Sebelum
melakukan kegiatan pembelajaran,
seorang guru terlebih
dahulu membuat
desain/perencanaan pembelajaran. Dalam mengembangkan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), seorang
guru harus menggunakan model desain yang dianggap cocok untuk dikembangkan.
Model desain
pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang
dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun model-model
pembelajaran yang akan dibahas yaitu : Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional) dan Model Glasser.
1) Apa itu model desain sistem pembelajaran PPSI?
2) Bagaimana karakteristik dari model desain sistem
pembelajaran PPSI?
3) Bagaimana prosedur dari model desain sistem pembelajaran
PPSI?
4) Apa saja kegunaan serta kelebihan dari model desain
sistem pembelajaran PPSI?
5) Bagaimana prosedur dari model desain sistem pembelajaran
Glasser?
Selain untuk
memenuhi tugas matakuliah Desain Sistem Pembelajaran, makalah ini juga
bertujuan untuk memaparkan mengenai karakteristik, prosedur, komponen-komponen,
serta kegunaan dan kelebihan model-model desain sistem pembelajaran, yaitu
Prosedur pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) dan Glasser. Diharapkan
makalah ini dapat dijadikan referensi bacaan demi membantu mahasiswa yang mengontrak
matakuliah Desain Sistem Pembelajaran.
Konsep
dari PPSI ini adalah bahwa sistem instruksional yang menggunakan pendekatan
sistem, yaitu
satu kesatuan yang terorganisasi, yang
terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam
rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi PPSI adalah untuk
mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemik
dan sistematis, untuk
dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar
mengajar.
Munculnya
model PPSI dilatarbelakangi oleh beberapa hal berikut:
1. Pemberlakuan
Kurikulum 1975, metode
penyampaian adalah “Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)” untuk
Pengembangan Satuan Pembelajaran (RPP).
2. Berkembangnya
paradigma “Pendidikan Sebagai Suatu Sistem” maka pembelajaran menggunakan pendekatan
sistem (PPSI).
3. Pendidik/guru
masih menggunakan paradigma “Transfer of Kknowledge” belum pada pembelajaran yang
profesional.
4. Tuntutan
Kurikulum 1975 yang berorientasi pada tujuan, relevansi, efesiensi, efektivitas dan
kontiniuitas.
5. Sistem
semester pada Kurikulum 1975 menuntut Perencanaan Pengajaran sampai satuan
materi terkecil.
PPSI digunakan
sebagai pendekatan penyampaian pada Kurikulum 1975 untuk tingkat SD,SMP,SMA dan Kurikulum 1976 untuk sekolah
kejuruan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan
yang jelas,sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI merujuk pada pengertian sebagai
suatu sistem,yaitu sebagai kesatuan yang terorganisasi yang terdiri atas
sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka
mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagai suatu sistem,pembelajaran mengandung
sejumlah komponen seperti tujuan,materi,metode,alat dan evaluasi yang semuanya
berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan. PPSI merupakan model pembelajaran yang menerapkan suatu
sistem untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
1.1. Prosedur Model PPSI
Ada 5
langkah-langkah pokok dari pengembangan model PPSI ini yaitu :
1) Merumuskan
Tujuan Pembelajaran (menggunakan istilah yang operasional,berbentuk hasil
belajar,berbentuk tingkah laku dan hanya ada asatu kemampuan/tujuan).
2) Pengembangan
Alat Evaluasi (menentukan jenis tes yang akan digunakan,menyusun item soal
untuk setiap tujuan).
3) Menentukan
Kegiatan Bbelajar Mengajar, (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan,menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh).
4) Merencanakan
Program Kegiatan Belajar Mengajar, (merumuskan materi pelajaran,menetapkan
metode yang digunakan,memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun
program kegiatan/jadwal).
5) Pelaksanaan,
(mengadakan pretest,menyampaikan materi pelajaran,mengadakan posttest dan
revisi).
Secara lebih
rinci langkah-langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Langkah
1 : Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Dalam merumuskan
tujuan instruksional yang dimaksud adalah tujuan pembelajaran khusus yaitu rumusan
yang jelas dan operasional tentang kemampuan atau kompetensi yang diharapkan
dimiliki siswa setelah engikuti suatu program pembelajaran. Kemampuan-kemampuan
atau kompetensi tersebut harus dirumuskan secara spesifik dan terukur sehingga
dapat diamati dan dievaluasi.
Langkah
2 : Mengembangkan Alat Evaluasi
Setelah tujuan
pembelajaran dirumuskan,langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat
evaluasi,yaitu tes yang fungsinya untuk menilai sejauh mana siswa telah
menguasai kemampuan atau kompetensi yang telah dirumuskan dalam tujuan
pembelajaran khusus tersebut. Dalam model PPSI berbeda dari apa yang biasanya
dilakukan,pengembangan alat evaluasi tidak dilakukan pada akhir dari kegiatan
pembelajaran, tetapi
pada langkah kedua sesudah tujuan pembelajaran khusus ditetapkan. Hal ini
didasarkan atas prinsip yang berorientasi pada tujuan (hasil),yaitu penilaian
terhadap suatu sistem pembelajaran didasarkan atas hasil yang dicapai.
Dalam
mengembangkan alat evaluasi ini perlu ditentukan terlebih dahulu jenis-jenis
tes dan bentuk-bentuk tes yang akan digunakan. Apakah jenis tes tertulis, lisan atu tes
perbuatan. Kemudian bentuk tes yang digunakan apakah pilihan ganda, essai, benar-salah atau
menjodohkan. Untuk menilai sejumlah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan,dapat
digunakan satu jenis tes atau satu bentuk tes atau dua bahkan tiga jenis dan
bentuk tes. Hal ini sangat bergantung pada hakikat tujuan yang akan dicapai.
Langkah
3 : Menentukan Kegiatan Belajar-Mengajar
Sesudah tujuan
dan alat evaluasi ditetapkan,langkah selanjutnya adalah menetapkan kegiatan
belajar-mengajar,yaitu kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dalam menentukan kegiatan belajar mengajar hal yang harus
dilakukan adalah :
1) Merumuskan
semua kemungkinan kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
2) Menetapkan
mana dari sekian kegiatan belajar tersebut yang perlu ditempuh dan tidak perlu
ditempuh lagi oleh siswa
3) Menetapkan
kegiatan belajar yang masih perlu dilaksanakan oleh siswa.
4) Pada
langkah ini sesudah kegiatan belajar siswa ditetapkan,perlu dirumuskan
pokok-pokok materi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan
jenis kegiatan belajar yang telah ditetapkan.
Langkah
4 : Merencanakan Program KBM
Setelah langkah
satu sampai tiga ditetapkan,selanjutnya perlu dimantapkan dalam suatu program
pembelajaran. Titik tolak dalam merencanakan program kegiatan pembelajaran
adalah suatu pelajaran yang diambil dari kurikulum yang telah ditetapkan jumlah
jam/sks nya dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pada langkah ini
kegiatan belajar mengajar yang dirancang secara sistematis sesuai dengan
situasi kelas. Pendekatan dan metode pembelajaran yang akan digunakan dipilih
sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi yang akan disampaikan. Termasuk
dalam langkah iniadalah penyusunan proses pelaksanaan evaluasi.
Langkah
5 : Pelaksanaan
Langkah-langkah
yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1)
Mengadakan Pretest (Tes Awal)
Tes
yang diberikan kepada siswa adalah tes yang telah disusun pada langkah kedua.
Fungsi tes awal ini adalah untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal
siswa,sebelum mereka mengikuti program pembelajaran yang telah disiapkan.
Apabila siswa telah menguasai kemampuan yang tercantum dalam tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai,maka hal itu tidak perlu diberikan lagi oleh
pengajar dalam program pembelajaran yang akan diberikan.
2)
Menyampaikan Materi
Pelajaran
Pada prinsipnya
penyampaian materi pelajaran harus berpegang pada rencana yang telah disusun
pada langkah keempat,yaitu “Merencanakan Kegiatan Belajar Mengajar”,baik dalam
materi,metode,maupun alat yang akan digunkan. Selain itu,sebelum menyampaikan
materi pelajaran,hendaknya guru menjelaskan kepada siswa tujuan/kompetensi yang
akan dicapai,sehingga mereka mengetahui kemampuan-kemampuan yang diharapkan
setelah selesai pelajaran.
3)
Mengadakan Posttest
Post test
diberkan setelah selesai mengikuti program pembelajaran. Tes yang diberikan identik dengan yang
diberikan pada tes awal, jadi
bedanya terletak pada waktu dan fungsinya.
Tes awal
(pretest) berfungsi untuk menilai kemampuan awal siswa mengenai materi
pelajaran sebelum pembelajaran diberikan, sedangkan tes akhir
(posttest) berfungsi untuk menilai kemampuan siswa mengenai penguaaan materi
pelajaran setalh pembelajaran dilaksanakan. Dengan demikian,dapat diketahui
seberapa jauh keberhasilan program pembelajaran yang telah dilakukan dalam
rangka mencapai tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan.
Komponen-komponen
yang terdapat dalam PSSI adalah sebagai berikut:
1)
Pedoman perumusan
tujuan
Pedoman
perumusan tujuan memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan
khusus. Perumusan tujuan khusus itu berdasarkan pada pendalaman dan analisis
terhadap pokok-pokok bahasan/ subpokok bahasan yang telah digariskan untuk
mencapai tujuan instruksional dan tujuan kurikuler dalam GBPP.
2)
Pedoman prosedur
pengembangan alat penilaian
Pedoman prosedur
pengembangan alat penilaian memberikan petunjuk tentang prosedur penilaian yang
akan ditempuh, tentang tes awal (pre test) dan tes akhir (post test), tentang
jenis tes yang akan digunakan dan tentang rumusan soal-soal tes sebagai bagian
dari satuan pelajaran. Tes yang digunakan dalam PPSI disebut criterion
referenced test yaitu tes yang digunakan unuk mengukur efektifitas program/
pelaksanaan pengajaran.
3)
Pedoman proses kegiatan
belajar siswa
Pedoman proses
kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan
langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus
dikuasai dan tujuan khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa.
Dalam menentukan
metode atau alat bantu pengajaran yang akan dipakai untuk mencapai tujuan (Tujuan Instruksional Khusus), para guru dan calon
guru dituntut:
a.
Menyadari bahwa TIK dan
sifat bahan adalah dasar untuk menentukan metode dan alat bantu pengajaran.
b.
Guru menguasai berbagai
metode secara fungsional misalnya metode ceramah, diskusi, dll.
c.
Mempertimbangkan
fasilitas yang ada.
d.
Setiap pelaksanaan metode
pengajaran harus mempertimbangkan kondisi situasi murid dan berusaha untuk
aktivitas belajarnya.
e.
Apakah guru tersebut
benar-benar mampu melaksanakan metode beserta alat bantu pengajaran yang
dipilihnya.
4)
Pedoman program
kegiatan guru
Pedoman program
kegiatan guru merupakan petunjuk-petunjuk bagi guru untuk merencanakan program
kegiatan bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan
TIK. Dalam hubungan ini guru perlu:
a.
Merumuskan materi
pelajaran secara terperinci
Hal ini dimaksudkan
agar guru mampu menjabarkan materi pelajaran secara:
a)
jelas kegunaannya untuk
mencapai TIK;
b)
sesuai dengan
pengalaman murid;
c)
terjamin kebenaran
ilmiahnya;
d)
mampu mengikuti
perkembangan ilmu tersebut;
e)
representatif; dan
f)
berguna bagi kehidupan
murid sehari-hari.
b.
Memilih metode-metode
yang tepat
Guru menentukan
lamanya waktu pelajaran berdasarkan keberagaman isi TIK dan tingkat kesukaran
materi pelajaran. Guru juga dituntut untuk mempertimbangkan jenis metode serta
alat bantu pengajaran yang dipilih.
c.
Menyusun jadwal secara
terperinci.
Sebelum
melangkah ke pelaksanaan, satuan pelajaran sebagai persiapan tulis lengkap
harus telah selesai disusun.
5) Pedoman
pelaksanaan program
Pedoman
pelaksanaan program merupakan petunjuk-petunjuk dari program yang telah
disusun. Petunjuk-petunjuk itu berkenaan dengan dimulainya pelaksanaan tes awal
dilanjutkan dengan penyampaian materi pelajaran sampai pada dilaksanakannya
penilaian hasil belajar.
Langkah ini
terdiri dari 3 macam kegiatan, ialah:
a. Mengadakan
pre-test
Tes yang kita berikan
pada siswa adalah tes yang disusun pada langkah kedua. Fungsi dari pre-test ini
untuk menilai sampai di mana siswa telah menguasai keterampilan yang tercantum
dalam TIK.
b. Penyampaian
materi pelajaran
Guru
menyampaikan materi pelajaran kepada murid/guru membimbing murid untuk
mendalami dan mengusai materi pelajaran.
c. Mengadakan
evaluasi
Post-test yang
telah disusun pada langkah kedua diberikan pada murid-murid setelah mereka
mengikuti program pelajaran.
6) Pedoman
perbaikan atau revisi
Pedoman
perbaikan atau revisi yang merupakan pengembangan program setelah selesai
dilaksanakan. Perbaikan dilakukan berdasarkan umpan balik yang diperoleh
berdasarkan hasil penilaian akhir.
1.
Lebih tepat
digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat pembelajaran, bukan untuk
mengembangkan sistem pembelajaran.
2.
Uraian tampak lebih
lengkap dan sistematis.
3.
Dalam
pengembangannya melibatkan penilaian ahli, sehingga sebelum dilakukan uji coba
di lapangan perangkat pembelajaran telah dilakukan revisi berdasarkan penilaian
dan saran serta masukan para ahli.
Diawal paruh
kedua abad ke-20 ini mengajar masih diartikan sebagai sebuah proses pemberian
bimbingan dan memajukan kemampuan pembelajar siswa yang semuanya dilakukan
dengan berpusat pada siswa (Kochlar,1967:24). Mengajar harus bertitik-tolak
dari kondisi siswa untuk diberi berbagai pengalaman baru guna mancapai berbagai
kemajuan. Pandangan pedagogis dari ilmuwan pendidikan diawal paruh kedua abad
ke-20 sudah berkembang menuju model pendidikan yang berpusat pada siswa, hanya ketrlibatan dan
peran guru dalam proses pembelajaran masih sangat besar. Itulah bagian-bagian
yang kemudian dikritik oleh para ilmuan pendidikan di akhir abad ke-20, agar
pendidikan memberikan peluang
yang sebesar-besarnya pada siswa untuk belajar. Bersamaan dengan itu pengertian
mengajar juga berubah. Salah satu pengertian mengajar yang berbasis pada
pandangan tersebut dikemukakan oleh Kenneth D. Moore, yang menurutnya mengajar
adalah sebuah tindakan dari seseorang yang sedang mencoba untuk membantu orang
lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan
potensinya (Moore, 2001:5). Pandangan ini didasari oleh sebuah paradigma bahwa
tingkat keberhasilan mengajar bukan pada seberapa banyak ilmu yang disampaikan
guru pada siswa, dan seberapa besar guru memberi peluang pada siswa untuk
belajar, tapi seberapa besar guru memfasilitasi para siswanya untuk
membelajarkan para siswa, mengajar adalah memfasilitasi para siswa untuk
belajar, mendorong mereka untuk mengekplorasi bahan ajar. Dengan demikian,
mengajar adalah sebuah pekerjaan yang dinamis, berbasis sebuah perencanaan tapi
memiliki peluang untuk berubah di tengah jalan.
Sejalan dengan
pandangan di atas, Madeline Hunter mengemukakan bahwa mengajar adalah sebuah proses
membuat dan melaksanakan sebuah keputusan sebelum, selama, dan sesudah proses
pembelajaran (Hunter, 1994: 6). Dikatakan bahwa keputusan yang jika diambil
oleh seorang guru, akan meningkatkan kemungkinan siswa untuk belajar, jika guru
memutuskan dalam sebuah perencanaan mengejarnya tentang KTSP, maka siswa akan
mempelajari, memahami, menghayati KTSP, serta memahami pula cara penyusunan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mampu mengimplementasikan KTSP di
lapangan, bahkan mampu mengkritik kesalahan-kesalahan pelaksanaan kurikulum di
lapangan dalam dalam konteks sekecil apa pun. Belajar kini dikonsepsionalisasi
dengan aktivitas siswa untuk melakukan eksplorasi, kajian, pembahasan dan
penyimpulan, sementara guru menjadi fasilitator dan/atau mitra bagi siswa dalam
belajar. Sementara itu, siswa diharapkan mampu mengorganisasikan perilaku
belajarnya dalam proses yang dirancang oleh gurunya.
Dengan
memperbesar peluang pada siswa untuk terlibat dalam penetapan proses
pembelajaran, maka perencanaan strategi pembelajaran yang sudah dirancang
sebelum proses pembelajaran tersebut dimulai, tidak menjadi jaminan sebagai
sebuah perencanaan yang fixed, karena
akan sangat dipengaruhi oleh berbagai variabel yang terjadi di lapangan. Oleh
sebab itu, Hunt dan Moore mendorong konsep reflective
teaching dari Donald Cruickschank, yang mengangkat teori bahwa guru harus
merancang strategi sebelum dan dalam proses pembelajaran. Rancangan strategi sebelum
proses pembelajaran harus memerhatikan pengalaman-pengalaman interaksi guru
dengan siswa dalam pelajaran yang sama, kelas yang sama, dan jam yang sama.
Sedangkan rancangan dalam proses pembelajaran harus memerhatikan kondisi aktual
dan kenyataan riil dari siswa saat
proses pembelajaran itu berjalan. Strategi harus disesuaikan dengan
kebutuhan-kebutuhan siswa yang sangat dipengaruhi oleh tingkat penguasaan bahan
ajar, emosi, citra diri, dan harga diri yang selalu ingin dijunjung tinggi
(Moore, 2001:5, and Hunt, 1999: 6).
Interacting
learning sebagaimana digambarkan di atas, akhirnya akan memberi stimulus
bagi guru untuk merefleksikan berbagai pengelamannya dengan siswa untuk
peningkatan kualitas proses pembelajaran ke depan dengan memperbaiki berbagai
perencanaannya. Demikian pula dengan siswa, mereka dapat melakukan refleksi
tentang berbagai pengelaman yang diperolehnya melalui proses pembelajaran
dengan guru dan teman sebayanya. Reflective
teaching kemudian menjadi bagian dari proses peningkatan kualitas desain
pembelajaran dari guru, yang juga diimbangi dengan proses reflective thinking bagi siswa, sebagaimana dikembangkan Dewey di
awal abad ke-20, sehingga kualitas proses pembelajaran akan meningkat, yang
secara otomatis akan meningkatkan pula kualitas hasil belajar siswa.
Model desain
pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang
dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun model pembelajaran
yang akan dipaparkan adalah Model Glasser. Model Glasser adalah model yang
paling sederhana.
Langkah-langkah
yang harus ditempuh dalam mengembangkan desain pembelajaran Model Glasser
adalah sebagai berikut.
1) Instructional Goal (Sistem
Objektif)
Menentukan
tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa pada akhir
suatu pembelajaran.
Pembelajaran dilakukan dengan cara langsung melihat atau
menggunakan objek sesuai dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran. Jadi,
seorang siswa diharapkan langsung bersentuhan dengan objek pelajaran.
Dalam hal ini siswa lebih ditekankan pada praktik.
2) Entering Behavior (sistm
Input)
Mengelola
situasi permulaan dalam sebuah pembelajaran. Pelajaran
yang diberikan pada siswa dapat diperlihatkan dalam bentuk tingkah laku,
misalnya siswa terjun langsungke lapangan.
3) Instructional
Procedures (Sistem Operator)
Menentukan
strategi yang digunakan agar tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan dapat dicapai, yaitu dengan membuat
prosedur pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi
pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
4) Performance Assessment (Output
Monitor)
Memutuskan cara dan
alat yang tepat untuk menetukan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Pembelajaran
diharapkan dapat mengubah penampilan atau perilaku siswa secara tetap atau
perilaku siswa yang
menetap.
Model desain sistem pembelajaran PPSI (Prosedur
Pembelajaran Sistem Instruksional) merupakan model desain sistem pembelajaran
yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi,
yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya
dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
Ada pun 5 langkah-langkah pokok dari pengembangan model PPSI ini yaitu :
1)
Merumuskan Tujuan
Pembelajaran
2)
Pengembangan Alat
Evaluasi
3)
Menentukan Kegiatan
Belajar Mengajar
4) Merencanakan
Program Kegiatan Belajar Mengajar
5) Pelaksanaan
Model desain sistem pembelajaran Glasser merupakan model
desain sistem pembelajaran yang dapat merefleksikan pengalaman siswa ke dalam
proses pembelajaran.Langkah-langkahnya adalah:
1) Instructional Goal (Sistem
Objektif)
2) Entering Behavior (sistm
Input)
3) Instructional
Procedures (Sistem Operator)
4) Performance Assessment (Output
Monitor)
Comments
Post a Comment