BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Desain program pelatihan adalah suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat kini khususnya di bidang pendidikan dan pelatihan. Dalam suatu pelatihan dibutuhkan adanya kegiatan yang berisi rangkaian kegiatan pelatihan aktif. Kegiatan tersebut dilakukan demi tercapainya suatu tujuan lembaga baik lembaga pendidikan maupun pelatihan. Rangkaian kegiatan pelatihan dan pendidikan dilakukan secara efektif dan efisien berdasarkan acuan model pembelajaran. Banyaknya model pembelajaran menjadikan suatu prioritas analisis kebutuhan yang harus dilakukan sebelum pelatihan dan atau pendidikan itu dilaksanakan. Seperti hal nya analisis kebutuhan lembaga yang berkaitan, tujuan dari sebuah lembaga, sasaran sumber daya manusia yang ada, sampai dengan visi dan misi yang digunakan.
Desain program pelatihan dan pendidikan berisi rancangan yang berdasar analisis kebutuhan untuk memperhatikan model desain yang digunakan dalam lembaga yang berkaitan dan diselaraskan dengan tujuan dari lembaga. Mulai dari rancangan program sampai evaluasi program. Oleh karena itu pada makalah ini akan membahas salah satu model desain pembelajaran dalam program pelatihan yakni Model Jerold E Kemp.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang di atas, dapat kami rumuskan beberapa permasalahan, yaitu :
1. Bagaimana Konsep Model Jerold E Kemp?
2. Bagaimana Prosedur Model Pengembangan Jerold E Kemp?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui Bagaimana Konsep Model Jerold E Kemp?
2. Mengetahui Bagaimana Prosedur Model Pengembangan Jerold E Kemp?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Model Jerold E Kemp
Jerold E Kemp berasal dari California State University di Sanjose. Kemp mengembangkan model desain instruksional yang paling awal bagi pendidikan. Model Kemp memberikan bimbingan kepada para siswanya untuk berpikir tentang masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini juga mengarahkan para pengembang desain instruksional untuk melihat karakteristik para siswa serta menentukan tujuan-tujuan belajar yang tepat. Selanjutnya adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah dalam kegiatan belajar mengajar serta sumber- sumber belajar yang akan digunakan. Selanjutnya, materi / isi (content) kemudian di evaluasi atas dasar tujuan-tujuan yang telah di rumuskan. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi dan revisi didasarkan atas hasil-hasil evaluasi.
Model pengembangan sistem pembelajaran ini memiliki delapan unsur rencana perancangan pembelajaran, yaitu:
1. Identifikasi masalah pembelajaran, tujuan dari tahapan ini adalah mengidentifikasi antara tujuan menurut kurikulum yang berlaku dengan fakta yang terjadi di lapangan baik yang menyangkut model, pendekatan, metode, teknik maupun strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran.
2. Menganalisis karakteristik mahasiswa, analisis terhadap kemampuan awal mahasiswa yang bertujuan menentukan jenis pembelajaran yang baik untuk digunakan.
3. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku mahasiswa.
4. Menentukan isi meteri pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan.
5. Pengembangan penilaian awal untuk menentukan latar belakang kemampuan awal mahasiswa dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik.
6. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi mahasiswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan.
7. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran.
8. Mengevaluasi pembelajaran mahasiswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan
Semua komponen diatas saling berhubungan satu dengan yang lainnya, bila adanya perubahan atau data yang bertentangan pada salah satu komponen mengakibatkan pengaruh pada komponen lainnya. Dalam lingkaran model Kemp menunjukkan kemungkinan revisi tiap komponen bila diperlukan. Revisi dilakukan dengan data pada komponen sebelumnya maupun sesudahnya. Berbeda dengan pendekatan sistem dalam pembelajaran, perencanaan desain pembelajaran ini bisa dimulai dari komponen mana saja, jadi perencanaan desain boleh dimulai dengan merencanakan pokok bahasan terlebih dahulu, atau mungkin dengan evaluasi. Komponen mama yang di dahulukan serta di prioritaskan yang dipilih bergantung kepada data apa yang sudah siap, tersedia, situasi,dan kondisi sekolah,atau bergantung pada pembuat perencanaan itu sendiri.
B. Prosedur Model Pengembangan Jerold E Kemp
Menurut Kemp (dalam, Permana, 2009:2) pengembangan perangkat merupakan suatu lingkaran yang kontinu.Tiap-tiap langkah pengembangan berhubungan langsung dengan aktivitas revisi.Pengembangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam siklus tersebut.
Pengembangan perangkat model Kemp memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapat memulai dari komponen manapun. Namun karena kurikulum yang berlaku secara nasional di Indonesia dan berorientasi pada tujuan, maka seyogyanya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan. Secara umum model pengembangan model Kemp ditunjukkan pada gambar berikut ini.
Langkah – langkah pengembangan desain pembelajaran model Kemp, terdiri dari delapan langkah, yakni :
1. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau kompetensi dasar, yaitu tujuan umum yang ingin di capai dalam mengajarkan masing- masing pokok bahasan.
2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program , serta langkah- langkah apa yang perlu diambil.
3. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur (dalam KTSP adalah indikator). Dengan demikian, siswa akan tahu apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa ia telah berhasil. Bagi guru, rumusan itu akan berguan dalam menyusun tes kemampuan /keberhasilan dan pemilihan materi/bahan belajar yang sesuai.
4. Menentukan materi/ bahan ajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) yang telah dirumuskan. Masalah yang sering kali dihadapi guru- guru adalah begitu banyakknya materi pelajaran yang harus diajarkan dengan waktu yang terbatas. Demikian juga, timbul kesulitan dalam mengorganisasikan materi/ bahan ajar yang akan disajikan kepada para siswa. Dalam hal ini diperlukan ketepatan guru dalam memilih dan memilah sumber belajar, materi, media,dan prosedur pembelajaran yang akan digunakan.
5. Menetapkan penjajagan atau tes awal (preassesment). Ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa dalam memenuhi prasyarat belajar yang dituntut untuk mengikuti program pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan demikian, guru dapat memilih materi yang diperlukan tanpa harus menyajikan yang tidak perlu, sehingga siswa tidak menjadi bosan.
6. Menentukan strategi belajar mengajar, media dan sumber belajar. Kriteria umum untuk pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) tersebut, adalah efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan, melalui suatu analisis alternatif.
7. Mengoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga.
8. Mengadakan evaluasi. Evaluasi ini sangat perlu untuk mengontroldan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu siswa, program pembelajaran, alat evaluasi (tes), dan metode/strategi yang digunakan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep desain model Jerold E Kemp ini memiliki beberapa komponen yang saling berhubungan namun tidak terikat. Dalam memulai melaksanakan perencanaan kita bisa memulai dari komponen manapun tergantung kepada data apa yang sudah kita siapkan, tersedia, atau tergantung kondisi situasi, dan kondisi sekolah, atau bergantung pada pembuat perencanaan itu sendiri. Komponen tersebut diantaranya uji awal, tujuan umum, ciri mahasiswa, isi mata pelajaran, sasaran pengajar, pelaksanaan belajar mengajar, sumber pengajaran, pelayanan penunjang, menilai hasil belajar. Apabila salahsatunya mengalami revisi maka akan merubah komponen lainnya, oleh karena ini setiap komponen dalam model ini saling berhubungan satu sama lain.
Secara umum prosedur model pengembangan dapat di urutkan sebagai berikut
1. Identifikasi masalah pembelajaran
2. Menganalisis karakteristik mahasiswa
3. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
4. Menentukan isi meteri pelajaran
5. Pengembangan penilaian awal
6. Menentukan strategi belajar-mengajar
7. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang
8. Mengevaluasi pembelajaran mahasiswa
B. Saran
Model desain Jerold E kemp menggabarkan bagaimana proses pembelajaran ataupun pelatihan berlangsung, mulai dari tahap paling awal maupun tahap paling akhir secara sistematis dan mudah dipahami. Model ini sangat bermanfaat bagi semua orang yang terlibat dalam dunia pengajaran ataupu pelatihan baik dalam memperluas pengetahuan maupun dalam penerapannya di dunia pendidikan ataupu pelatihan.
DAFTAR PUSTAKA
Habibullah, A. (2012, juni). Design Pembelajaran Model Kemp. Retrieved september 2015, from http://mtktik.blogspot.co.id/2012/06/model-desain-sistem-pembelajaran.html
Rusman. (2012). Model-Model Pembelajaran. Bandung: PT Rajagrafindo Persada.
Comments
Post a Comment