Skip to main content

Konsep Belajar dan Pembelajaran

A. Konsep Belajar dan Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar, di mana pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah siswa yang berorientasi pada kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi pada pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sebagai sasaran pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan mencakup berbagai komponen lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas pembelajaran.
Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur: tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru. Semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi; dan semuanya berfungsi dengan berorientasi kepada tujuan.
Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.
Dapat dikatakan juga Belajar adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.
Belajar memiliki tiga atribut pokok ialah:
1. Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
2. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
3. Belajar berkat mengalami, baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial).
Belajar adalah sebuah proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku seseorang atau subyek belajar. Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan, atau penguasaan nilai-nilai (sikap). Perubahan perilaku sebagai hasil belajar ialah perubahan yang dihasilkan dari pengalaman (interaksi dengan lingkungan), tempat proses mental dan emosional terjadi. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar dikelompokkan 3 ranah: Kognitif, afektif dan psikomotor.
Tujuan belajar bagi subyek belajar adalah untuk:
1. mendapatkan dan meningkatkan pemahamannya tentang pengetahuan
2. menanamkan konsep dan meningkatkan ketrampilan
3. pembentukan sikap.
Ada empat pilar dalam belajar, yaitu:
1. learning to know - akal budi/pengetahuan
2. learning to do - aplikasi/perbuatan
3. learning to be - pengembangan eksistensi
4. learning to live together - makhluk sosial
Learning To Know
Adalah belajar mengetahui, ialah belajar bagaimana ia menggunakan pengetahuannya untuk dapat hidup mandiri, hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan keterampilan-keterampilan yang dimiliki akibat dari pengetahuan yang telah diperoleh.
Dalam suatu lembaga pendidikan haruslah memprioritaskan keberhasilan sebuah proses pembelajaran, hal tersebut haruslah diaktualisasikan, karena mengingat bahwasanya pendidikan adalah hal yang sangat penting di era yang terus berkembang pesat dalam hal pengetahuan dan teknologi saat ini.
Tahapan awal untuk menciptakan pendidikan yang baik dan berkualitas adalah dengan mengetahui, memahami dan menerapkan pilar-pilar dalam pendidikan, dan learning to know atau belajar untuk mengetahui adalah pilar utama dalam sebuah pendidikan yang mempunyai nilai-nilai dan keyakinan yang menjadikannya sebuah kunci dalam suatu pendidikan.
Sebagai calon pendidik, mahasiswa dituntut untuk dapat mengetahui, memahami, dan mengaplikasikan Learning to know. Learning to know adalah belajar mengetahui apa yang perlu diketahui siswa untuk mempersiapkan ia menghadapai era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga meliputi bagaimana mendesain pendidikan berdasarkan learning to know. Learning to know tidak hanya sebatas tahu saja apa yang ingin kita ketahui atau tahu apa yang tidak kita ketahui dari orang lain melainkan mengetahui ilmunya, memiliki karakteristik belajar mandiri yang nantinya bisa dan tahu caranya menerapkan ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat. Dan kita (mahasiswa) nantinya dituntut untuk dapat mewujudkan hal tersebut.
Learning To Do
Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) adalah sebuah aspek psikomotorik yang harus diberikan kepada anak didik. Aspek psikomotorik ini dapat diterjemahkan dalam segala kegatan belajar – mengajar. Proses pembelajaran dalam konsep learning to do  adalah peserta didik harus mau dan mampu (berani) mengaktualisasi keterampilan yang dimilikinya, selain bakat dan minat yang telah dimiliki sejak awal. Berani mengaktualisasi minat dan bakatnya, berarti peserta didik diarahkan untuk menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Kelebihan yang dimiliki harus senantiasa diasah untuk meningkatkan kemanfaatannya (menambah keterampilannya) dan juga pengetahuan akan kekurangan yang dimiliki memberikan sebuah tantangan untuk memperbaiki sehingga peserta didik nantinya akan menjadi manusia yang lebih unggul dimasa yang akan datang.
Learning to Live Together
Learning to live together dalam bahasa Indonesia artinya belajar untuk bisa hidup bersama , maksudnya yaitu dengan terus belajar kita akan terus mendapatkan wawasan yang baru mengenai sesuatu hal kita tidak ketahui sebelummnya.
Learning to Be
Learning to be mengandung arti bahwa belajar adalah proses untuk membentuk manusia yang memiliki jati dirinya sendiri. Oleh karena itu, pendidik harus berusaha memfasilitasi peserta didik agar bealajar mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu yang berkepribadian utuh dan bertanggung jawab sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat. Dalam pengertian ini terkandung makna bahwa kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yakni makhluk hidup yang memiliki tanggung jawab sebagai khalifah serta menyadari akan segala kekurangan dan kelemahannya. Learning to be, sehingga dapat mengembangkan kepribadian lebih baik dan mampu bertindak mandiri, membuat pertimbangan  dan rasa tanggung jawab pribadi yang semakin besar, ingatan, penalaran, rasa estetika, kemampuan fisik, dan keterampilan berkomunikasi.
B. Prinsip-Prinsip Belajar dan Pembelajaran
1. Pengertian Prinsip Belajar
a. Prinsip Belajar Menurut Gestalt  : Adalah suatu transfer belajar antara pendidik dan peserta didik sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi belajar mengajar yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta didik akan mampu menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui teori-teori dan pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya.
b. Prinsip Belajar Menurut Robert H Davies : Suatu komunikasi terbuka antara pendidik dengan peserta didik sehingga siswa termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya melalui contoh-contoh dan kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode yang menyenangkan siswa.
Dari pendapat para ahli tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa : Prinsip Belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi sehingga Proses Belajar dan Pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik
2. Prinsip-Prinsip yang Berkaitan dengan Pembelajaran
Banyak sekali pendapat para ahli mengenai prinsip-prinsip dalam belajar dan pembelajaran, adapun perbedaan dan persamaan yang terkandung didalamnya.dari banyaknya pendapat ahli tentang prinsip belajar tersebut, terdapat beberapa prinsip yang bersifat umum dan dapat kita gunakan sebagai upaya penunjang kemajuan dalam proses belajar mengajar, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam apaya meningkatkan cara mengajarnya.
Prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961) adalah sebagai berikut:
a. Prinsip Kesiapan (Readinees)
Proses belajar dipengaruhi kesiapan siswa. Yang dimaksud dengan kesiapan siswa ialah kondisi yang memungkinkan ia dapat belajar.
b. Prinsip Motivasi (Motivation)
Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan.
c. Prinsip Persepsi
Seseorang cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaiman ia memahami situasi. Persepsi adalah interpertasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu.
d. Prinsip Tujuan
Tujuan harus tergambar jelas dalam pikiran dan diterima oleh para pelajarpada saat proses terjadi. Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang.
e. Prinsip Perbedaan Individual
Proses pengajaran semestinya memperhatikan perbedaan individual dalamkelas dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkat sasaran akan gagalmemenuhi kebutuhan seluruh siswa
f. Prinsip Transfer dan Retensi
Belajar dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru. Apapun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang lain.Proses tersebut dikenal sebagai proses transfer. Kemampuan sesesoranguntuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi.
g. Prinsip Belajar Kognitif
Belajar kognitif melibatkan proses pengenalan dan penemuan. Belajarkognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep,penemuan masalah dan keterampilan memecahkan masalah yangselanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, bernalar, menilai danberimajinasi.
h. Prinsip Belajar Afektif
Proses belajar afektif seseorang menemukan bagaimana ia menghubungkandirinya dengan pengalaman baru. Belajar afektif mencakup nilai emosi,dorongan, minat dan sikap
i. Prinsip Belajar Evaluasi
Jenis cakupan validitas evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saatini dan selanjutnya pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagiindividu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan.
j. Prinsip Belajar Psikomotor
Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia mampumengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspekmental dan fisik.
Sedangkan prinsip – prinsip belajar dan pembelajaran menurut Rochman Nata Wijaya dkk adalah sebagai berikut:
a. Prinsip efek kepuasan ( law of effect )
Jika sebuah respon menghasilkan efek jembatan yang memuaskan, maka hubungan Stimulus-Respon akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respon, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus-Respon.
b. Prinsip pengulangan ( law of exercise )
Bahwa hubungan antara stimulus dengan respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak pernah dilatih.
c. Prinsip kesiapan ( law of readiness )
Bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan suatu pengantar (conduction unit) dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atu tidak berbuat sesuatu.
d. Prinsip kesan pertama ( law of primacy )
Prinsip yang harus dipunyai pendidik untuk menarik perhatian peserta didik.
e. Prinsip makna yang dalam ( law of intensity )
Bahwa makna yang dalam akan menunjang dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu pembelajaran maka akan semakin efektif sesuatu yang dipelajari.

f. Prinsip bahan baru ( law of recentcy )
Bahwa dalam suatu pembelajaran diperlukan bahan baru untuk menambah wawasan atau pengalaman suatu peserta didik.
g. Prinsip gabungan ( perluasan dari prinsip efek kepuasan dan prinsip pengulangan )
Bahwa hubungan antara Stimulus-Respon akan semakin kuat dan bertambah erat jika sering dilatih dan akan semakin lemah dan berkurang jika jarang atau tidak pernah dilatih.
C. Pengembangan Komponen Belajar
Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting bagi siswa di sekolah. Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nila-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang  Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Komitmen tentang perlunya pendidikan karakter secara imperatif juga tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Dalam Pasal 3 UU tersebut dinyatakan bahwa  “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai standart kompetensi lulusan. Dalam penidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Sebab komponen-komponen tersebut merupakan salah satu faktor dalam  kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Substansi dan Strategi
Konsep pembelajaran terus menerus mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan perkembangan IPTEK. Pembelajaran pada hakekatnya sama artinya dengan kegiatan mengajar, yaitu suatu proses interaksi yang dilakukan antara guru dan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dan yang  terpenting  adalah  interaksi yang terjadi antara guru dan siswa itu harus adil, yakni adanya komunikasi yang timbal balik di antara keduanya, baik secara langsung maupun tidak langsung atau melalui media. Siswa jangan selalu dianggap sebagai subjek belajar yang tidak tahu apa-apa. Ia memiliki latar belakang, minat, dan kebutuhan, serta kemampuan yang berbeda. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat mengarahkan siswa agar mencapai tujuan secara optimal. Kegiatan mengajar dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswa.    
Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: kurikulum, guru, siswa, materi, metode, media dan evaluasi. Pelaksanaan pembelajaran adalah operasionalisasi dari perencanaan pembelajaran, sehingga tidak lepas dari perencanaan pengajaran / pembelajaran yang sudah dibuat. Oleh karenanya dalam pelaksanaannya akan sangat tergantung pada bagaimana perencanaan pengajaran sebagai operasionalisasi dari sebuah kurikulum.
Mengacu pada tujuan pendidikan nasional yang menegaskan perlunya pendidikan karakter maka diperlukan beberapa langkah yang harus dilakukan supaya nilai-nilai karakter dapat tertanam dalam diri peserta didik, salah satu langkah tersebut berupa pengembangan komponen pembelajaran.
Terdapat beberapa komponen-komponen pembelajaran yang sangat penting dalam menanamkan pemahaman nilai-nilai karakter bagi peserta didik supaya terwujud suatu pendidikan yang berkualitas yang kedepannya  akan mencetak generasi muda yang berkarakter kuat dan cerdas:
1. Guru
Dalam Pengembangan Karakter peserta didik di Sekolah, Guru memiliki posisi yang strategis sebagai pelaku utama. Guru merupakan sosok yang bisa digugu dan ditiru atau menjadi idola bagi peserta didik. Guru bisa menjadi sumber inpirasi dan motivasi peserta didiknya. Sikap dan prilaku seorang guru sangat membekas dalam diri siswa, sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi cermin siswa. Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral.
Ada beberapa strategi yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi guru untuk memainkan peranannya secara optimal dalam hal pengembangan pendidikan karakter peserta didik di sekolah, sebagai berikut :
a. Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran. Guru tidak seharusnya  menempatkan diri sebagai aktor yang dilihat dan didengar oleh peserta didik, tetapi guru seyogyanya berperan sebagai sutradara yang mengarahkan, membimbing, memfasilitasi dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat melakukan dan menemukan sendiri hasil belajarnya.
b. Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran. Guru dituntut untuk perduli, mau dan mampu mengaitkan konsep-konsep pendidikan karakter pada materi-materi pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampunya. Dalam hubungannya dengan ini, setiap guru dituntut untuk terus menambah wawasan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, yang dapat diintergrasikan dalam proses pembelajaran.
c. Mengoptimalkan kegiatan pembiasaan diri yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia. Para guru (pembina program) melalui program pembiasaan diri lebih mengedepankan atau menekankan kepada kegiatan-kegiatan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia yang kontekstual, kegiatan yang menjurus pada pengembangan kemampuan afektif dan psikomotorik.
d. Penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya karakter peserta didik. Lingkungan terbukti sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi manusia (peserta didik), baik lingkungan fisik maupun lingkungan spiritual. Untuk itu sekolah dan guru perlu untuk menyiapkan fasilitas-fasilitas dan melaksanakan berbagai jenis kegiatan yang mendukung kegiatan pengembangan pendidikan karakter peserta didik.
2. Peserta Didik
Peserta didik adalah semua individu yang menjadi audiens dalam suatu lingkup pembelajaran. Peserta didik adalah masukan mentah (raw input) dalam sebuah proses pembelajaran yang harus dithreat agar output dan outcomesnya sesuai dengan yang dicanangkan institusi (khususnya) dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya. Hermawan, dkk (2008: 9.4). Siswa sebagai peserta didik merupakan subyek utama dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan banyak tergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan siswa. Menurut Pasal 1 butir 4 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang trsedia pada jalur, jenjang dan pendidikan tertentu. Siswa atau peserta didik merupakan subyek utama dalam pembelajaran dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dibuat sebagai acuan kegiatan belajar-mengajar.
Peran Siswa dalam pembelajaran, antara lain yaitu: tertarik pada topik yang sedang dibahas, dapat melihat relevansi topi yang sedang dibahas, merasa aman dalam lingkungan kelas, terlibat dalaam pengambilan keputusan belajarnya, serta memiliki motivasi yang tinggi.
3. Metode
Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang tersusun dapat tercapai secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Stategi menunjuk pada sebuah perencaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran:
a. Metode Demonstrasi
Merupakan metode yang paling efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban secara sendiri berdasarkan fakgta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi  atau  benda  tertentu,  baik  sebenarnya  atau  sekedar  tiruan.  Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepasdari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi akan dapat menyajikan pelajaran secara konkrit. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan pembeljaran ekspositori dan inkuiri.
b. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab, siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antar guru.
c. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil.
d. Metode Sistem Regu (team teaching)
Team teaching pada dasarnya adalah metode mengajar dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sebuah kelompok siswa, jadi kelas dihadapi beberapa guru. System regu banyak macamnya, sebab untuk satu regu tidak senantiasa guru secara formal saja, tetapi dapat melibatkan orang luar yang dianggap perlu sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.
4. Materi dan Bahan Ajar
Materi juga merupakan salah satu faktor penentu keterlibatan siswa. Adapun karakteristik dari materi yang bagus menurut Hutchinson dan Waters adalah:
Adanya teks yang menarik, adanya kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan serta meliputi kemampuan berpikir siswa, memberi kesempatan siswa untuk menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka miliki serta materi yang dikuasai baik oleh siswa maupun guru.
Dalam kegiatan belajar, materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan komponen-komponen yang lain, terutama komponen anak didik yang merupakan sentral. Pemilihan materi harus benar-benar dapat memberikan kecakapan dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
5. Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media pembelajaran adalah perangkat lunak (soft ware) atau perangkat keras (hard ware) yang berfungsi sebagai alat belajar atau alat bantu belajar. Fungsi dari media pembelajaran diantaranya yaitu: mengatasi berbagai hambatan proses komunikasi, menimbulkan kegairahan belajar, menfokuskan/menari perhatian siswa, memberikan perangsang yang sama untuk setiap pengalaman, memberikan gambaran nyata tentang materi yang dijelaskan, dan menimbulkan persepsi yang sama. Sehingga tujuan dari proses pembelajaran akan tercapai secara optimal.
6. Evaluasi
Komponen evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Hasil dari kegiatan evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik (feedback) untuk melaksanakan perbaikan dalam kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan materi yang digunakan, pemilihan media, pendekatan pengajaran, dan metode dalam pembelajaran. Mustikasari, (http://edu-articles.com ). Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:
a. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses
b. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru
Dari semua komponen pembelajaran, antara komponen yang satu dengan yang lain memiliki hubungan saling keterkaitan. Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan di lapangan, sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan. Bagi setiap guru, dituntut untuk memahami masing-masing metode secara baik. Dengan pemilihan dan penggunaan metode yang tepat untuk setiap unit materi pelajaran yang diberikan kepada siswa, maka akan meningkatkan proses interaksi belajar-mengajar. Siswa juga akan memperoleh hasil belajar yang efektif dan mendapatkan kesempatan belajar yang seluas-luasnya. Jika ada salah satu komponen pembelajaran yang bermasalah, maka proses belajar-mengajar tidak dapat berjalan baik.
D. Teori-Teori Belajar
Dalam psikologi dan pendidikan , pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan pengetahuan satu, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).
Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia)
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.  Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep.
1. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori  Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
E. Peranan Teori Belajar dalam Desain Sistem Pembelajaran
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mempelajari pandangan teori-teori belajar, guru dapat memahami dan mengaplikasikannya dalam desain sistem pembelajaran.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mempelajari topik ini, Anda diharapkan dapat:
a. Mendeskripsikan teori-teori belajar yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran.
b. Menjelaskan fungsi teori belajar dalam desain sistem pembelajaran.
c. Memberikan contoh penerapan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran
Hasil penelitian terkini menyimpulkan bahwa lingkungan pembelajaran yang didesain dengan memperhatikan aspek-aspek dari peserta didik dapat meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran. Di samping itu, sikap terhadap proses belajar, dan evaluasi dari pengalaman belajar mereka dapat berjalan dengan baik dan adaptif. Pendesainan sistem pembelajaran dengan tepat dan memperhatikan komponen-komponen pembelajaran  yang mengacu kepada teori-teori belajar juga dapat membantu untuk meningkatkan interaksi antarsiswa dan guru, dan membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar (student oriented). Dengan kata lain, memahmi teori belajar akan dapat membantu perancang dalam merancang pembelajaran dengan memperhatikan  kondisi, metode, dan hasil belajar yang diharapkan. 
Guru sebagai aktor dalam mendesain sistem pembelajaran harus mengetahui secara benar teori-teori pembelajaran yang merupakan dasar dalam menentukan langkah-langkah dalam sistem pembelajaran, mulai dari merumuskan tujuan sampai kepada proses evaluasi. Teori belajar perlu dipahami sebagai dasar atau landasan berpikir bagi guru dalam mendesain sistem pembelajaran, sehingga guru tidak salah mendesain. Terdapat beberapa teori belajar yang melandasi guru dalam mendesain sistem pembelajaran, yaitu: teori behaviorisme, kognitivisme dan konstruktivisme.
a. Pandangan Behaviorisme
Menurut Tohrndike (dalam Prasetya, 1997: 36-37), bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa; pikiran, perasaan atau gerakan). Tohrndike mengemukakan, bahwa perubahan tingkah laku dapat berwujud sesuatu yang konkrit (dapat diamati) dan non-konkrit (tidak dapat diamati), namun Tohrndike tidak menjelaskan bagaimana caranya mengukur berbagai tingkah laku yang non-konkrit. Sedangkan Guthrie (dalam Prasetya) mengemukakan bahwa hukuman juga memegang peranan penting dalam proses belajar, di mana seseorang akan dapat berubah menjadi lebih baik apabila mendapat hukuman.
Selanjutnya, dalam pandangan ini menganggap bahwa masukan (input) berupa stimulus dan keluaran (output) yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi antara stimulus dan respon itu dianggap takpenting untuk diperhatikan sebab tidak dapat diamati. Hal yang dapat diamati adalah stimulus dan respon.
Adapun yang dimaksud dengan stimulus dalam konteks ini adalah apa yang diberikan oleh guru/tutor kepada siswa/peserta didik dalam rangka membantu siswa untuk belajar. Sedangkan respon adalah reaksi siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru dan apapun respon yang diberikan oleh siswa sedapat mungkin diamati, diukur dan ditanggapi.
Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa dalam pandangan teori ini belajar adalah perubahan tingkah laku. Misalnya, seorang siswa yang tadinya belum terampil menulis atau berbicara, kemudian terampil menulis atau berbicara setelah melalui proses belajar. Jadi, indikator dari keberhasilan dalam proses belajar dapat terlihat dari perubahan keterampilan yang terjadi pada diri individu yang mengalami proses belajar.
b. Pandangan Kognitivisme 
Teori kognitif menekankan peranan struktur ingatan pengetahuan terhadap proses penerimaan, pemrosesan, penyimpanan, pemanggilan kembali informasi yang telah ada di dalam skemata, atau tidak dapat memanggil kembali skemata yang telah ada di pusat memori atau lupa, selanjutnya menjelaskan proses pengolahan informasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Gagne bahwa teori kognitif adalah teori yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan manusia dalam memahami berbagai pengalamannya sehingga mengandung makna bagi manusia tersebut (Gagne, 1974: 71).
Dengan demikian, belajar dalam pandangan kognitivisme adalah hasil dari usaha individu dalam memaknai pengalaman-pengalamannya yang berkaitan dengan lingkungannya. Belajar merupakan proses yang melibatkan individu secara aktif, sehingga seluruh potensi dan kemampuan digunakan secara optimal. Hal ini dapat terlihat dari cara berpikir yang digunakan individu dalam menghadapi situasi tertentu. Selanjutnya harapan-harapan dikemukakan oleh individu yang bersangkutan mempengaruhi cara ia dalam belajar. Apa yang dipelajari oleh individu sangat tergantung terhadap apa yang telah dipelajari atau diketahui sebelumnya melalui skemata atau struktur pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori yang kemudian digunakan untuk dapat mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang baru.
Reigeluth (1998:98) menyebutkan, strategi pembelajaran kognitif haruslah memberikan kesempatan secara berkala dengan melakukan praktik atau tindakan yang nyata untuk menemukan solusi baru dalam pemecahan masalah. Sebuah esensi kondisi eksternal untuk pembelajaran informasi verbal dalam pembelajaran konteks yang bermakna bagi peserta didik. Adapun model yang digunakan oleh peserta didik meliputi: pengalaman langsung atau tidak langsung dengan   memperhatikan beberapa kondisi pembelajaran yaitu: information verbal (informasi verbal), attitudes (sikap) dan motor skills (keterampilan motorik).
c. Pandangan Konstruktivisme 
Teori konstrukvistik menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan aturan dan merevisinya apabila aturan aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide ide. 
Menurut teori konstruktivistik, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan untuk menemukan atau menerapkan ide ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendirilah yang harus memanjat anak tangga tersebut. Guru seharusnya hadir sebagai nara sumber dan seharusnya bukan menjadi penguasa kelas yang memaksakan jawaban yang benar. Siswa harus bebas membangun pemahaman mereka sendiri. Solusi siswa terhadap masalah dan pertanyaan pertanyaan mereka mencerminkan pandangan mereka.
Belajar lebih dari sekedar mengingat. Bagi siswa, untuk benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus bekerja untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi diri mereka sendiri, dan selalu bergulat dengan ide-ide. Tugas pendidikan tidak hanya menuangkan atau menjejalkan sejumlah informasi ke dalam benak siswa, tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep penting dan sangat berguna tertanam kuat dalam benak siswa.
Konstruktivisme adalah salah satu aliran filsafat yang mempunyai pandangan bahwa pengetahuan yang kita miliki adalah hasil konstruksi atau bentukan diri kita sendiri. Dapat pula dikatakan, bahwa kita akan memiliki pengetahuan apabila kita terlibat secara aktif dalam proses penemuan pengetahuan dan pembentukannya dalam diri kita. Lebih lanjut bahwa konstruktivisme berpandangan bahwa pengetahuan merupakan perolehan individu melalui keterlibatan secara aktif dalam menempuh proses belajar.
Lebih lanjut dikemukakan oleh John Dewey, Jean Piaget, Maria Montessori dan Lev Vigotsky (dalam Semiawan, 2009:14), bahwa pada dasarnya seseorang adalah pencipta pengetahuannya sendiri. Dalam membangunpengetahuan tersebut, individu melakukan beberapa kegiatan yang bersifat esensial antara lain: a) mengajukan pertanyaan, b) menggali pengetahuan, c) menguji pengetahuan yang telah dipelajari.
Para penganut pendekatan konstruktivisme meyakini bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang bersifat dinamis. Pengetahuan senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Pengetahuan adalah proses yang memerlukan suatu tindakan. Dalam perspektif ini, belajar lebih diartikan sebagai sebuah proses konstruksi makna daripada hanya sekedar mengingat dan menghafal fakta-fakta yang bersifat faktual.
Sebagaimana dikemukakan oleh Anita Woolfolk (2005: 232), yang mendefinisikan pendekatan konstruktivisme sebagai pembelajaran yang menekankan pada peran aktif peserta didik dalam membangun pemahaman dan memberi makna terhadap informasi dan peistiwa yang dialami. Lebih lanjut dikemukakan oleh Gagnon dan Collay bahwa pendekatan konstruktivistik merujuk kepada asumsi, bahwa manusia mengembangkan dirinya dengan cara melibatkan diri baik dalam kegiatan individu maupun sosial dalam membangun ilmu pengetahuan.
Fosnot mengemukakan bahwa konstruktivistik adalah teori tentang pengetahuan dan belajar yang menguraikan tentang apa itu \\\"mengetahui\\\" (knowing) dan bagaimana seseorang \\\"menjadi tahu\\\" (comes to know). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konstruktivistik merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada keaktifan peserta didik dalam mengkonstruk pengetahuan yang dimilikinya berdasarkan pengalaman dan informasi yang diterima.

DAFTAR PUSTAKA
(Online) http://yahyanugraha09.blogspot.com/2013/04/pengembangan-komponen-pembelajaran.html. Diakses pada 24 Maret 2014.
(Online) http://belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/. Diakses pada 24 Maret 2014.

Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Konsep Desain Model Pelathan Briggs

PENDAHULUAN A. Latar Belakang  Program pendidikan dan pelatihan merupakan program penting yang keberadaannya seharusnya dapat diupayakan dengan baik sehingga dapat menghasilkan peserta diklat yang berkualitas pula. Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan dari berbagai hal. Untuk dapat membantu dalam meningkatkan kualitas program diklat tersebut, maka muncul lah beberapa model-model program pendidikan dan pelatihan dari para ahli dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta karakteristik yang berbeda-beda. Model-model pembelajaran ini dihasilkan dari pemikiran para ahli yang telah meneliti dan mencoba untuk menerapkan model-model ini. Saah satu model yang dikembangkan para ahli tersebut adalah model Briggs. Model Briggs adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978: 23). Model ini lebih ditekankan pada pendidik, pelatih ataupun widyaiswara sebagai pe...