Skip to main content

Konsep dan Pengertian Pembelajaran Emosional

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsepsi Pembelajaran
Konsepsi di ambil dari kata Konsep yang merupakan suatu kesatuan pengertian tentang suatu hal atau persoalan yang dirumuskan. Menurut Undang – Undang, Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
2.2 Sistem Pembelajaran
Barbara Given (2002) mengembangkan pendekatan gaya pembelajaran yang komprehensif dengan memasukkan lima sistem pembelajaran. Yakni:
1.      Emosi
2.      Sosial
3.      Kognisi
4.      Fisik
5.      Refleksi
Sistem pembelajaran menurut Given dipandu oleh faktor genetik, tetapi lingkungan rnenentukan respons orang terhadap situasi pembelajaran yang berbeda-beda. Karena itu, kuncinya adalah saling berkaitnya antara pengaruh sistem pembelajaran individu dan lingkungan individu. lmplikasi sistem pembelajaran Giyen pada bidang pendidikan ditunjukkan di bawah ini:
1.      Emosi → pengarahan diri
Sistem Pembelajaran Emosional otak menentukan individualitas seseorang dan menata kehidupan baginya untuk berinteraksi dengan orang lain, belajar, berperilaku, dan mencerminkan keadaannya (Barbara, 2007:79). Emosi tidak hanya berpengaruh pada kemampuan kognitif seseorang, lebih dari itu emosi juga berperngaruh pada keberhasilan bahkan kesehatan seseorang seperti yang diungkapkan oleh Candace Part (1993), bahwa emosi menghubungkan tubuh dengan otak dan menyediakan energi untuk memacu prestasi akademik, juga kesehatan dan keberhasilan seseorang. Jeak Panskepp (1998) percaya bahwa sistem nilai emosional merupakan fondasi yang kuat sehingga jika diancurkan, perangkat kognitif bisa runtuh.
Pengarahan diri merupakan faktor penting dalam pembelajaran efektif. Pembelajar harus yakin pada diri sendiri dan memiliki kepercayaan diri untuk mengambil risiko dalam belajar. Kepercayaan diri ini ingin diraih oleh semua pembelajar, namun beberapa pembelajar tidak pernah mencapai level ini namun masih dapat menjadi pembelajar efektif dengan menggunakan metode pembelajaran lain, misalnya dengan mengikuti perintah atau bekerja sama dengan orang lain.
2.      Sosial → keyakinan diri
Lingkungan sosial atau hubungan sosial siswa sedikit atau banyak memberikan kontribusi bagi kehidupan siswa begitu pula bagi proses belajarnya. masukan positif dari lingkungan secara tidak langsung dapat menghantarkan siswa menuju pengembangan diri yang positif.
Dalam banyak kasus, pembelajaran dilakukan dengan orang lain. Pembelajaran tidak harus selalu demikian, namun sering kolaborasi dengan orang lain dapat meningkatkan hasil pengalaman pembelajaran. Akan tetapi, bekerja dengan orang lain secara konstruktif mengharuskan adanya kepercayaan diri dan keyakinan diri. Penting kita membantu orang lain mengembangkannya. Bebarapa orang merasa nyaman bekerja sama dengan orang lain dan mampu melakukannya menurut insting, tetapi sebagian orang lain tidak nyaman dan tidak mampu. Penting kita menyadari hal ini dan pembelajar yang tidak memiliki keyakinan diri perlu dukungan di bidang ini.
3.      Kognisi → pengaturan diri
Sistem pembelajaran kognitif adalah sistem pemrosesan informasi pada otak yang merupakan pembelajaran utama dalam pendidikan. sistem ini memiliki beberapa subsistem yang penting untuk mengembangkan kecakapan akademis, yaitu input indrawi, kesadaran, perkembangan bahasa, perhatian dan memori.
Pengaturan diri mengacu ke pengendalian pembelajaran yang merupakan salah satu faktor paling sukses dalam pembelajaran efektif. Pengendalian meliputi:
a.       Memacu pembelajaran yakni kecepatan ketika seseorang bekerja terutama dalam rangka memenuhi tenggat waktu.
b.      Memahami tugas sering pembelajar mengerjakan tugas tanpa memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang harus dilakukan, yakni tugas itu sebenarnya mengharuskan pembelajar melakukan apa.
c.       Memiliki perencanaan yang jelas pengendalian pembelajaran mencakup mampu membuat perencanaan dan mengurutkan langkah yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut.
d.      Mengakses sumber daya bagian dari pengendalian pembelajaran adalah mampu mengetahui jenis sumber daya yang paling tepat dan dukungan yang harus diakses.
4.      Fisik → pengendalian diri
Given (2007:252) menyatakan bahwa sistem pembelajaran fisik otak melibatkan proses interaksi dengan lingkungan untuk mengembangkan pengetahuan dan kecakapan baru, atau untuk mengungkapkan berbagai emosi atau konsep. Sistem pembelajaran fisik melaksanakan hal-hal yang dipikirkan oleh sistem-sistem otak yang lain seperti menulis novel, membuat makanan, membangun gedung, dan sebagainya.
Perhatian merupakan salah satu faktor kunci pertama pembelajaran. Hingga tahap tertentu, perhatian melibatkan pengendalian fisik untuk melaksanakan dan bertahan pada tugas tertentu. Sering pembelajar yang menderita kesulitan perhatian tidak memiliki pengendalian diri yang baik dan ditandai dengan perilaku impulsif yang menunjukkan bukti kurangnya pengendalian diri secara fisik.
5.      Refleksi → penilaian atau pemeriksaan diri
Sistem pembelajaran reflektif adalah sistem pembelajaran terakhir dalam Brain-Based Learning yang berkaitan dengan fungsi eksekutif otak, seperti pemikiran tingkat tinggi dan pemecahan masalah. sistem pembelajaran ini mencakup kecerdasan reflektif dan perangkat pikiran. Menurut Perkins (1995) yang diungkapkan oleh Given (2007:302), kecerdasan reflektif merupakan kecerdasan memantau pikiran sendiri, mencoba mengelola pemikiran dengan efektif, sedangkan perangkat pikiran adalah semua hal yang bisa dipelajari manusia yang membantu mereka mengatasi berbagai masalah, membuat keputusan, memahami konsep yang sulit dan melaksanakan tugas intelektual lain yang membebani dengan lebih baik.
Refleksi (pemikiran mendalam) mengenai pembelajaran merupakan tahap lanjut dalam proses pembelajaran. Pembelajar yang mampu memikirkan pembelajaran secara mendalam biasanya mengembangkan keterampilan metakognisi dengan baik. Kondisi ini berarti mereka mampu mengoreksi diri dan berpikir mendalam mengenai tugas dan yang penting bagaimana cara mereka rnengerjakan tugas yang lalu dan yang akan datang. Pembelajar yang memiliki keterampilan refleksi biasanya merupakan pembelajar yang efisien karena mereka dapat menggunakan strategi mapan yang sama untuk pembelajaran baru. Mereka lebih memberi perhatian pada 'bagaimana' bukannya 'apa itu' pembelajaran.
2.3 Landasan Konsep Pembelajaran
a.       Filsafat
Proses belajar pada dasarnya melibatkan upaya yang hakiki dalam membentuk dan menyempurnakan kepribadian manusia dengan berbagai tuntutan dalam kehidupannya. Secara filosofis belajar berarti mengingatkan kembali pada manusia mengenai makna hidup yang bisa dilalui melalui proses meniru, memahami, mengamati, merasakan, mengkaji, melakukan, dan meyakini suau kebenaran sehingga semuanya memebrikan kemudahan dalam mencapai segala yang dicita-citakan manusia. Belajar diperlukan oleh individu (manusia). Akan tetapi belajar juga harus dipahami sebagai suatu kegiatan dalam mencari dan membuktikan kebenaran. Harapan para filosofis bahwa dengan belajar maka segala kebenaran di dalam semesta ini bisa dinikmati oleh manusia yang pada akhirnya menyadari bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan. Dengan demikian filsafat apapun yang telah menjadi hasil pikir manusia maka kaitannya dengan belajar ibarat siklus bahwa dengan filsafat, manusia bisa mempelajari tentang segala sesuatu.
b.      Psikologis
Perilaku manusia bisa berubah karena belajar, akan tetapi akankah manusia itu memahami perilakunya sendiri, atau menyadari dia harus berperilaku seperti apa, atau dihadapkan dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang akhirnya mempelajari produk dari gejala kejiwaan ini dalam bentuk perilaku-perilaku yang nampak dan sangat dibutuhkan dalam proses belajar. Diantara psikologi yang banyak dan memamng masih bertahan menjadi landasan pokok dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, yaitu psikologi pendidikan dan behavioristik.
c.        Sosiologis
Manusia adalah makhluk individu dan sosial. Melalui belajar, individu bisa mempelajari lawan bersosialisasi, teman hidup bersam dan mampu membangun masyarakat sampai dengan negara dan bangsa. Jika belajar tanpa arah tujuan pada makna hidup manusia sebagai makhlik sosial, maka belajar akan dijadikan cara untuk saling menguasai, memusnahkan, karena segala sesuatu yang dipelajari, diketahui, dipahami melalui belajar tidak digunakan dalam menciptakan kondisi kedamaiana dunia. Landasan sosiologis ini sangat penting dalam mengiringi perkembangan inovasi pembelajaran yang banyak terimbas oleh perubahan jaman yang semakin hedonistik. Maka pemahaman akan belajar yang ditinjau dari aspek sosiologis inilah yang snagat dibutuhkan dewasa ini.
d.      Komunikasi
Dalam praktek proses belajar atau pembelajaran akan menghasilkan suatu kondisi dimana individu dalam hal ini siswa dan guru, siswa dengan siswa, atau interaksi yang kompleks sekalipun pasti akan ditemukan suatu proses komunikasi. Landasan komunikasi ini akan memberikan warna dalam bentuk pendekatan, model, metode, dan strategi pembelajaran, serta pola-pola inovasi pembelajaran. Seperti halnya landasan ilmiah yang lain, komunikasi cukup mampu mempegaruhi peserta didik dalam mencapai keberhasilan membaca pesan-pesan atau informasi pembelajaran.
e.       Teknologi
Pembelajaran erat kaitannya dengan penggunaan teknologi pendidikan, pembelajaran yang komperehensif harus memperhatikan perbedaan interest siswa, dimana diswa ada yang tipe auditif, visual, dan kinestetik. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran akan menjembatani ke empat minat siswa tersebut, sehingga pemebelajaran lebih akomodatif dan menyenangkan, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pembelajaran. Seorang guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Dapat mengguanakan media pembelajaran, mulai dari yang sederhana sampai ke yang teknologi canggih.
2.4 Proses pembelajaran
            Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20 “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.Proses pembelajaran menerapkan kemampuan dengan menggunakan sarana serta mengikuti mekanisme yang telah diatur. Proses pembelajaran dapat melalui tatap muka didalam ruang kelas dan dapat melalui media elektronik sesuai dengan pengaturan. Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan memcapai tujuan yang telah ditetapkan. Pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan antara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek didik. Konsep tersebut dapat dipandang sebagai suatu sistem, sehingga dalam sistem belajar ini terdapat komponen-komponen siswa atau peserta didik, tujuan, materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang harus dipersiapkan. Sebagaimana diungkapkan oleh Davis, (1974:30) bahwa learning system menyangkut pengorganisasian dari perpaduan antara manusia, pengalaman belajar, fasilitas, pemeliharaan atau pengontrolan, dan prosedur yang mengatur interaksi perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan. Demikian halnya juga dengan teaching system, dimana komponen perencanaan mengajar, bahan ajar, tujuan, materi dan metode, serta penilaian, dan langkah mengajar akan berhubungan dengan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan. Kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian, pengelolaan, dan transformasi informasi oleh dan dari guru kepada siswa. Ketiga kategori kegiatan dalam proses pembelajaran ini berkait erat dengan aplikasi dan konsep sistem informasi manajemen.
            Dalam proses pembelajaran meliputi kegiatan dari membuka sampai menutup pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran meliputi: (1) kegiatan awal, yaitu: melakukan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan bila dianggap perlu memberikan pre-test; (2) kegiatan inti, yaitu: kegiatan utama yang dilakukan guru dalam memberikan pengalaman belajar, melalui berbagai strategi dan metode yang dianggap sesuai dengan tujuan dan materi yang akan disampaikan; (3) kegiatan akhir, yaitu: menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan pemberian tugas atau pekerjaan rumah bila dianggap perlu.
2.5 Konsepsi Belajar
1.      Hakikat belajar
            Belajar, pada Hakekatnya adalah Proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat di pandang sebagai proses yang di arahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Pada umumnya para ahli psikologi berpendapat dan menerima pendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang relative permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktik atau latihan. Kimbel dan Garmezi (1963), mendefinisikan :” learning is a relatively permanent change in a behavioral tendency and is the result of reinfrorce practice”. Belajar paling tidak terdapat tiga esensi pokok : yakni yang pertama, pengalaman atau latihan (proses), kedua, kemudian ada hasil (result) yakni terjadinya perubahan sikap atau tingkah laku dan ketiga adalah “behavioral tendency” yaitu tingkah laku sebagai hasil belajar itu cenderung permanen. Indikasi keterkaitan tiga esensi diatas, digambarkan oleh John P De Cecco (1968:244) sebagai berikut.

Ciri-ciri belajar adalah : (1) Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor); (2) perubahan itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan . interaksi ini dapat berupa interaksi fisik dan psikis; (3) perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen.
Menurut Meier (2002: 103) mengemukakan bahwa semua pembelajaran manusia pada hakekatnya mempunyai empat unsur yaitu :
·        Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar. Tanpa itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama sekali. Namun karena terlalu bersemangat untuk mendapat materi, tahap ini sering diabaikan, sehingga mengganggu pembelajaran yang baik. Persiapan pembelajaran itu seperti mempersiapkan tanah untuk ditanami benih. Jika dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat. Demikian juga dalam pembelajaran jika persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan, materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasilnya diasumsikan akan lebih optimal.
            Tahap ini bertujuan untuk membangkitkan rasa keingi tahuan peserta didik, menimbulkan minat belajar peserta didik. Dengan adanya persiapan dalam hal belajar ilmu-ilmu yang akan dipelajari akan lebih di mengerti oleh peserta didik karena telah mempunyai kesiapan dalam menghadapi materi pelajaran yang akan diberikan pleh pendidik. Begitu pun sebaliknya pendidik harus mempunyai kesiapan dalam memberikan materi yang akan di berikan pada peserta didik dari mulai materi dan cara-cara untuk membuat pelajaran yang akan diberikan menjadi sebuah pelajaran yang menarik minat siswa.
·        Penyampaian (Presentation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar. Tanpa itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama sekali. Namun karena terlalu bersemangat untuk mendapat materi, tahap ini sering diabaikan, sehingga mengganggu pembelajaran yang baik. Persiapan pembelajaran itu seperti mempersiapkan tanah untuk ditanami benih. Jika dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat. Demikian juga dalam pembelajaran jika persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan, materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasilnya diasumsikan akan lebih optimal.
      Inti dari tahap penyampaian ini adalah tahap damana seseorang sebagai fasilitator menyampaikan suatu materi bahan ajar harus mempunya seni dalam mengajar. Artinya cara-cara menyampaikan materi haruslah menarik agar siswa timbul rasa keingitahuan nya dan timbul rasa keinginan untuk belajar. Penyampaian materi yang menarik akan lebih mudah di serap oleh peserta didik.
·        Pelatihan (Practice)
Dalam tahap inilah pembelajaran yang sebenarnya berlangsung. Bagaimanapun, apa yang dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan pembelajaran yang menciptakan pembelajaran dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh instruktur atau pendidik. Peranan instruktur atau pendidik hanya memprakarsai proses belajar dan menciptakan suasana yang mendukung kelancaran pelatihan. Dengan kata lain tugas instruktur atau pendidik adalah menyusun konteks tempat peserta belajar dapat menciptakan isi yang bermakna mengenai materi belajar yang sedang dibahas.
Dalam tahap ini bertujuan untuk membantu peserta belajar mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Seperti aktivitas pemrosesan, permainan dalam belajar, aktivitas pemecahan masalah, refleksi dan artikulasi individu, dialog berpasangan atau kelompok, pembelajaran, dan tinjauan kolaboratif termasuk aktifitas praktis dalam membangun keterampilan lainnya.
·        Penampilan Hasil (Performance)
Tujuan tahap penampilan hasil adalah membantu peserta belajar menerapkan dan memperluas pengetahuan dan keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat, seperti; penerapan di dunia maya dalam tempo segera, penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi, dan aktivitas penguatan penerapan. Pelatihan terus-menerus, usaha balik dan evaluasi kerja aktivitas dukungan kawan, perubahan organisasi lingkungan yang mendukung.
2.      Prinsip-prinsip Belajar
Belajar seperti diungkapkan pada bagian sebelumnya adalah proses terjadinya perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang yang ditunjukan dalam perubahan yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotorik atau perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, sikap, keterampilan, kemampuan mereaksi (menerima atau menolak suatu rangsangan ) serta berkembangnya kemampuan dan kecakapan lainnya. M. Dalyono (2005: 51-54) dalam bukunya Psikologi Pendidikan mempunyai prinsip-prinsip belajar yaitu:
1)      Kematangan jasmani dan rohani
2)      Memiliki kesiapan
3)      Memahami tujuan
4)      Memiliki kesungguhan
5)      Ulangan dan latihan
Dari prinsip-prinsip para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa dalam belajar itu berlangsung seumur hidup yang terjadi dimana saja dan waktu kapan saja yang harus dilakukan secara konsisten dan sungguh-sungguh untuk mencapai hasil yang maksimal dan dapat bermanfaat bagi diri sendiri.
Tahap Sensorimotor menurut Piaget dimulai sejak umur 0 sampai 2 tahun.
Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana.  Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah.  Kemampuan yang dimiliki antara lain :
  1. Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek di sekitarnya.
  2. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.
  3. Suka memperhatikan sesuat lebih lama.
  4. Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.
  5. Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
    MemperhaPiaget mengatakan tahap ini antara usia 2 - 7/8 tahun. Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan symbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif.Preoperasional (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsep nya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami objek. Karakteristik tahap ini adalah:
  1. Self counter nya sangat menonjol.
  2. Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok.
  3. Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar.
  4. Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan.
Tahap intuitif (umur 4 - 7 atau 8 tahun), anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstraks. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini, anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman yang luas. Karakteristik tahap ini adalah :
  1. Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek, tetapi kurang disadarinya.
  2. Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks.
  3. Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.
  4. Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar. Dia mengerti terhadap sejumlah objek yang teratur dan cara mengelompokkannya. Anak kekekalan masa pada usia 5 tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah objek adalah tetap sama meskipun objek itu dikelompokkan dengan cara yang berbeda.
Tahap Operasional Konkret (umur 7 atau 8 - 11 atau 12 tahun).
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan.  Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret.  Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang ada di dalam dirinya.  Karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam dirinya sehingga tindakannya lebih efektif.  Anak sudah tidak perlu coba-coba dan membuat kesalahan, karena anak sudah dapat berpikir dengan menggunakan model "kemungkinan" dalam melakukan kegiatan tertentu.  Ia dapat menggunakan hasil yang telah dicapai sebelumnya.  Anak mampu menangani sistem klasifikasi.
Namun sungguhpun anak telah dapat melakukan pengklasifikasian, pengelompokan dan pengaturan masalah (ordering problems) ia tidak sepenuhnya menyadari adanya prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya.  Namun taraf berpikirnya sudah dapat dikatakan maju.  Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.  Untuk menghindari keterbatasan berpikir anak perlu diberi gambaran konkret, sehingga ia mampu menelaah persoalan.  Sungguhpun demikian anak usia 7-12 tahun masih memiliki masalah mengenai berpikir abstrak.
Tahap Operasional Formal ini antara umur 11/12 - 18 tahun.Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan  menggunakan pola berpikir "kemungkinan".  Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-dedutive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa.  Pada tahap ini kondisi berpikir anak sudah dapat :
  1. Bekerja secara efektif dan sistematis.
  2. Menganalisis secara kombinasi.  Dengan demikian telah diberikan dua kemungkinan penyebabnya, C1 dan C2 menghasilkan R, anak  dapat merumuskan beberapa kemungkinan.
  3. Berpikir secara proporsional, yakni menentukan macam-macam proporsional tentang C1, C2 dan R misalnya.
  4. Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam isi.  Pada tahap ini mula-mula Piaget percaya bahwa sebagian remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia 15 tahun.  Tetapi berdasarkan penelitian maupun studi selanjutnya menemukan bahwa banyak siswa bahkan mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat melakukan formal operation.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu akan berbeda dengan proses belajar yang dialami oleh seorang anak pada tahap preoperasional, dan akan berbeda pula dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional konkret, bahkan dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional formal.  Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.  Guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan tahap-tahap tersebut.  Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa tidak akan ada maknanya bagi siswa.
Tipe belajar tanda (Signal learning)
Belajar dengan cara ini dapat dikatakan sama dengan apa yang dikemukakan oleh Pavlov. Semua jawaban/respons menurut kepada tanda/sinyal.
    Tipe belajar rangsang-reaksi (Stimulus-response learning)
Tipe ini hampir serupa dengan tipe satu, namun pada tipe ini, timbulnya respons juga karena adanya dorongan yang datang dari dalam serta adanya penguatan sehingga seseorang mau melakukan sesuatu secara berulang-ulang.
    Tipe belajar berangkai (Chaining Learning)
Pada tahap ini terjadi serangkaian hubungan stimulus-respons, maksudnya adalah bahwa suatu respons­­­ pada gilirannya akan menjadi stimulus baru dan selanjutnya akan menimbulkan respons baru.
    Tipe belajar asosiasi verbal (Verbal association learning)
Tipe ini berhubungan dengan penggunaan bahasa, dimana hasil belajarnya yaitu memberikan reaksi verbal pada stimulus/perangsang.
    Tipe belajar membedakan (Discrimination learning)
Hasil dari tipe belajar ini adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antar objek-objek yang terdapat dalm lingkungan fisik.
    Tipe belajar konsep (Concept Learning)
Belajar pada tipe ini terutama dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman atau pengertian tentang suatu yang mendasar.
    Tipe belajar kaidah (RuleLearning)
Tipe belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan beberapa konsep.
    Tipe belajar pemecahan masalah (Problem solving)
Tipe belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan.
1.      Perbuatan Belajar
Bentuk - bentuk Perbuatan Belajar Menurut Gagne yaitu :
a)      Signal Learning
b)      Stimulus Respons Learning
c)      Chaining
d)      Verbal association
e)      Multiple Discrimination
f)        Concept Learning
g)      Principle Learning
h)      Problem solving
2.      Tahapan Kognitif dari Piaget
·        Tahap Sensorimotor (dari kelahiran sampai dengan usia 2 tahun)
·        Tahap Praoperasional (dari usia 2 tahun sampai denga 7 tahun)
·        Tahap Operasional ( dari usia 7 – 11 tahun)

·        Tahap Operasional Formal (dari usia 11 – dewasa)

Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Konsep Desain Model Pelathan Briggs

PENDAHULUAN A. Latar Belakang  Program pendidikan dan pelatihan merupakan program penting yang keberadaannya seharusnya dapat diupayakan dengan baik sehingga dapat menghasilkan peserta diklat yang berkualitas pula. Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan dari berbagai hal. Untuk dapat membantu dalam meningkatkan kualitas program diklat tersebut, maka muncul lah beberapa model-model program pendidikan dan pelatihan dari para ahli dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta karakteristik yang berbeda-beda. Model-model pembelajaran ini dihasilkan dari pemikiran para ahli yang telah meneliti dan mencoba untuk menerapkan model-model ini. Saah satu model yang dikembangkan para ahli tersebut adalah model Briggs. Model Briggs adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978: 23). Model ini lebih ditekankan pada pendidik, pelatih ataupun widyaiswara sebagai pe...