Skip to main content

Konsep Model Desain Sistem Pembelajaran PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional )


Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran, seorang guru terlebih dahulu membuat desain/perencanaan pembelajaran. Dalam mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), seorang guru harus menggunakan model desain yang dianggap cocok untuk dikembangkan.

Model desain pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun model-model pembelajaran yang akan dibahas yaitu : Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) dan Model Glasser.

1)      Apa itu model desain sistem pembelajaran PPSI?
2)      Bagaimana karakteristik dari model desain sistem pembelajaran PPSI?
3)      Bagaimana prosedur dari model desain sistem pembelajaran PPSI?
4)      Apa saja kegunaan serta kelebihan dari model desain sistem pembelajaran PPSI?
5)      Bagaimana prosedur dari model desain sistem pembelajaran Glasser?

Selain untuk memenuhi tugas matakuliah Desain Sistem Pembelajaran, makalah ini juga bertujuan untuk memaparkan mengenai karakteristik, prosedur, komponen-komponen, serta kegunaan dan kelebihan model-model desain sistem pembelajaran, yaitu Prosedur pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) dan Glasser. Diharapkan makalah ini dapat dijadikan referensi bacaan demi membantu mahasiswa yang mengontrak matakuliah Desain Sistem Pembelajaran.



Konsep dari PPSI ini adalah bahwa sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Munculnya model PPSI dilatarbelakangi oleh beberapa hal berikut:
1.      Pemberlakuan Kurikulum 1975, metode penyampaian adalah “Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)” untuk Pengembangan Satuan Pembelajaran (RPP).
2.      Berkembangnya paradigma “Pendidikan Sebagai Suatu Sistem” maka pembelajaran menggunakan pendekatan sistem (PPSI).
3.      Pendidik/guru masih menggunakan paradigma “Transfer of Kknowledge” belum pada pembelajaran yang profesional.
4.      Tuntutan Kurikulum 1975 yang berorientasi pada tujuan, relevansi, efesiensi, efektivitas dan kontiniuitas.
5.      Sistem semester pada Kurikulum 1975 menuntut Perencanaan Pengajaran sampai satuan materi terkecil.

PPSI digunakan sebagai pendekatan penyampaian pada Kurikulum 1975 untuk tingkat  SD,SMP,SMA dan Kurikulum 1976 untuk sekolah kejuruan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan yang jelas,sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI merujuk pada pengertian sebagai suatu sistem,yaitu sebagai kesatuan yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagai suatu sistem,pembelajaran mengandung sejumlah komponen seperti tujuan,materi,metode,alat dan evaluasi yang semuanya berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. PPSI merupakan model pembelajaran yang menerapkan suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

 Ada 5 langkah-langkah pokok dari pengembangan model PPSI ini yaitu :
1)      Merumuskan Tujuan Pembelajaran (menggunakan istilah yang operasional,berbentuk hasil belajar,berbentuk tingkah laku dan hanya ada asatu kemampuan/tujuan).
2)      Pengembangan Alat Evaluasi (menentukan jenis tes yang akan digunakan,menyusun item soal untuk setiap tujuan).
3)      Menentukan Kegiatan Bbelajar Mengajar, (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan,menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh).
4)      Merencanakan Program Kegiatan Belajar Mengajar, (merumuskan materi pelajaran,menetapkan metode yang digunakan,memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan/jadwal).
5)      Pelaksanaan, (mengadakan pretest,menyampaikan materi pelajaran,mengadakan posttest dan revisi).

Secara lebih rinci langkah-langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Langkah 1 : Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Dalam merumuskan tujuan instruksional yang dimaksud adalah tujuan pembelajaran khusus yaitu rumusan yang jelas dan operasional tentang kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa setelah engikuti suatu program pembelajaran. Kemampuan-kemampuan atau kompetensi tersebut harus dirumuskan secara spesifik dan terukur sehingga dapat diamati dan dievaluasi.

Langkah 2 : Mengembangkan  Alat Evaluasi
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan,langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat evaluasi,yaitu tes yang fungsinya untuk menilai sejauh mana siswa telah menguasai kemampuan atau kompetensi yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran khusus tersebut. Dalam model PPSI berbeda dari apa yang biasanya dilakukan,pengembangan alat evaluasi tidak dilakukan pada akhir dari kegiatan pembelajaran, tetapi pada langkah kedua sesudah tujuan pembelajaran khusus ditetapkan. Hal ini didasarkan atas prinsip yang berorientasi pada tujuan (hasil),yaitu penilaian terhadap suatu sistem pembelajaran didasarkan atas hasil yang dicapai.

Dalam mengembangkan alat evaluasi ini perlu ditentukan terlebih dahulu jenis-jenis tes dan bentuk-bentuk tes yang akan digunakan. Apakah jenis tes tertulis, lisan atu tes perbuatan. Kemudian bentuk tes yang digunakan apakah pilihan ganda, essai, benar-salah atau menjodohkan. Untuk menilai sejumlah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan,dapat digunakan satu jenis tes atau satu bentuk tes atau dua bahkan tiga jenis dan bentuk tes. Hal ini sangat bergantung pada hakikat tujuan yang akan dicapai.

Langkah 3 : Menentukan Kegiatan Belajar-Mengajar
Sesudah tujuan dan alat evaluasi ditetapkan,langkah selanjutnya adalah menetapkan kegiatan belajar-mengajar,yaitu kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam menentukan kegiatan belajar mengajar hal yang harus dilakukan adalah :
1)      Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
2)      Menetapkan mana dari sekian kegiatan belajar tersebut yang perlu ditempuh dan tidak perlu ditempuh lagi oleh siswa
3)      Menetapkan kegiatan belajar yang masih perlu dilaksanakan oleh siswa.
4)      Pada langkah ini sesudah kegiatan belajar siswa ditetapkan,perlu dirumuskan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan jenis kegiatan belajar yang telah ditetapkan.

Langkah 4 : Merencanakan Program KBM
Setelah langkah satu sampai tiga ditetapkan,selanjutnya perlu dimantapkan dalam suatu program pembelajaran. Titik tolak dalam merencanakan program kegiatan pembelajaran adalah suatu pelajaran yang diambil dari kurikulum yang telah ditetapkan jumlah jam/sks nya dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pada langkah ini kegiatan belajar mengajar yang dirancang secara sistematis sesuai dengan situasi kelas. Pendekatan dan metode pembelajaran yang akan digunakan dipilih sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi yang akan disampaikan. Termasuk dalam langkah iniadalah penyusunan proses pelaksanaan evaluasi.
Langkah 5 : Pelaksanaan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1)        Mengadakan Pretest (Tes Awal)
Tes yang diberikan kepada siswa adalah tes yang telah disusun pada langkah kedua. Fungsi tes awal ini adalah untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa,sebelum mereka mengikuti program pembelajaran yang telah disiapkan. Apabila siswa telah menguasai kemampuan yang tercantum dalam tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,maka hal itu tidak perlu diberikan lagi oleh pengajar dalam program pembelajaran yang akan diberikan.     
2)        Menyampaikan Materi Pelajaran
Pada prinsipnya penyampaian materi pelajaran harus berpegang pada rencana yang telah disusun pada langkah keempat,yaitu “Merencanakan Kegiatan Belajar Mengajar”,baik dalam materi,metode,maupun alat yang akan digunkan. Selain itu,sebelum menyampaikan materi pelajaran,hendaknya guru menjelaskan kepada siswa tujuan/kompetensi yang akan dicapai,sehingga mereka mengetahui kemampuan-kemampuan yang diharapkan setelah selesai pelajaran.
3)        Mengadakan  Posttest
Post test diberkan setelah selesai mengikuti program pembelajaran. Tes yang diberikan identik dengan yang diberikan pada tes awal, jadi bedanya terletak pada waktu dan fungsinya.
Tes awal (pretest) berfungsi untuk menilai kemampuan awal siswa mengenai materi pelajaran sebelum pembelajaran diberikan, sedangkan tes akhir (posttest) berfungsi untuk menilai kemampuan siswa mengenai penguaaan materi pelajaran setalh pembelajaran dilaksanakan. Dengan demikian,dapat diketahui seberapa jauh keberhasilan program pembelajaran yang telah dilakukan dalam rangka mencapai tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan.

Komponen-komponen yang terdapat dalam PSSI adalah sebagai berikut:
1)      Pedoman perumusan tujuan
Pedoman perumusan tujuan memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus. Perumusan tujuan khusus itu berdasarkan pada pendalaman dan analisis terhadap pokok-pokok bahasan/ subpokok bahasan yang telah digariskan untuk mencapai tujuan instruksional dan tujuan kurikuler dalam GBPP.
2)      Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian
Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian memberikan petunjuk tentang prosedur penilaian yang akan ditempuh, tentang tes awal (pre test) dan tes akhir (post test), tentang jenis tes yang akan digunakan dan tentang rumusan soal-soal tes sebagai bagian dari satuan pelajaran. Tes yang digunakan dalam PPSI disebut criterion referenced test yaitu tes yang digunakan unuk mengukur efektifitas program/ pelaksanaan pengajaran.
3)      Pedoman proses kegiatan belajar siswa
Pedoman proses kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa.
Dalam menentukan metode atau alat bantu pengajaran yang akan dipakai untuk mencapai tujuan (Tujuan Instruksional Khusus), para guru dan calon guru dituntut:
a.       Menyadari bahwa TIK dan sifat bahan adalah dasar untuk menentukan metode dan alat bantu pengajaran.
b.      Guru menguasai berbagai metode secara fungsional misalnya metode ceramah, diskusi, dll.
c.       Mempertimbangkan fasilitas yang ada.
d.      Setiap pelaksanaan metode pengajaran harus mempertimbangkan kondisi situasi murid dan berusaha untuk aktivitas belajarnya.
e.       Apakah guru tersebut benar-benar mampu melaksanakan metode beserta alat bantu pengajaran yang dipilihnya.
4)      Pedoman program kegiatan guru
Pedoman program kegiatan guru merupakan petunjuk-petunjuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan TIK. Dalam hubungan ini guru perlu:
a.       Merumuskan materi pelajaran secara terperinci
Hal ini dimaksudkan agar guru mampu menjabarkan materi pelajaran secara:
a)      jelas kegunaannya untuk mencapai TIK;
b)      sesuai dengan pengalaman murid;
c)      terjamin kebenaran ilmiahnya;
d)     mampu mengikuti perkembangan ilmu tersebut;
e)      representatif; dan
f)       berguna bagi kehidupan murid sehari-hari.
b.      Memilih metode-metode yang tepat
Guru menentukan lamanya waktu pelajaran berdasarkan keberagaman isi TIK dan tingkat kesukaran materi pelajaran. Guru juga dituntut untuk mempertimbangkan jenis metode serta alat bantu pengajaran yang dipilih.
c.       Menyusun jadwal secara terperinci.
Sebelum melangkah ke pelaksanaan, satuan pelajaran sebagai persiapan tulis lengkap harus telah selesai disusun.
5)      Pedoman pelaksanaan program
Pedoman pelaksanaan program merupakan petunjuk-petunjuk dari program yang telah disusun. Petunjuk-petunjuk itu berkenaan dengan dimulainya pelaksanaan tes awal dilanjutkan dengan penyampaian materi pelajaran sampai pada dilaksanakannya penilaian hasil belajar.
Langkah ini terdiri dari 3 macam kegiatan, ialah:
a.       Mengadakan pre-test
Tes yang kita berikan pada siswa adalah tes yang disusun pada langkah kedua. Fungsi dari pre-test ini untuk menilai sampai di mana siswa telah menguasai keterampilan yang tercantum dalam TIK.
b.      Penyampaian materi pelajaran
Guru menyampaikan materi pelajaran kepada murid/guru membimbing murid untuk mendalami dan mengusai materi pelajaran.
c.       Mengadakan evaluasi
Post-test yang telah disusun pada langkah kedua diberikan pada murid-murid setelah mereka mengikuti program pelajaran.
6)      Pedoman perbaikan atau revisi
Pedoman perbaikan atau revisi yang merupakan pengembangan program setelah selesai dilaksanakan. Perbaikan dilakukan berdasarkan umpan balik yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian akhir.


1.      Lebih tepat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat pembelajaran, bukan untuk mengembangkan sistem pembelajaran.
2.      Uraian tampak lebih lengkap dan sistematis.
3.     Dalam pengembangannya melibatkan penilaian ahli, sehingga sebelum dilakukan uji coba di lapangan perangkat pembelajaran telah dilakukan revisi berdasarkan penilaian dan saran serta masukan para ahli.

Diawal paruh kedua abad ke-20 ini mengajar masih diartikan sebagai sebuah proses pemberian bimbingan dan memajukan kemampuan pembelajar siswa yang semuanya dilakukan dengan berpusat pada siswa (Kochlar,1967:24). Mengajar harus bertitik-tolak dari kondisi siswa untuk diberi berbagai pengalaman baru guna mancapai berbagai kemajuan. Pandangan pedagogis dari ilmuwan pendidikan diawal paruh kedua abad ke-20 sudah berkembang menuju model pendidikan yang berpusat pada siswa, hanya ketrlibatan dan peran guru dalam proses pembelajaran masih sangat besar. Itulah bagian-bagian yang kemudian dikritik oleh para ilmuan pendidikan di akhir abad ke-20, agar pendidikan memberikan peluang yang sebesar-besarnya pada siswa untuk belajar. Bersamaan dengan itu pengertian mengajar juga berubah. Salah satu pengertian mengajar yang berbasis pada pandangan tersebut dikemukakan oleh Kenneth D. Moore, yang menurutnya mengajar adalah sebuah tindakan dari seseorang yang sedang mencoba untuk membantu orang lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya (Moore, 2001:5). Pandangan ini didasari oleh sebuah paradigma bahwa tingkat keberhasilan mengajar bukan pada seberapa banyak ilmu yang disampaikan guru pada siswa, dan seberapa besar guru memberi peluang pada siswa untuk belajar, tapi seberapa besar guru memfasilitasi para siswanya untuk membelajarkan para siswa, mengajar adalah memfasilitasi para siswa untuk belajar, mendorong mereka untuk mengekplorasi bahan ajar. Dengan demikian, mengajar adalah sebuah pekerjaan yang dinamis, berbasis sebuah perencanaan tapi memiliki peluang untuk berubah di tengah jalan.

Sejalan dengan pandangan di atas, Madeline Hunter mengemukakan bahwa mengajar adalah sebuah proses membuat dan melaksanakan sebuah keputusan sebelum, selama, dan sesudah proses pembelajaran (Hunter, 1994: 6). Dikatakan bahwa keputusan yang jika diambil oleh seorang guru, akan meningkatkan kemungkinan siswa untuk belajar, jika guru memutuskan dalam sebuah perencanaan mengejarnya tentang KTSP, maka siswa akan mempelajari, memahami, menghayati KTSP, serta memahami pula cara penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mampu mengimplementasikan KTSP di lapangan, bahkan mampu mengkritik kesalahan-kesalahan pelaksanaan kurikulum di lapangan dalam dalam konteks sekecil apa pun. Belajar kini dikonsepsionalisasi dengan aktivitas siswa untuk melakukan eksplorasi, kajian, pembahasan dan penyimpulan, sementara guru menjadi fasilitator dan/atau mitra bagi siswa dalam belajar. Sementara itu, siswa diharapkan mampu mengorganisasikan perilaku belajarnya dalam proses yang dirancang oleh gurunya.

Dengan memperbesar peluang pada siswa untuk terlibat dalam penetapan proses pembelajaran, maka perencanaan strategi pembelajaran yang sudah dirancang sebelum proses pembelajaran tersebut dimulai, tidak menjadi jaminan sebagai sebuah perencanaan yang fixed, karena akan sangat dipengaruhi oleh berbagai variabel yang terjadi di lapangan. Oleh sebab itu, Hunt dan Moore mendorong konsep reflective teaching dari Donald Cruickschank, yang mengangkat teori bahwa guru harus merancang strategi sebelum dan dalam proses pembelajaran. Rancangan strategi sebelum proses pembelajaran harus memerhatikan pengalaman-pengalaman interaksi guru dengan siswa dalam pelajaran yang sama, kelas yang sama, dan jam yang sama. Sedangkan rancangan dalam proses pembelajaran harus memerhatikan kondisi aktual dan kenyataan  riil dari siswa saat proses pembelajaran itu berjalan. Strategi harus disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan siswa yang sangat dipengaruhi oleh tingkat penguasaan bahan ajar, emosi, citra diri, dan harga diri yang selalu ingin dijunjung tinggi (Moore, 2001:5, and Hunt, 1999: 6).

Interacting learning sebagaimana digambarkan di atas, akhirnya akan memberi stimulus bagi guru untuk merefleksikan berbagai pengelamannya dengan siswa untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran ke depan dengan memperbaiki berbagai perencanaannya. Demikian pula dengan siswa, mereka dapat melakukan refleksi tentang berbagai pengelaman yang diperolehnya melalui proses pembelajaran dengan guru dan teman sebayanya. Reflective teaching kemudian menjadi bagian dari proses peningkatan kualitas desain pembelajaran dari guru, yang juga diimbangi dengan proses reflective thinking bagi siswa, sebagaimana dikembangkan Dewey di awal abad ke-20, sehingga kualitas proses pembelajaran akan meningkat, yang secara otomatis akan meningkatkan pula kualitas hasil belajar siswa.

Model desain pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun model pembelajaran yang akan dipaparkan adalah Model Glasser. Model Glasser adalah model yang paling sederhana.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan desain pembelajaran Model Glasser adalah sebagai berikut.
1)      Instructional Goal (Sistem Objektif)
Menentukan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa pada akhir suatu pembelajaran. Pembelajaran dilakukan dengan cara langsung melihat atau menggunakan objek sesuai dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran. Jadi, seorang siswa diharapkan langsung bersentuhan dengan objek pelajaran. Dalam hal ini siswa lebih ditekankan pada praktik.
2)      Entering Behavior (sistm Input)
Mengelola situasi permulaan dalam sebuah pembelajaran. Pelajaran yang diberikan pada siswa dapat diperlihatkan dalam bentuk tingkah laku, misalnya siswa terjun langsungke lapangan.
3)      Instructional Procedures (Sistem Operator)
Menentukan strategi yang digunakan agar tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai, yaitu dengan membuat prosedur pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
4)      Performance Assessment (Output Monitor)
Memutuskan cara dan alat yang tepat untuk menetukan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pembelajaran diharapkan dapat mengubah penampilan atau perilaku siswa secara tetap atau perilaku siswa yang menetap.



Model desain sistem pembelajaran PPSI (Prosedur Pembelajaran Sistem Instruksional) merupakan model desain sistem pembelajaran yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.  Ada pun 5 langkah-langkah pokok dari pengembangan model PPSI ini yaitu :
1)      Merumuskan Tujuan Pembelajaran
2)      Pengembangan Alat Evaluasi
3)      Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar
4)      Merencanakan Program Kegiatan Belajar Mengajar
5)      Pelaksanaan
Model desain sistem pembelajaran Glasser merupakan model desain sistem pembelajaran yang dapat merefleksikan pengalaman siswa ke dalam proses pembelajaran.Langkah-langkahnya adalah:
1)      Instructional Goal (Sistem Objektif)
2)      Entering Behavior (sistm Input)
3)      Instructional Procedures (Sistem Operator)
4)      Performance Assessment (Output Monitor)




Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Konsep Desain Model Pelathan Briggs

PENDAHULUAN A. Latar Belakang  Program pendidikan dan pelatihan merupakan program penting yang keberadaannya seharusnya dapat diupayakan dengan baik sehingga dapat menghasilkan peserta diklat yang berkualitas pula. Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan dari berbagai hal. Untuk dapat membantu dalam meningkatkan kualitas program diklat tersebut, maka muncul lah beberapa model-model program pendidikan dan pelatihan dari para ahli dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta karakteristik yang berbeda-beda. Model-model pembelajaran ini dihasilkan dari pemikiran para ahli yang telah meneliti dan mencoba untuk menerapkan model-model ini. Saah satu model yang dikembangkan para ahli tersebut adalah model Briggs. Model Briggs adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978: 23). Model ini lebih ditekankan pada pendidik, pelatih ataupun widyaiswara sebagai pe...