Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah: tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Keempat komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain.Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian inimeliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan,kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua kesesuaian antara komponen-komponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan tujuan, prosessesuai dengan isi dan tujuan, demikian juga evaluasi sesuai dengan proses, isi dan tujuan kurikulum.
Telah dikemukakan bahwa, dalam kurikulum atau pengajaran, tujuan memegang peranan penting, akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen-komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal. Pertama perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Kita mengenal beberapa kategori tujuan pendidikan, yaitu tujuan umum dan khusus, jangka panjang,menengah, dan jangka pendek. Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 dikenal kategori tujuan sebagai berikut. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia. Tujuan institusional,merupakan sasaran pendidikan sesuatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler,adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sesuatu program studi. Tujuan instruksional yang merupakan target yang harus dicapai oleh sesuatu mata pelajaran. Yang terakhir ini, masih dirinci lagi menjadi tujuan instruksional umum dan khusus atau disebut juga objektif, yang merupakan tujuan pokok bahasan. Tujuan pendidikan nasional yang berjangka panjang merupakan suatu tujuan pendidikan umum,sedangkan tujuan isntruksional yang berjangka waktu cukup pendek merupakan tujuan yang bersifat khusus. Tujuan-tujuan khusus dijabarkan dari sasaran-sasaran pendidikan yang bersifat umum yang biasanya abstrak dan luas, menjadi sasaran-sasaran khusus yang lebih konkret, sempit, dan terbatas.Dalam kegiatan belajar-mengajar di-dalam kelas, tujuan-tujuan khusus lebih diutamakan, karena lebih jelas dan mudah pencapaiannya. Dalam mempersiapkan pelajaran, guru menjabarkan tujuan mengajarnya dalam bentuk tujuan-tujuan khusus atau objectives yang yang bersifat operasional. Tujuan demikian akan menggambarkan “what will the student he able to do as a result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree, 1974: 5)
Mengajar dalam kelas lebih menekankan tujuan khusus, sebab hal itu akan dapat memberikan gambaran yang lebih konkret, dan menekankan pada perilaku siswa, sedang perumusan tujuan umum lebih bersifat abstrak, pencapaiannya memerlukan waktu yang lebih lama dan lebih sukar diukur.
Tujuan-tujuan mengajar dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi sasarannya. Gage dan Briggs mengemukakan lima kategori tujuan, yaitu intellectual skills, cognitive strategies, verbal information, motor skills and attitudes (1974, hlm. 23-24). Bloom mengemukakan tiga kategori tujuan mengajar sesuai dengan domain-domain perilaku individu, yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif berkenaan dengan penguasaan kemampuan-kemampuan intelektual atau berpikir. Domain afektif berkenaan dengan penguasaan dan pengembangan perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai.Domain psikomotor menyangkut penguasaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan motorik. Tujuan-tujuan khusus mengajar juga memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda. Bloom, (1975) membagi domain kognitif atas enam tingkatan dari yang paling rendah, yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,dan evaluasi. Untuk domain afektif Krathwohl dan kawan-kawan (1974) membaginya atas lima tingkatan yang juga berjenjang, yaitu: menerima,merespons, menilai, mengorganisasi nilai, dan karakterisasi nilai-nilai. Untuk domain psikomotor Anita Harrow (1971) membaginya atas enam jenjang, yaitu:gerakan refleks, gerakan-gerakan dasar, kecakapan mengamati, kecakapan jasmaniah, gerakan-gerakan keterampilan dan komunikasi yang berkesinambungan.
Perumusan tujuan mengajar yang berbentuk tujuan khusus (objective),memberikan beberapa keuntungan:
a) Tujuan khusus memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatanmengajar-belajar kepada siswa. Berdasarkan penelitian Mager dan Clark (1963) siswa yang mengetahui tujuan-tujuan khusus suatu pokok bahasan,diberikan referensi dan sumber yang memadai, dapat belajar sendiri dalamwaktu setengah dari waktu belajar dalam kelas biasa.
b) Tujuan khusus membantu memudahkan guru-guru memilih danmenyusun bahan ajar.
c) Tujuan khusus memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan mediamengajar.
Dengan tujuan khusus guru lebih mudah menentukan bentuk tes, lebih mudahmerumuskan butir tes dan lebih mudah menentukan kriteria pen-capaiannya.Di samping keuntungan-keuntungan di atas pengembangan tujuan-tujuan mengajar yang bersifat khusus menghadapi beberapa kesukaran, yaitu:
Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus untuk domain afektif,
Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus pada tingkat tinggi.
\
Comments
Post a Comment