Skip to main content

Konsep Model Sistem Pembelajran Gerlach and Elly


1. Karakteristik model desain pembelajaran Gerlach dan Ely (1971) :
a. Terdapat penentuan strategi yang cocok digunakan oleh peserta didik dalam menerima materi yang disampaikan.
b. Menetapkan pemakaian teknologi pendidikan sebagai media dalam penyampaian materi.
c. Adanya upaya untuk menggambarkan secara grafis, suatu metode perencanaan yang sistem.
d. Merupakan suatu garis pedoman atau peta perjalanan yang hendaknya digunakan sebagai checklist dalam membuat sebuah rencana pembelajaran.
e. Memperlihatkan keseluruhan PBM yang baik sekalipun tidak menggambarkan perincian setiap komponen.
f. Memperlihatkan hubungan antara elemen yang satu elemen lainnya.
g. Menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan ke dalam suatu rencana kegiatan pembelajaran.

2. Karakteristik model desain pembelajaran Jerold E.Kemp
a. Kerangka dari beberapa tujuan program pembelajaran dibuat atas kompetensi dasar, dimana siswa menguasai pembelajaran merupakan sebuah harapan untuk dapat menjadi dampak dikemudian hari.
b. Menentukan tujuan dan daftar topik, dengan menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
c. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
d. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
e. Menentukan isi meteri pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
f. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
g. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan,
h. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
i. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan

3.    Prosedur Desain Sistem Pembelajaran Model Gerlach Dan Ely

Model Gerlach dan Ely adalah sebuah model pembelajaran yang cocok digunakan untuk segala kalangan termasuk untuk pendidikan tingkat tinggi, karena didalamnya terdapat penentuan strategi yang cocok digunakan oleh peserta didik dalam menerima materi yang akan disampaikan. Disamping itu, model Gerlach dan Ely menetapkan pemakaian produk teknologi pendidikan sebagai media dalam penyampaian materi.
Dalam pembelajaran model Gerlach dan Ely ada komponen-komponen yang harus dilaksnakan demi tercapainya suatu pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan Tujuan Pebelajaran ( Specification Of Objectives)
Tujuan pe,belajran merupakan suatu target yang ingin dicapai delam kegiatan pembelajaran. Dalam tujuan pembelajaran merumuskan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa pada tingkat jenjang tertentu, sehingga setelah selesai pokok bahasan tertentu siswa dapat memiliki kemapuan yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuan harus bersifat jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan oprasional agar muda diukur dan dinilai.
b. Menentukan Isi Materi Specification Of Content
Bahan / materi pada dasarnya adalah “isi/konten” dari kurikulum, yakni berupa pengalaman belajar dalam bentuk topic/subtopic dan rinciannya. Isi materi berbeda-beda menurut bidang studi, sekolah, tingkatan dan kelasnya. Namun isi materi harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
c. Penilaian kemampuan awal siswa (Assessment Of Entering Behaviors)
Kemampuan awal siswa ditentukan dengan memberikan tes awal, hal ini penting bagi guru agar dapat memberikan porsi pelajaran yang tepat, juga berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam pembelajaran atau dalam penggunaan metode pembelajaran.
d. Menentukan strategi (determination of strategy)
Dalam tahap ini pengajar harus menentukan cara yang dapat mencapai tujuan intruksional dengan sebaik-baiknya. Menurut gerlach dan ely ada du macam pendekatan, yaitu :
1)      Bentuk ekspose (expository) yang lazim dipergunakan dalam kuliah-kuliah tradisional, biasanya lebih bersifat komunikasi satu arah. Pada expository, pengajar lebih besar perananya. Siswa diharapkan bisa memproses informasi dari pengajar.
2)      Benyuk inquiry lebih mengutamakan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. Pengajar hanya menampilkan demontrasi. Siswa dianjurkan untuk mengajukan hipotesis sebanyak-banyaknya serta pertanyaan kepada guru, tetapi siswa dapat menemukan jawabannya sendiri.
e. Pengelompokakn Belajar (Organizationof Groups)
Setelah menentukan strategi, pengajar harus mulai merencanakan bagaiman kelompok belajar akan diatur. Pendekatan yang menghendaki kegiatan belajar secara mandiri dan bebas (independent study) memerlukan pengorganisasian yang berbeda dengan pendekatan yang memerlukan banyak diskusi dan partisipasi aktif siswa dalam ruang yang kecil, untuk mendengarkan ceramah dalam ruang yang luas.
f. Pembagian waktu (Allocation Of Time)
Rencana penggunaan waktu akan berbeda berdasarkan pokok permasalahan, tujuan-tujuan yang dirumuskan, ruangan yang tersedia,pola-pola administrasi serta abilitas dan minat-minat para siswa.
g. Menentukan ruangan (Allocation Of Space)
Alokasi ruang  ditentukan dengan menjawab apakah tujuan belajar dpat sipakai secara lebih efektif dengan belajar secara mandiri dan bebas, berinteraksi antar siswa atau mendengarkan penjelasan dan bertatap muka dengan pengajar. Ada tiga alternative ruangan belajar, agar proses belajar mengajar dapat terkondisikan, yaitu; ruangan kelompok besar, ruangan kelompok kecil dan ruangan untuk belajar mandiri.
h. Memilih Media (Allocation Of Resources)
Pemilihan media ditentukan menurut tanggapan siswa yang disepakati, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai stimulus rangsangan belajar siswa semata. Sebagai sumber belajar model ini yaitu; manusia dan benda nyata, media visual proyeksi, media audio, media cetak dan media display.
i. Evaluasi Hasil Belajar (Evaluation Of Permance)
Hakekat belajar adalah perubahan tingkha laku pada akhir kegiatan pembelajaran. Semua usaha kegiatan pengembangan intruksional dapat dikatakan berhasil atau tidak setelah tingkah laku akhir belajar tersebut dievaluasi. Yang dievaluasi dalam proses belajar mengajar sebenarnya bukan hanya siswa, tetapi justru system pembelajarannya.   
j. Menganalisis Umpan Balik ( Analysis Of Feedback)
Umpan balik merupakan tahap terakhir dari pengembangan system intruksional ini. Data umpan balik diperoleh dari evaluasi, tes, observasi maupun tanggapan-tanggapan tentang usaha-usaha intruksional ini menentukan apakah system, metode, maupun media yang dipakai dalam kegiatan intruksional tersebut sudah sesuai untuk tujuan yang ingin dicapai atau masih perlu disempurnakan.

4. Prosedur Desain Sistem Pembelajaran Model Jerold E. Kemp

Jerold E. kemp berasal dari California state university di sanjose. Kemp mengembangkan model desain intruksional yang paling awal bagi pendidikan. Model kemp memberikan bimbingan kepada para siswanya untuk berfikir tentang masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini juga mengarahkan para pengembang desain intruksional untuk melihat karakteristik para siswa serta menentukan tujuan-tujuan belajar yang tepat. Langkah berikutnya adalah spesifikasi isi pelajaran dan mengembangkan pretest dari tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya menetapkan strategi dan langkah-langkah dalam kegiatan belajar mengajar serta sumber-sumber belajar yang akan digunakan. Selanjutnya materi/isi (content) kemudian dievaluasi atas dasar tujuan-tujuan yang telah dirumuskan. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi dan revisi didasarkan atas hasil-hasil evaluasi.
Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar jika ditunjukkan dalam sebuah diagram. Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu:
a. 1

Aplikasi Model Pembelajaran Jerold E. Kemp
Model desain pembelajaran J. Kemp merupakan model desain pembelajaran di jenjang SD, SMP, dan SMA. Aplikasi model desain pembelajaran ini dibuat dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajara (RPP). Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru (baik yang menyusun RPP itu sendiri maupun yang bukan) diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal.  Pada sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan profesinya.
Sebagaimana rencana pembelajaran pada umumnya, rencana pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dirancang oleh guru -yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas¬yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya sehubungan topik yang akan dipelajarinya.
Dalam penerapan aplikasi model J. Kemp, diterapkan dalam sebuah RPP yang bisa dijabarkan sebagai berikut :
a.       Menentukan Tujuan Umum
Sebagaimana diketahui bahwa menuliskan tujuan pembelajaran umum (TPU) untuk pokok bahasan adalah salah satu unsur penting dalam proses perencanaan pembelajaran. Beberapa pendekatan perencanaan menghendaki atau mempersyaratkan segera dilakukannya penulisan tujuan umum tersebut setelah diketahui pokok bahasan yang akan diajarkan.ini pekerjaan sulit dan kurang disenangi dan tidak banyak orang yang dapat merinci dengan jelas berbagai tujuan umum. Bahkan ketika tujuan umum mulai ditulis, berbagai istilah berikut ini sering digunakan seperti : memahami, mempelajari, menanamkan sikap, memperoleh keterampilan, dan lain-lain. Semua istilah di atas itu tidak cocok untuk menyatakan tujuan kegiatan belajar.Penggunaan istilah di atas memang menyatakan tujuan atau maksud guru sebagai hasil belajar utama setelah mempelajari pokok bahasan yang ditentukan, namun tidak secara khusus menunjukkan kemampuan apa yang harus dicapai siswa. Jangan menyamakan pernyataan tujuan, yang ditulis secara umum untuk suatu mata diklat secara keseluruhan, dengan tujuan pembelajaran umum pembelajaran (TPU) yang ditulis untuk suatu pokok bahasan. Beberapa istilah dapat digunakan untuk tujuan umum diantaranya : menghargai, mengenali, menentukan, memahami arti, menguasai, menilai, mengerti, dan sebagainya. Jadi tujuan umum terdiri atas sebuah kata kerja yang tidak pasti, dan isi pokok bahasan yang bersifat luas.
b.      Menganalisis Karakteristik Siswa
Analisis pararel terhadap peserta didik dan konteks dimana mereka belajar, dan konteks apa tempat mereka menggunakan hasil pembelajaran. Keterampilan-keterampilan perserta didik yang ada saat ini, yang lebih disukai, dan sikap-sikap ditentukan berdasarkan karakteristik atau setting pembelajaran dan setting lingkungan tempat keterampilan diterapkan. Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini dapat berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir, minat, atau kemampuan awal.
c.       Menentukan Tujuan Pembelajaran Khusus
Mengacu kepada pengertian tujuan pembelajaran umum di atas menunjukkan kurang jelasnya apa yang diharapkan dari siswa. Kalau apa yang diharapkan tidak dibatasi dengan jelas, siswa tentu tidak akan tahu dengan pasti apa yang akan dipelajari atau kegiatan apa yang perlu dilaksanakan. Di samping itu, tanpa batasan tersebut, guru tentu akan menghadapi kesulitan dalam mengukur hasil belajar secara rinci. Kelemahan ini dapat diatasi apabila guru menuliskan dengan tepat manfaat nyata yang akan diperoleh siswa sebagai hasil belajar mereka.Manfaat ini dapat ditunjukkan dalam bentuk sesuatu yang akan diraih siswa setelah belajar. Dari sinilah lahir tujuan pembelajaran khusus (TPK.) atau sasaran pembelajaran. Dengan mengetahui apa yang diharapkan dalam bentuk tujuan pembelajaran khusus kita memperoleh manfaat antara lain :
• Siswa dapat mengatur tata cara belajar mereka dengan baik dan menyiapkan diri untuk menempuh ujian.
• Siswa memiliki rasa percaya diri dan termotivasi untuk melanjutkan kegiatan belajar berikutnya.
• Merupakan landasan bagi guru dalam memilih dan menyusun aktivitas pembelajaran dan sumber belajar, serta memilih media metode agar pembelajaran lebih efektif.
• Tujuan pembelajaran khusus merupakan acuan kerja untuk merancang alat evaluasi. Jadi tujuan pembelajaran khusus (TPK.) harus dapat menjadi dasar untuk merancang
• cara dan soal ujian yang relevan. Tujuan pembelajaran khusus dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama yakni ranah kognitif, ranah psikomotor, dan ranah afektif. Pemahaman tentang jenjang dalam tiap ranah sangat berguna ketika merencanakan satuan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk suatu mata diklat.
d.      Menentukan Materi Pembelajaran
Setelah menetapkan tujuan khusus pembelajaran, maka langkah berikutnya adalah menetapkan isi (produk) belajar atau bahan ajar.Proses pembelajaran dapat ditingkatkan apabila bahan ajar atau tata cara yang akan dipelajari tersusun dalam urutan yang bermakna. Kemudian, bahan itu harus disajikan kepada siswa dalam beberapa bagian, dimana banyak sedikitnya bagian tersebut bergantung pada urutan, kerumitan, dan tingkat kesulitannya. Susunan dan tata cara ini dapat membantu siswa menggabungkan dan memadukan pengetahuan atas proses secara pribadi. Pada tahap ini ditetapkan konsep, prinsip, azas yang mana harus dikuasai siswa. Bahan ajar yang ditetapkan itu diuraikan dalam setiap langkah pembelajaran secara sistematis.
e.       Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar
Setelah tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran khusus,dan tata urut bahan ajar telah ditetapkan oleh guru, maka muncul persoalan berikutnya yakni bagaimana memilih strategi pembelajaran. Penetapan strategi pembelajaran mengacu kepada proses penetapan struktur kegiatan pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran mesti tergambarkan tahap-tahap pengajaran, situasi belajar yang perlu dikembangkan, kegiatan guru dan siswa, dan sumber-sumber belajar. Proses menentukan struktur kegiatan belajar mengajar ini berkaitan erat dengan pemilihan penentuan model mengajar yang digunakan. Walaupun seorang guru tidak mungkin secara kaku hanya menggunakan satu model mengajar tertentu dalam suatu kegiatan pembelajaran, namun model utama yang akan digunakan kiranya dapat pula ditentukan.Dalam kegiatan pembelajaran guru dapat memilih satu atau beberapa model mengajar yang relevan sebagai strategi .
f.       Menentukan Pre-Test
Menilai hasil belajar merupakan unsur terakhir dari keempat unsur penting dalam proses perancangan pembelajaran. Untuk merancang alat penilaian hasil belajar guru perlu mengenali kembali rumusan tujuan pembelajaran khusus (TPK.). Untuk kemudian guru harus mengembangkan alat uji dan bahan untuk mengukur seberapa jauh siswa telah menguasai pengetahuan yang dipelajarinya, dapat memperagakan keterampilannya, dan menunjukkan perubahan dalam sikapnya sebagaimana yang dituntut tujuan khusus pembelajaran tersebut. Harus ada hubungan langsung antara tujuan khusus pembelajaran dengan soal dalam alat uji penilaian. Beberapa pakar bahkan menganjurkan agar segera setelah isi bahan ajar dan rincian tujuan pembelajaran khusus selesai ditulis, guru dapat langsung membuat soal ujian yang berhubungan dengan isi mata diklat tadi.
g.      Melakukan Evaluasi
Evaluasi merupakan alat yang digunakan untuk mengungkap taraf kenberhasilan pembelajaran, khususnya untuk mengukur hasil belajar siswa. Melalui evaluasi dapat diketahui efcktivitas proses pembelajaran dan tingkat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi yang baik adalah alat yang tepat (valid), dapat dipercaya (reliable) dan memadai (adequate). Pcngukuran tingkat keberhasilan siswa dapat dilakukan dengan menggunakan tes tertulis (written test), tes lisan (oral test) ataupun tes praktck (performance test). Evaluasi mcrupakan laporan (akhir) dari proses pembelajaran khususnya laporan tentang kemajuan prestasi belajar siswa. Evaluasi secara otomatis merupakan pertanggungjawaban guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran untuk mata diklat tertentu dharus menekankan pada pengajaran pengetahuan atau keterampilan namun tidak mengabaikan penekanan pada aspek afektif. Merancang RPP dengan cara bersistem diharapkan dapat mempersiapkan para siswa untuk menggunakan semua yang mungkin mereka kuasai untuk kebutuhan pribadi, sosial, atau pekerjaan dimasa datang. Apapun tujuan suatu mata diklat, proses perencanaan pelaksanaan pembelajaran membutuhkan proses berpikir secara menyeluruh. Jadi pendekatan yang dipilih seyogianya pendekatan yang memungkinkan adanya kerja sama antara siswa (dan dengan guru). Berbagai hasil penelitian yang dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar guru dengan menggunakan persiapan mengajar dengan baik, lebih efektif dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar tanpa menggunakan persiapan mengajar yang baik.

5. Komponen dalam Model Desain Sistem Pembelajaran Gerlach & Elly
Merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan pembelajaran karena model ini memperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.
Rincian komponennya adalah sebagai berikut:
a.       Merumuskan tujuan pembelajaran (Specification of Object)
Tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan harus bersifat jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan operasional agar mudah diukur dan dinilai.
Berikut petunjuk praktis merumuskan tujuan pembelajaran:
1)      Audience
2)      Behavior
3)      Condition
4)      Degree
b.      Menentukan isi materi (Specification of Content)
Bahan atau materi pada dasarnya adalah “isi” dari kurikulum yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi topik/sub topik dan rinciannya. Isi materi berbeda-beda disesuaikan menurut bidang studi, sekolah tingkatan dan kelasnya. Isi materi harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pemilihan materi haruslah spesifik agar lebih mudah membatasi ruang lingkupnya dan dapat lebih jelas dan mudah dibandingkan dan dipisahkan dengan pokok bahasan lainnya.
c.       Penilaian kemampuan awal siswa (Assesment of Entering Bahaviors)
Kemampuan awal siswa ditentukan dengan memberikan tes awal. Mengetahui kemampuan awal ini penting bagi pengajar agar dapat memberikan dosis pelajaran yang tepat; tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Tes awal dapat dilakukan dengan 2 cara:
1)      Pretest
2)      Mengumpulkan data pribadi siswa.
d.      Menentukan strategi (Determination of Strategy)
Strategi pembelajaran merupakan pendekatan yang dipakai pengajar dalam memanipulasi informasi, memilih sumber-sumber dan menentukan tugas/evaluasi dalam kegiatan balajar mengajar.
Menurut gerlach & elly ada 2 bentuk pendekatan, yaitu:
1)      Bentuk Ekspository
2)      Bentuk Inquiry
e.       Pengelompokkan belajar (Organization of Groups)
Beberapa pengelompokkan siswa diantaranya;
1)      Berdasarkan jumlah siswa
2)      Pengelompokkan campuran
3)      Gabungan beberapa kelas
4)      Sekolah dalam sekolah
5)      Taman kependidikan
f.        Pembagian waktu (Allocation of Time)
Rencana penggunaan waktu akan berbeda berdasarkan pokok permasalahan, tujuan-tujuan yang dirumuskan, ruangan yang tersedia, pola-pola administrasi serta kegunaan dan minat-minat para siswa.
g.      Menentukan ruangan (Allocation of Space)
Ada tiga alternatif ruangan belajar agar proses belajar mengajar dapat terkondisikan;
1)      Ruangan-ruangan kelompok besar
2)      Ruangan-ruangan kelompok kecil
3)      Ruangan untuk belajar mandiri
h.      Memilih media (Allocation of Resources)
Gerlach & Elly membagi media sebagai sumber belajar kedalam 5 kategori;
1)      Manusia dan benda nyata
2)      Media visual proyeksi
3)      Media audio
4)      Media cetak
5)      Media display
i.        Evaluasi hasil belajar (Evaluation of Performance)
Semua kegiatan pembelajaran dikatakan berhasil atau tidak setelah tingkah laku akhir belajar tersebut dievaluasi. Dalam tahap evaluasi, yang dilihat bukan hanya hasil belajar siswa, melainkan juga keseluruhan sistem pembelajaran.
j.        Menganalisi umpan balik (Analysis of Feed Back)
Data dari analisis umpan balik yang diperoleh dari evaluasi, tes maupun tanggapan-tanggapan tentang kegiatan pembelajaran ini menentukan apakah sistem, metode maupun media yang dipakai dalam pembelajaran tersebut sudah sesuai untuk tujuan yang dicapai atau masih perlu untuk disempurnakan. Sehingga untuk kedepannya dapat diperbaiki agar proses pembelajaran benar-benar berhasil.


6. Komponen dalam Model Desain Sistem Pembelajaran Jerold E. Kemp
Model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. kemp dkk. (2001) berbentuk lingkaran atau Cycle. Menurut mereka, model berbentuk lingkaran menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain system pembelajaran. Model desain sistem pembelajaran yang di kemukakan oleh Kemp dkk. terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
1.     Mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran yaitu menentukan tujuan pembelajaran umum dimana tujuan yang ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok bahasan.
2.    Menentukan dan menganalisis karakteristik siswa. Ananlisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui apakah latar belakang pedidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, dan langkah apa yang perlu diambil.
3.     Mengidentifikasi materi dan menganalisis komponen-komponen tugas belajar yang terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran.
4.     Menetapkan tujuan pembelajaran khusus bagi siswa. Yaitu tujuan yang spesifik, operasional dan terukur, dengan demikian siswa akan tahu apa yang akan dipelajari, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa siswa telah berasil. Dari segi guru rumusan itu dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan bahan/materi yang sesuai.
5.    Membuat sistematika penyampaian materi pelajaran secara sistematis dan logis.
6.    Merancang strategi pembelajaran. Kriteria umum untuk pemilihan strategi pembelajaran khusu tersebut: a) efisiensi, b) keefektifan, c) ekonomis, d) kepraktisan, peralatan, waktu, dan tenaga.
7.    Menetapkan metode untuk menyampaikan materi pelajaran.
8.    Mengembangkan instrument evaluasi. Yaitu untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu : a) siswa, b) program pembelajaran, c) instrumen evaluasi.
9.     Memilih sumber-sumber yang dapat mendukung aktifitas pembelajaran.

7. Kekurangan dan kelebihan Model Sistem Pembelajaran Jerold E. Kemp
Menurut Kemp, desain pembelajaran terdiri dari banyak bagian dan fungsi yang saling berhubungan dan mesti dikerjakan secara logis agar mencapai apa yang diinginkan.
Model Kemp adalah sebuah pendekatan yang mengutamakan sebuah alur yang dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan program. Alur tersebut merupakan rangkaian yang sistematis yang menghubungkan tujuan hingga tahap evaluasi.
Komponen-komponen dalam model pembelajaran Kemp ini dapat berdiri sendiri, sehingga sewaktu-waktu tiap komponennya dapat dilakukan revisi.
a. Kelebihan
1. Kerangk adari beberapa tujuan program pembelajaran dibuat atas kompetensi dasar, dimana siswa menguasai pembelajaran merupakan sebuah harapan untuk dapat menjadi dampak dikemudian hari;
2. Tujuan membantu perancang program pembelajaran untuk berpikir secara jelas dan mengatur serta mengurutkan seuatu;
3. Tujuan mengidentifikasi tipe dan meningkatkan aktivitas yang diperlukan untuk menyukseskan pembelajaran;
4. Tujuan menyediakan dasar pengevaluasian dengan pembelajaran siswa; Dalam model pembelajaran Kemp ini, disetiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi terlebih dahulu gunanya untuk menuju ketahap berikutnya. Tujuannya adalah apabila terdapat kekurangan atau kesalahan di tahap tersebut, dapat dilakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ketahap berikutnya.
b. Kelemahan
1. Hampir semua tujuan berhubungan dengan tingkat kognitif yang rendah;
2. prosedur digunakan untuk menetapkan penerapan tujuan yang baik untuk kognitif dan psikomotor namun afektif tidak demikian;
3. Membuat pembelajaran terlalu bersifat mekanik dan perorangan.
4. Model pembelajaran Kemp ini agak condong ke pembelajaran klasikal atau pembelajaran di kelas .oleh karena itu, peran guru disini mempunyai pengaruh yang besar, karena mereka dituntut dalam rangka program pengajaran, instrument evaluasi dan strategi pengajaran.
Model pembelajaran Kemp dapat digunakan di semua tingkat pendidikan, mulai dari Sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

8. Kelebihan dan kekurangan Model Sistem Pembelajran Gerlach and Elly
Gerlach dan Ely mengatakan bahwa melalui tes Enteryng Behaviors (kemampuanawal) siswa, guru akan mengetahui apa yang dibawa atau yang telah diketahui oleh siswa terhadap sesuatu pelajaran pada saat (pelajaran) dimulai. Untuk mengetahui kemampuan awal sekelompok siswa atau mahasiswa perlu diadakan tes awal (pre-test).Tes awal mempunyai fungsi atau tujuan yang berharga dan penting bagi pengembangan suatu pembelajaran.
a. Kelebihan model pengembangan desain instruksional pembelajaran Gerlach dan Ely:
1. Sangat teliti dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran
2. Cocok digunakan untuk segala kalangan
b. Kekurangan model pengembangan desain instruksional pembelajaran Gerlach dan Ely:
1. Terlalu panjangnya prosedur perancangan desain pembelajaran
2. Tidak adanya tahapan pengenalan karakteristik siswa
Sumber
http://kartinibantaali.blogspot.com/2013/05/desain-pembelajaran.html
http://christopambarita1983.blogspot.com/2013/02/model-desain-pembelajaran-terkini.html
http://ervindasabila.blogspot.com/p/v-behaviorurldefaultvml-o.html 
http://purwajismk1ktb.blogspot.com/2012/12/desain-pembelajaran-model-j-kemp.html 
http://purwajismk1ktb.blogspot.com/2012/12/desain-pembelajaran-model-j-kemp.html
http://lempong-salehaisah.blogspot.com/2011/12/model-desain-pembelajaran-di-sekolah.html
http://liskacahmilika.blogspot.com/2012/11/makalah-desain-pembelajaran_9874.html


Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Konsep Desain Model Pelathan Briggs

PENDAHULUAN A. Latar Belakang  Program pendidikan dan pelatihan merupakan program penting yang keberadaannya seharusnya dapat diupayakan dengan baik sehingga dapat menghasilkan peserta diklat yang berkualitas pula. Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan dari berbagai hal. Untuk dapat membantu dalam meningkatkan kualitas program diklat tersebut, maka muncul lah beberapa model-model program pendidikan dan pelatihan dari para ahli dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta karakteristik yang berbeda-beda. Model-model pembelajaran ini dihasilkan dari pemikiran para ahli yang telah meneliti dan mencoba untuk menerapkan model-model ini. Saah satu model yang dikembangkan para ahli tersebut adalah model Briggs. Model Briggs adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978: 23). Model ini lebih ditekankan pada pendidik, pelatih ataupun widyaiswara sebagai pe...