Skip to main content

Peran Guru Dalam Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN

A.               Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan merupakan hal yang sangat penting dibicarakan disamping moral, bahkan tingkah laku & profesional sebagai pendidik. Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan di setiap upaya pendidikan, oleh sebabnya dengan adanya inovasi pendidikan khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia dihasilkan upaya pendidikan yang selalu bermuara pada faktor “Guru”. Hal ini menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan.
Sekarang ini banyak guru yang tahu dan tidak mengerti mengenai peranan dan tugasnya sebagai pendidik, karena tugas guru tindakannya sekedar menyampaikan materi kepada peserta didiknya saja, akan tetapi seorang guru harus membentuk & mengembangkan pola pikir peserta didik. Selain itu, seorang guru sangat di tuntut meningkatkan profesionalitasnya sebagai pengajar dan pendidik. Disamping itu guru juga harus menghadapi beberapa kata kunci dunia pendidikan yaitu : kompetisi, transparansi, efisiensi, dan kualitas tinggi. Kendala tersebut harus dihadapi seorang guru dengan sangat arif. Maka sangat penting bagi seorang guru untuk mengetahui dan memahami akan peran dan tugasnya sebagai seorang guru.
B.               Rumusan Masalah
a)                 Apa peranan seorang guru?
b)                Kompetensi apa yang harus di miliki seorang guru?
c)                 Apa itu guru?
d)                Dan Apa tantangan bagi seorang guru?
C.   Tujuan
a)     Mengetahui Peranan seorang guru
b)    Mengetahui Kompetensi yang harus di miliki seorang guru
c)     Menambah wawasan tentang Guru dan Tantangannya
d)    Untuk memenuhi tugas komunikasi pendidikan
BAB II PEMBAHASAN
A.Pengertian Guru
Guru menurut UU no. 14 tahun 2005 “adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”
B. Peran Guru
Para pakar pendidikan di Barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997). Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
2. Guru Sebagai Pengajar
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu : Membuat ilustrasi, Mendefinisikan, Menganalisis, Mensintesis, Bertanya, Merespon, Mendengarkan, Menciptakan kepercayaan, Memberikan pandangan yang bervariasi, Menyediakan media untuk mengkaji materi standar, Menyesuaikan metode pembelajaran, Memberikan nada perasaan. Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar.
3. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut :
  • Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.
  • Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
  • Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar.
  • Keempat, guru harus melaksanakan penilaian.
4. Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.
5. Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.
6. Guru Sebagai Pembaharu (Inovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan genearasi muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.
7. Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru : Sikap dasar, Bicara dan gaya bicara, Kebiasaan bekerja, Sikap melalui pengalaman dan kesalahan, Pakaian, Hubungan kemanusiaan, Proses berfikir, Perilaku neurotis, Selera, Keputusan, Kesehatan, Gaya hidup secara umum perilaku guru sangat mempengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri. Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
8. Guru Sebagai Pribadi
Guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani.  Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka dengan cara yang tepat disikapi sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat yang berakibat terganggunya proses pendidikan bagi peserta didik. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.
9. Guru Sebagai Peneliti
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Menyadari akan kekurangannya guru berusaha mencari apa yang belum diketahui untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Sebagai orang yang telah mengenal metodologi tentunya ia tahu pula apa yang harus dikerjakan, yakni penelitian.
10. Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.
11. Guru Sebagai Pembangkit Pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada pesarta didiknya. Mengembangkan fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
12. Guru Sebagai Pekerja Rutin
Guru bekerja dengan keterampilan dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan seringkali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.
13. Guru Sebagai Pemindah Kemah
Hidup ini selalu berubah dan guru adalah seorang pemindah kemah, yang suka memindah-mindahkan dan membantu peserta didik dalam meninggalkan hal lama menuju sesuatu yang baru yang bisa mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan serta membantu menjauhi dan meninggalkannya untuk mendapatkan cara-cara baru yang lebih sesuai. Guru harus memahami hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi peserta didiknya.
14. Guru Sebagai Pembawa Cerita
Sudah menjadi sifat manusia untuk mengenal diri dan menanyakan keberadaannya serta bagaimana berhubungan dengan keberadaannya itu. Tidak mungkin bagi manusia hanya muncul dalam lingkungannya dan berhubungan dengan lingkungan, tanpa mengetahui asal usulnya. Semua itu diperoleh melalui cerita. Guru tidak takut menjadi alat untuk menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan, karena ia tahu sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia. Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain, yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka. Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
15. Guru Sebagai Aktor
Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan, melainkan juga tentang kepribadian manusia sehingga mampu memahami respon-respon pendengarnya, dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga dapat dikontrol. Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya. Tahun demi tahun sang actor berusaha mengurangi respon bosan dan berusaha meningkatkan minat para pendengar.
16. Guru Sebagai Emansipator
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insane dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.
17. Guru Sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Penilaian harus adil dan objektif.
18. Guru Sebagai Pengawet
Salah satu tugas guru adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa depan. Sarana pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu adalah kurikulum. Guru juga harus mempunyai sikap positif terhadap apa yang akan diawetkan.
19. Guru Sebagai Kulminator
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator. Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik.
Begitu banyak peran yang harus diemban oleh seorang guru. Peran yang begitu berat dipikul di pundak guru hendaknya tidak menjadikan calon guru mundur dari tugas mulia tersebut. Peran-peran tersebut harus menjadi tantangan dan motivasi bagi calon guru. Dia harus menyadari bahwa di masyarakat harus ada yang menjalani peran guru. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh. Penuh ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran.
C. Kompetensi guru
1. Pengertian
Menurut kamus umum bahasa Indonesia (WJS. Purwadarminta) kompetensi berarti kewenangan/ kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. pengertian dasar kompetensi (competency) yakni kemampuan atau kecakapan. Artinya guru yang mampu melaksanakan untuk kerja secara professional sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Nana sudjana yang mengutip peters (introduction to teaching), mengemukakan tiga tugas dan tanggung jawab pokok seorang guru:
·         Pertama, guru sebagai pengajar:
Bertugas dan bertanggung jawab untuk mengembangkan perencanaan dan melaksanakan pembelajaran. Dalam tugas ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, disamping menguasai ilmu dan bahan yang akan diajarkan.

·         Kedua, guru sebagai pembimbing:
Memberi tekanan pada tugas memberi bantuan mengenal dan memahami dirinya serta memberi bantuan dan atau memberi layanan kepada siswa dalam mengembangkan potensi dirinya secara optimal sehingga dapat memecahkan masalah yang dihadapi.

·         Ketiga, guru sebagai administrator kelas:
Menunjuk pada hubungan kemampuan guru dalam melaksanakan tata laksana pengajaran dengan tata laksana sekolah pada umumnya.

·         Keempat, guru sebagai pengelola kelas
Dalam perannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalm mencapai tujuan. Tujuan umum pengelolaan kelas ialah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar dan mengajar agar mencapai hasil yang baik.

·         Kelima, guru sebagai mediator dan fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Guru tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan serta menguasahakan media itu dengan baik. Untuk itu guru perlu mengalami latihan-latihan praktik secara kontinyu dan sistematis, baik melalui pre-service maupun inservice training. Memilih dan menggunakan media pendidikan harus sesuai dengan tujuan, materi, metode, evaluasi, dan kemampuan guru serta minat dan kemampuan siswa.

·         Keenam, guru sebagai evaluator
Pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik. Demikian pula dalam satu kali proses belajar-menagajar guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik(feedback) terhadap proses belajar-mengajar. Umpan balik ini dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar-mengajar akan terus-menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.
2. Kompetensi guru menurut gagne dan berliner
Menurut gagne dan berliner, dikemukakan sebagai berikut:
·         Guru sebagai planner (perencana)
·         Guru sebagai pelakasana (organisaor)
·         Guru sebagai penilai (evaluator)
3. Empat hal yang harus dikuasai guru
Menurut glasser (1981) dalam Nana Sudjana (1987), mengemukakan terdapat empat hal yang harus dikuasai guru yaitu:
·         Menguasai bahan pelajaran
·         Mampu mendiagnosis tingkah laku siswa
·         Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, dan
·         Kemampuan mengukur hasil belajar siswa
4. kompetensi yang harus dikuasai guru
Sebagai pemangku jabatan professional seperti dipaparkan diatas, kalau dikelompokan maka terdapat tiga dimensi kompetensi utama, yaitu:
·         Pengetahuan
Memahami dan menguasai bidang ilmu
·         Sikap
Komitmen terhadap tugas dan tanggung jawab profesional, integritas diri, etos kerja, atusiasme, senang terhadap bidang pekerjaan yang di pangkunya. Cinta terhadap peserta didik dan mengembangkan sikap demokratis, mendorong diri untuk berkembangnya karir, serta mendorong diri untuk meningkatkan mutu diri dan mutu untuk kerja.
·         Keterampilan
Menunjuk kemampuan untuk kerja dari dua dimensi diatas yang harus ditunjuknyatakan secara sungguh-sungguh.
5. guru sebagai learning agent
Guru sebagai learing agent berkewajiban memiliki a) kualifikasi akademik yang diperoleh melalui perguruan tinggi yang teraktreditasi (S1 dan/atau D4) b) memiliki kompetensi. Sebagaimana dimaksud pada huruf b tersebut diatas, adalah: a) kompetensi pedagogik, b) kompetensi kepribadian, c) kompetensi professional dan d) kompetensi sosial.
·         Kompetensi pedagogik
Yakni kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhdadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaa pembelajaran, evaluasi hasil belajr, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

·         Kompetensi kepribadian
Yakni kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

·         Kompetensi professional
Yakni kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). Kompetensi professional mengajar berdasarkan peran guru sebagai pengelola proses pembelajaran, harus memiliki kemampuan:

1. merencanakan sistem pembelajaran: merumuskan tujuan, memilih prioritas materi yang akan diajarkan, memilihi dan menggunakan metode
2. melaksanakan sistem pembelajaran: memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat, menyajikan urutan pembelajaran secara tepat
3. mengevaluasi sistem pembelajaran: memilih dan menyusun jenis evaluasi, melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses, mengadministrasikan hasil evaluasi
4. mengembangkan sistem pembelajaran: mengoptimalkan potensi peserta didik, meningkatkan wawasan kemapuan diri sendidri, mengembangkan program pembelajaran lebih lanjut

·         Kompetensi sosial
Berdasarkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk etis. Ia harus dapat memberlakukan peserta didiknya secara wajar dan bertujuan agar tercapai optimalisasi potensi pada dirinya masing-masing peserta didik.
D.    Tantangan bagi seorang guru
a.Tantangan profesi, terdapat sub yaitu internal dan eksternal menurut Muhibbin Syah M.Ed, profesi guru itu dianggap kering, maksudnya kerja keras seorang guru membangun sumber daya manusia hanya untuk mempertahankan luapan asap mereka saja, bahkan harkat derajat seorang guru di mata masyarakat merosot hanya karena penghasilan seorang guru jauh di bawah penghasilan profesi-profesi lainnya. Kemudian persoalan eksternal yang pertama adalah krisis etika dan moral anak bangsa. Persoalan ini sesungguhnya bukan hanya permasalahan guru, namun jika dibidiknya adalah moral pelajar maka tidak ada alasan guru tidak dilibatkan. Guru sebagai pengajar dan pendidik memang tidak harus membina para murid dari segi kognitif dan psikomotoriknya, akan tetapi seorang guru sangat dituntut agar apa yang ia ajarkan di praktekkan oleh para muridnya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian tugas guru tidak terbatas pada pengajaran, akan tetapi lebih kepada pencetakan dan pengembangan karakter murid. Yang kedua, tantangan di era globalisasi. Di samping masalah besar pertama tadi guru juga harus menghadapi permasalahan di masyarakat global. Di era globalisasi ini guru sangat di tuntut untuk meningkatkan profesionalitasnya sebagai pengajar maka tidak heran pemerintah mengadakan sertififikasi guru agar profesionalitas guru terwujud.
a.



















BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan
Guru adalah pendidik profesional yang tugasnya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal,dasar, dan menengah.
Sebagai guru tentunya ada tantangan yaitu tantangan internal dan eksternal. Guru juga memiliki tanggung jawab dan peran, diantaranya sebagai fasilitator, motivator, dan lain-lain. Guru juga harus memiliki kompetensi yang harus dikuasai, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

B.     Daftar Pustaka
-Panitia latihan prajabatan, 1987, Tugas guru : manajemen kelas dan metode mengajar, Bandung : kanwil depdikbud Jabar.
-Oemar hamalik, 1981, pendidikan guru: konsep kurikulum strategi, Bandung: pustaka martianana.
-Djojonegoro, wardiman.1996. Tenaga kependidikan yang bermutudan relevan dengan pembangunan masyarakat industri dan perdagangan bebas sambutan mendikbud pada rekernas ISPI, Jakarta 17 mei.
-Moh. Surya, 1987, Suara daerah, no.201, “peranan guru dalam pengembangan kurikulum dengan pendekatan CBSA”.
-A. Suryadi,1983, Membuat siswa aktif belajar, Bandung: Bina Cipta.

Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Konsep Desain Model Pelathan Briggs

PENDAHULUAN A. Latar Belakang  Program pendidikan dan pelatihan merupakan program penting yang keberadaannya seharusnya dapat diupayakan dengan baik sehingga dapat menghasilkan peserta diklat yang berkualitas pula. Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan dari berbagai hal. Untuk dapat membantu dalam meningkatkan kualitas program diklat tersebut, maka muncul lah beberapa model-model program pendidikan dan pelatihan dari para ahli dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta karakteristik yang berbeda-beda. Model-model pembelajaran ini dihasilkan dari pemikiran para ahli yang telah meneliti dan mencoba untuk menerapkan model-model ini. Saah satu model yang dikembangkan para ahli tersebut adalah model Briggs. Model Briggs adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978: 23). Model ini lebih ditekankan pada pendidik, pelatih ataupun widyaiswara sebagai pe...