebaiknya diberikan secara random
# Pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan peserta didik
# Sebaiknya hindari pertanyaan retorika atau leading question
e. Teknik-teknik dalam bertanya
# Tekhnik menunggu
# Tekhnik menguatkan kembali
# Tekhnik menuntun dan menggali
# Tekhnik mekacak
# Tekhnik menunggu
# Tekhnik menguatkan kembali
# Tekhnik menuntun dan menggali
# Tekhnik mekacak
3.
Keterampilan Menggunakan Variasi Stimulus
a.
Pengertian keterampilan menggunakan variasi
Keterampilan menggunakan variasi stimulus merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan dalam mengajar untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar suasana pembelajaran selalu menarik, sehingga siswa bergairah dan antusias dalam menerima pembelajaran dan aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif.
Keterampilan menggunakan variasi stimulus merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan dalam mengajar untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar suasana pembelajaran selalu menarik, sehingga siswa bergairah dan antusias dalam menerima pembelajaran dan aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif.
b.
Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar :
# menghilangkan kejemuan dalam mengikuti proses belajar
# mempertahankan kondisi optimal belajar
# meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik
# memudahkan pencapaian tujuan pengajaran
# menghilangkan kejemuan dalam mengikuti proses belajar
# mempertahankan kondisi optimal belajar
# meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik
# memudahkan pencapaian tujuan pengajaran
c.
Jenis-jenis variasi dalam mengajar
# variasi dalam penggunaan media
# variasi dalam gaya mengajar
# variasi dalam penggunaan metode
# variasi dalam pola interaksi yaitu gunakan pola interaksi multi arah
# variasi dalam penggunaan media
# variasi dalam gaya mengajar
# variasi dalam penggunaan metode
# variasi dalam pola interaksi yaitu gunakan pola interaksi multi arah
d.
Prinsip-prinsip penggunaan variasi dalam pengajaran
# gunakan variasi dengan wajar, jangan dibuat-buat
# perubahan satu jenis variasi ke variasi lainnya harus efektif
# penggunaan variasi harus direncakan dan sesuai dengan bahan, metode, dan karakteristik peserta didik
# gunakan variasi dengan wajar, jangan dibuat-buat
# perubahan satu jenis variasi ke variasi lainnya harus efektif
# penggunaan variasi harus direncakan dan sesuai dengan bahan, metode, dan karakteristik peserta didik
4.
Keterampilan Memberi Penguatan
a.
Pengertian keterampilan memberi penguatan
Memberi penguatan atau reincorcement merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain.
Memberi penguatan atau reincorcement merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain.
b.
Tujuan penggunaan keterampilan memberi penguatan :
# Menimbulkan perhatian peserta didik
# Membangkitkan motivasi belajar peserta didik
# Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi
# Merangsang peserta didik berfikir yang baik
# Mengembalikan dan mengubah sikap negatif peserta dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
# Menimbulkan perhatian peserta didik
# Membangkitkan motivasi belajar peserta didik
# Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi
# Merangsang peserta didik berfikir yang baik
# Mengembalikan dan mengubah sikap negatif peserta dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
c.
Jenis-jenis penguatan
# Penguatan Verbal
# Penguatan Gestural
# Penguatan dengan cara mendekatinya
# Penguatan dengan cara sambutan
# Penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan
# Penguatan berupa tanda atau benda
# Penguatan Verbal
# Penguatan Gestural
# Penguatan dengan cara mendekatinya
# Penguatan dengan cara sambutan
# Penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan
# Penguatan berupa tanda atau benda
d.
Prinsip-prinsip penguatan
# Dilakukan dengan hangat dan semangat
# Memberikan kesan positif kepada peserta didik
# Berdampak terhadap perilaku positif
# Dapat bersifat pribadi atau kelompok
# Hindari penggunaan respon negative
# Dilakukan dengan hangat dan semangat
# Memberikan kesan positif kepada peserta didik
# Berdampak terhadap perilaku positif
# Dapat bersifat pribadi atau kelompok
# Hindari penggunaan respon negative
5.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
a.
Pengertian Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh.
Keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam proses belajar mengajar.
Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh.
Keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam proses belajar mengajar.
b.
Tujuan membuka dan menutup pelajaran adalah :
# Untuk menimbulkan minat dan perhatian peserta didik terhadap pelajaran yang akan dibicarakan
# Menyiapkan mental para peserta didik agar siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan
# Memungkinkan peserta didik mengetahui tingkat keberhasailan dalam pelajaran
# Agar peserta didik mengetahui batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan
# Untuk menimbulkan minat dan perhatian peserta didik terhadap pelajaran yang akan dibicarakan
# Menyiapkan mental para peserta didik agar siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan
# Memungkinkan peserta didik mengetahui tingkat keberhasailan dalam pelajaran
# Agar peserta didik mengetahui batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan
c.
Prinsip-prinsip keterampilan membuka dan menutup pelajaran
# Dalam membuka pelajaran harus memberi makna kepada peserta didik, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang relevan dengan tujuan dan bahan yang akan disampaikan
# Hubungan antara pendahuluan dengan inti pengajaran serta dengan tugas-tugas yang dikerjakan sebagai tindak lanjut nampak jelas dan logis
# Menggunakan apersepsi yaitu mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkannya terhadap pengetahuan yang sudah diketahui oleh peserta didik.
# Dalam membuka pelajaran harus memberi makna kepada peserta didik, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang relevan dengan tujuan dan bahan yang akan disampaikan
# Hubungan antara pendahuluan dengan inti pengajaran serta dengan tugas-tugas yang dikerjakan sebagai tindak lanjut nampak jelas dan logis
# Menggunakan apersepsi yaitu mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkannya terhadap pengetahuan yang sudah diketahui oleh peserta didik.
6.
Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
a.
Pengertian mengajar kelompok kecil dan perorangan
Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan peserta didik dalam belajar secara kelompok dengan jumlah peserta didik berkisar antara 3 hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap kelompoknya.
Sedangkan keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan peserta didik dalam belajar secara kelompok dengan jumlah peserta didik berkisar antara 3 hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap kelompoknya.
Sedangkan keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
b.
Tujuan guru mengembangkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
# Keterampilan dalam pendekatan pribadi
# Keterampilan dalam mengorganisasi
# Keterampilan dalam membimbing belajar
# Keterampilan dalam merencakan dan melaksanakan KBM
# Keterampilan dalam pendekatan pribadi
# Keterampilan dalam mengorganisasi
# Keterampilan dalam membimbing belajar
# Keterampilan dalam merencakan dan melaksanakan KBM
7.
Keterampilan Mengelola Kelas
a. Pengertian keterampilan mengelola kelas
Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan suasana belajar mengajar yang optimal.
Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan suasana belajar mengajar yang optimal.
b. Tujuan dari pengelolaan kelas adalah :
# Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik memgembangkan kemampuannya secara optimal
# Menghilangkan berbagai hambatan dan pelanggaran disipilin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar mengajar
# Mempertahankan keadaan yang stabil dalam susana kelas, sahingga bila terjadi gangguan dalam belajar mengajar dapat dikurangi dan dihindari
# Melayani dan membimbing perbedaan individual peserta didik
# Mengatur semua perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual peserta didik dalam kelas.
# Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik memgembangkan kemampuannya secara optimal
# Menghilangkan berbagai hambatan dan pelanggaran disipilin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar mengajar
# Mempertahankan keadaan yang stabil dalam susana kelas, sahingga bila terjadi gangguan dalam belajar mengajar dapat dikurangi dan dihindari
# Melayani dan membimbing perbedaan individual peserta didik
# Mengatur semua perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual peserta didik dalam kelas.
c. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
# Keluwesan, digunakan apabila guru mendapatkan hambatan dalam perilaku peserta didik, sehingga guru dapat merubah strategi mengajarnya
# Kehangatan dan keantusiasan
# Bervariasi, gunakan variasi dalam proses belajar mengajar
# Tantangan, gunakan kata-kata, tindakan atau bahan sajian yang menantang
# Tanamkan displin diri, selalu mendorong peserta didik agar memiliki disipin diri
# Menekankan hal-hal positif, memikirkan hal positif dan menghindarkan konsentrasi pada hal negatif
# Keluwesan, digunakan apabila guru mendapatkan hambatan dalam perilaku peserta didik, sehingga guru dapat merubah strategi mengajarnya
# Kehangatan dan keantusiasan
# Bervariasi, gunakan variasi dalam proses belajar mengajar
# Tantangan, gunakan kata-kata, tindakan atau bahan sajian yang menantang
# Tanamkan displin diri, selalu mendorong peserta didik agar memiliki disipin diri
# Menekankan hal-hal positif, memikirkan hal positif dan menghindarkan konsentrasi pada hal negatif
d. Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
# Keterampilan yang bersifat preventif guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara :
# Memusatkan perhatian
# Menunjukkan sikap tanggap
# Menegur
# Membagi perhatian
# Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
# Memberi penguatan
# Keterampilan megelola kelas yang bersifat represif, guru dapat menggunakan keterampilan dengan cara :
· Pengelolaan kelompok
· Modifikasi tingkah laku
· Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
# Keterampilan yang bersifat preventif guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara :
# Memusatkan perhatian
# Menunjukkan sikap tanggap
# Menegur
# Membagi perhatian
# Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
# Memberi penguatan
# Keterampilan megelola kelas yang bersifat represif, guru dapat menggunakan keterampilan dengan cara :
· Pengelolaan kelompok
· Modifikasi tingkah laku
· Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
e. Hal-hal yang harus dihindari dalam mengembangkan
keterampilan mengelola kelas :
# Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
# Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
# Penyimpangan
# Kesenyapan
# Bertele-tele
# Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
# Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
# Penyimpangan
# Kesenyapan
# Bertele-tele
8.
Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
a. Pengertian
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip atau kelompok tertentu. Untuk itu guru memiliki peran sangat penting sebagai pembimbing agar proses diskusi dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip atau kelompok tertentu. Untuk itu guru memiliki peran sangat penting sebagai pembimbing agar proses diskusi dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Prinsip-prinsip membimbing diskusi kelompok kecil :
# Laksanakan diskusi dalam suasana yang menyenangkan
# Berikan waktu yang cukup untuk merumuskan dan menjawab permasalahan
# Rencanakan diskusi kelompok dengan sistematis
# Bimbinglah dan jadikanlah diri guru sebagai teman dalam diskusi
# Laksanakan diskusi dalam suasana yang menyenangkan
# Berikan waktu yang cukup untuk merumuskan dan menjawab permasalahan
# Rencanakan diskusi kelompok dengan sistematis
# Bimbinglah dan jadikanlah diri guru sebagai teman dalam diskusi
c. Komponen keterampilan guru dalam megembangkan pembimbingan
kelompok kecil :
# Memperjelas permasalahan
# Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
# Pemusatan perhatian
# Menganalisa pandangan peserta didik
# Meningkatkan urutan pikiran peserta didik
# Menutup diskusi
# Memperjelas permasalahan
# Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
# Pemusatan perhatian
# Menganalisa pandangan peserta didik
# Meningkatkan urutan pikiran peserta didik
# Menutup diskusi
d. Hal-hal yang harus dihindari dalam membimbing diskusi
kelompok kecil :
# Melaksanakan diskusi yang tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
# Tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada peserta didik untuk memikirkan pemecahan masalah
# Membiarkan diskusi dikuasai oleh peserta didik tertentu
# Membiarkan peserta didik mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
# Membiarkan peserta didik tidak aktif
# Tidak merumuskan hasil diskusi dan tiadak membentuk tindak lanjut
# Melaksanakan diskusi yang tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
# Tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada peserta didik untuk memikirkan pemecahan masalah
# Membiarkan diskusi dikuasai oleh peserta didik tertentu
# Membiarkan peserta didik mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
# Membiarkan peserta didik tidak aktif
# Tidak merumuskan hasil diskusi dan tiadak membentuk tindak lanjut
Comments
Post a Comment