PEMBAHASAN
A. Konsep dasar desain pembelajaran
1. Pengertian desain pembelajaran
Desain bermakna adanya keseluruhan, struktur, kerangka atau outline, dan urutan atau sistematika kegiatan (Gagnon dan Collay, 2001). Selain itu, kata desain juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan yang sistematika yang dilakukan sebelum tindakan pengembangan atau pelaksanaan sebuah kegiatan (Smith dan Ragan, 1993, p. 4). Sedangkan desain pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembalajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang (Reigeluth, 1983). Desain pembelajaran juga diartikan sebagai proses merumuskan tujuan, strategi, teknik, dan media.
Di sisi lain Gagne dkk mngembangkan konsep desain pembelajaran dengan menyatakan bahwa desian pembelajaran membantu proses belajar seseorang, di mana proses itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Menurut mereka proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Kondisi internal adalah kemampuan dan kesiapan diri pebelajar, sedangkan kondisi eksternal adalah pengaturan lingkungan yang didesain. Penyiapan kondisi eksternal belajar inilah yang disebut dengan desian pembelajaran. Untuk itu desain pembelajaran haruslah sistematis, dan menerapkan konsep pendekatan system agar berhasil meningkatkan mutu kinerja seseorang. Dan mereka berpendapat bahwa proses belajar yang terjadi secara internal dapat ditumbuhkan, diperkaya jika faktor eksernal, yaitu pembelajaran dapat didesain dengan efektif.
Desain pembelajaran tidak hanyan berperan sebagai pendekatan yang terorganisasi untuk memproduksi dan mengembangkan bahan ajar, tetapi juga merupakan sebuah proses genetic yang dapat digunakan untuk menganalisis masalah pembelajaran dan kinerja manusia serta menetukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Desain pembelajaran lazimnya dimulai dari kegiatan analisis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pembelajaran sesungguhnya yang perlu dicari solusinya. Setelah dapat menentukan masalah yang sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah menentukan alternaif solusi yang akan digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran.
1
Seorang perancang program pembelajaran perlu menentukan solusi yang tepat dari berbagai alternatif yang ada. Selanjutnya ia dapat menerapkan solusi tersebut untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Evaluasi adalah langkah selanjutnya, sehingga nantinya bias mengetahui rancangan atau desain yang sesuai dengan pembelajaran dan desain tersebut busa diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
Secara garis besar desain pembelajaran terdiri dari lima langkah penting, yaitu:
1) Analisis lingkungan dan kebutuhan belajar siswa.
2) Merancang spesifikasi proses pembelajaran yang efektif dan efesien serta sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan belajar siswa.
3) Mengembangkan bahan-bahan untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4) Implementasi desain pembelajaran.
5) Implementasi evaluasi formaif dan sumatif terhadap program pembelajaran
2. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, antara lain :
1) Sebagai Disiplin
Yaitu desain pembelajaran yang membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaan.
2) Sebagai Ilmu
Yaitu desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelola; situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala rnakro dan rnikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas.
3) Sebagai Sistem
Yaitu desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar
4) Sebagai Proses
Yaitu desain pembelajaran adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran
2
B. Komponen desain pembelajaran
Esensi desain pembelajaran hanyalah mencakup empat komponen, yaitu : peserta didik, tujuan, metode, evaluasi.(Kemp, Morrison dan Ross, 1994)
1. Peserta didik
Dalam menentukan desain pembelajaran dan mata pelajaran yang akan disampaikan perlu diketahui bahwa yang sebenarnya dilakukan oleh para desainer adalah menciptakan situasi belajar yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan peserta didik merasa nyaman dan termotivasi dalam proses belajarnya.
Peserta didik sebelum dan selama belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai factor baik fisik maupun mental, misalnya kelelahan, mengantuk, bosan, dan jenuh. Hal ini akan mengurangi kosentrasi peserta didik dan sudah tentu akan terjadi reduksi dalam penyerapan materi yang juga mempengaruhi daya tangkap untuk memahami materi.
Hal-hal lain yang dapat mempengaruhi mutu belajar peserta didik adalah tampilan materi ajar dan gaya penyampaian guru dalam menyampaikan materi.
2. Tujuan
Setiap rumusan tujuan pembelajaran selalu dikembangkan berdasarkan kompetesi atau kinerja yang harus dimiliki oleh peserta didik jika ia selesai belajar. Seandainya tujuan pembelajaran atau kompetensi dinilai sebagai sesuatu yang rumit, maka tujuan pembelajaran tersebut dirinci menjadi subkompetensi yang dapat mudah dicapai. Dilain pihak desain pembelajaran memadukan kebutuhan peserta didik dengan kompetensi yang harus dikuasai dengan persyaratan tertentu dalam kondisi yang sudah ditetapkan.
3. Metode
Metode terkait dengan stratei pembelajaran yang sebaiknya dirancng agar proses belajar berjalan mulus. Metode adalah cara-cara atau teknik yang dianggap jitu untuk menyampaikan materi ajar. Dalam desain pembelajaran langkah ini sangat penting karena metode inilah yang menentukan situasi belajar yang sesungguhnya. Di lain pihak kepiawaian seorang desainer pembelajaran juga terlihat dalam cara menentukan metode. Pada konsep ini meode adalah komponen strategi pembelajaran yang sederhana.
3
4. Evaluasi
Konsep ini menganggap menilai hasil belajar peserta didik sangat penting. Indikator keberhasilan pencapaian suatu tujuan belajar dapat diamati dari penilaian hasil belajar. Seringkali penilaian dilakukan dengan cara menjawab soal-soal objektif. Penilaian juga dapat dilakukan dengan format non soal, yaitu dengan instrument pengamatan, wawancara, kuesioner dan sebagainya.
C. Prinsip-prinsip desain pembelajaran
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip desain pembelajaran yang dibagi ke dalam dua kelompok:
1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) menjabarkan secara lebih lanjut kelima prinsip umum dalam pengembangan instruksional seperti tersebut di atas sebagai berikut.
1. Prinsip relevansi: secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta diklat (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip fleksibilitas: dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta diklat.
3. Prinsip kontinuitas: yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal.
4
Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4. Prinsip efisiensi: yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5. Prinsip efektivitas: yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Prinsip-Prinsip Khusus dalam Desain pembelajaran dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan: ketentuan/kebijakan pemerintah; survey persepsi user; survey pandangan para ahli atau nara sumber; pengalaman badan pemerintah yang lain atau dari negara lain; penelitian sebelumnya
2. Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan: penjabaran tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang diharapkan; isi meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan disusun berdasarkan urutan logis dan sistematis
3. Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar: keselarasan pemilihan metode; memperhatikan perbedaan individual ; pencapaian aspek kognitif, afektif, dan skills.
4. Prinsip berkenaan dengan pemilihan media: ketersediaan alat yang sesuai dengan situasi; pengorganisasian alat dan bahan; pengintegrasian ke dalam proses
5. Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian: kesesuaian dengan isi dan tingkat perkembangan peserta diklat; waktu; administrasi penilaian;
D. Fungsi desain pembelajaran
1. Mengorganisir kegiatan pembelajaran
2. Berfikir lebih kreatif tentang apa yang ingin dikerjakan peserta didik
3. Mencari bahan-bahan dan perlengkapan yang dibutuhkan
4. Memetakan cara untuk mencapai tujuan (indikator hasil belajar)
5. Merancang program untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik secara khusus
6. Memahami perbedaan peserta didik
7. Mengkomunikasikan pada orang lain apa yang mereka kerjakan
5
8. Mengidentifikasi standar belajar mengajar yang dapat dievaluasi secara akurat ( Kostelnik ,1999).
E. Karakteristik desain pembelajaran
a. Berorientasi pada siswa
Desain pembelajaran yang berorientasi pada berarti suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai pendidikan tertentu dengan menggunakan pendekatan pada kegiatan atau aktivitas siswa. Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditentukan atau berorientasi pada aktivitas siswa (PBAS).
Desain pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa juga menghendaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intelektual (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Artinya, dalam pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa pembentukan siswa secara keseluruhan merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran.
Mendesain pembelajaran perlu diawali dengan melakukan studi pendahuluan tentang siswa. Beberapa hal yang perlu dipahami tentang siswa di antaranya:
1. Kemampuan dasar
Karakteristik peserta didik memiliki kemampuan tertentu yang dibawanya sejak lahir, karakteristik itu akan selalu melekat pada dirinya, oleh karena itu diantara satu peserta didik dengan peserta didik lainnya memiliki kemampuan yang berbeda. Perbedaan ini akan menjadi suatu masalah jika pembelajar tidak mampu memahami hal-hal yang berhubungan dengan karakteristik mereka.
Hal ini yang menjadi dasar dalam mendesain suatu pembelajaran. Siswa sebagai subjek di dalam pembelajaran menjadi daftar tujuan bahwa segala sesuatu yang didesain harus berorientasi kepada siswa. Siswa yang dimaksud seperti apa atau bagaimana hanya dapat dijawab dengan memahami karakteristik dan kemampuan dasar dari siswa itu sendiri. Terlebih lagi setiap siswa mutlak memiliki kemampuan dasar yang berbeda, maka kebutuhan desain pembelajaran yang direncanakan pun akan berbeda.
6
Sehingga desain suatu pembelajaran akan efektif untuk siswa yang memiliki karakteristik relatif tidak jauh berbeda. Inilah mengapa desain pembelajaran di setiap lembaga pendidikan dan jenjang sekolah tidak sama.
2. Gaya belajar
Gaya belajar diartikan sebagai kecenderungan untuk mengadopsi suatu strategi dalam belajar. Sebagian besar siswa memiliki pilihan gaya belajar masing-masing. Selain karakteristik dan latar belakangnya, gaya belajar ini berperan dalam mendesain suatu pembelajaran. Pembelajaran yang dirancang harus mengacu pada gaya belajar siswa, semakin bertentangan dengan gaya belajar siswa, maka tujuan dari pembelajaran akan semakin tidak ada hasilnya.
Siswa sebagai subjek dalam pembelajaran, maka desain pembelajaran harus menyesuaikan diri dengan gaya belajar yang diminati siswa. Hal ini untuk memudahkan pembelajaran yang dilaksanakan dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut.
b. Berpijak pada pendekatan system
System adalah satu kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan system, bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui pendekatan system dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
Untuk mencapai pembelajaran efektif dan efisien dibutuhkan pengelolaan komponen pembelajaran secara baik. Dalam pendekatan sistem bahwasanya untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal harus didukung dengan komponen pembelajaran yang baik, yang meliputi tujuan, siswa, guru, metode, media, sarana, lingkungan pembelajaran dan evaluasi.
Dalam pendekatan sistem, pembelajaran merupakan suatu kesatuan dari komponen-komponen pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, karena satu sama lain saling mendukung. Komponen-komponen tersebut dapat menunjang kualitas pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik (2001: 77) pembelajaran sebagai suatu sistem artinya suatu keseluruhan dari komponen-komponen yang berinteraksi dan berinterelasi antara satu sama lain dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
7
c. Teruji secara empiris
Menurut KBBI, empiris berarti berdasarkan pengalaman (terutama yg diperoleh dr penemuan, percobaan, pengamatan yg telah dilakukan). KArakteristik desain pembelajaran yang terakhir ini sangat jelas, bahwa suatu desain pembelajaran tidak serta merta dirancang sesuai keinginan orang yang membuat desain pembelajaran, tetapi semua ini didasarkan atas data empiris. Pengamatan yang dilakukan berupa pengamatan terhadap siswa, seperti memahami latar belakang dan karakteristik siswa tersebut.
F. Teori yang mendasari desain pembelajaran
Penelitian terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang bermedia teknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka terhadap belajar, dan evaluasi dari pengalaman belajar mereka. Teknologi juga dapat membantu untuk meningkatkan interaksi antar pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar (student oriented). Dengan kata lain, penggunaan media menggunakan audio visual atau komputer media dapat membantu siswa itu memperoleh pelajaran bermanfaat. Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para pembelajar, memfasilitasi proses belajar,membentuk manusia seutuhnya, melayani perbedaan individu,mengangkat belajar bermakna, mendorong terjadinya interaksi, dan memfasilitasi belajar kontekstual, Terdapat beberapa teori belajar yang melandasi penggunaan teknologi/komputer dalam pembelajaran yaitu teori behaviorisme, kognitifisme dan konstruktivisme.
1. Teori Behaviorisme
Behaviorisme memandang fikiran sebagai ‘kotak hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat diobservasi secara kuantitatif,sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi dan Diukur sebagai indikator belajar.
Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Siswa harus diberitahu secara eksplisit outcome belajar sehingga mereka dapat mensetting harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinya telah mencapai
8
outcome dari pembelajaran online atau tidak.
b. Pembelajar harus diuji apakah mereka telah mencapai outcome pembelajaran atau tidak. Tes dilakukan untuk mencek tingkat Pencapaian pebelajar dan untuk memberi umpan balik yang
tepat.
c. Materi belajar harus diurutkan dengan tepat untuk meningkatkan belajar. Urutan dapat dimulai dari bentuk yang sederhana keyang kompleks, dari yang diketahui sampai yang tidak diketahui dan dari pengetahuan sampai penerapan.
d. Pembelajar harus diberi umpan balik sehingga mereka dapatmengetahui bagaimana melakukan tindakan koreksi jikadiperlukan.
2. Teori Kognitivisme
Kognitivisme membagi tipe-tipe pembelajar, yaitu:
1. Pembelajar tipe pengalaman-konkret lebih menyukai contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan teman temannya,dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu;
2. Pembelajar tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan tindakan;
3. Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan sesuatu dan symbol-simbol daripada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan teori dan melakukan analisis sistematis.
4. Pembelajar tipe eksperimentasi aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk memperoleh umpan balik daninformasi.
Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Materi pembelajaran harus memasukan aktivitas gaya belajar yang berbeda, sehingga siswa dapat memilih aktivitas yang tepat berdasarkan kecenderungan gaya berlajarnya.
2. Sebagai tambahan aktivitas, dukungan secukupnya harus diberikan kepada siswa dengan perbedaan gaya belajar. Siswa dengan perbedaan gaya belajar memiliki perbedaan pilihan terhadap dukungan, sebagai contoh, assimilator lebih suka
9
kehadiran instruktur yang tinggi. Sementara akomodator lebih suka kehadiran instruktur yang rendah.
3. Informasi harus disajikan dalam cara yang berbeda untuk mengakomodasi berbedaan individu dalam proses dan memfasilitasi transfer ke long-term memory.
4. Pembelajar harus dimotivasi untuk belajar, tanpa memperdulikan sebagaimana efektif materi, jika pembelajar tidak dimotivasi mereka tidak akan belajar.
5. Pada saat belajar, pembelajar harus diberi kesempatan untuk merefleksi apa yang mereka pelajari. Bekerja sama dengan pembelajar lain, dan mengecek kemajuan mereka.
6. Psikologi kognitif menyarankan bahwa pembelajar menerima dan memproses informasi untuk ditransfer ke long term memory untuk disimpan.
3. Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang kontekstual. Aktivitas belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi informasi harus digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti dapat menerapkan informasi tersebut secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi dan penemuan pengetahuan.
Implementasi pada online learning
1. Belajar harus menjadi suatu proses aktif. Menjaga pembelaja tetap aktif melakukan aktivitas yang bermakna menghasilkan proses tingkat tinggi, yang memfasilitasi penciptaan makna personal.
2. Pembelajar mengkonstruksi pengetahuan sendiri bukan hanya menerima apa yang diberi oleh instruktur. Konstruksi pengetahuan difasilitasi oleh pembelajaran interaktif yang bagus, karena siswa harus mengambil inisiatif untuk berinteraksi dengan pembelajar lain dan dengan instruktur, dan karena agenda belajar dikontrol oleh pembelajar sendiri.
3. Bekerja dengan pembelajar lain memberi pembelajar pengalaman kehidupan nyata melalui kerja kelompok, dan memungkinkan mereka menggunakan keterampilan metakognitif.
10
4. Pembelajar harus diberi control proses belajar. Pembelajar harus diberi waktu dan kesempatan untuk refleksi.Pada saat belajar online siswa perlu merefleksi dan menginternalisasi informasi.
5. Belajar harus dibuat bermakna bagi siswa. Materi belajar harus memasukan contoh-contoh yang berhubungan dengan pembelajar sehingga mereka dapat menerima informasi yang diberikan.
6. Belajar harus interaktif dan mengangkat belajar tingkat yang lebih tinggi dan kehadiran sosial, dan membantu mengembangkan makna personal. Pembelajar menerima materi pelajaran melalui teknologi, memproses informasi, dan kemudian mempersonalisasi dan mengkontekstualisasi informasi tersebut.
11
REFERENSI
Alfauzan, Desy. 2012. Pendekatan Sistem dalam Desain Pembelajaran. [online]. Tersedia di: http://desyalfauzan.blogspot.com/2012/11/pendekatan-sistem-dalam-desain.html [diakses pada: 22 Maret 2014]
Alsidik, Melina. 2010. Konsep Dasar Desain Pembelajaran. [online]. Tersedia di: http://watimelinaymail.blogspot.com/2010/12/konsep-dasar-desain-pembelajaran.html [diakses pada: Maret 2014].
Amirasyka, Rofie. 2013. Konsep Dasar Desain Pembelajaran. [online]. Tersedia di: http://www.slideshare.net/rofieamirasyka/konsep-dasar-desain-pembelajaran [diakses pada: 21 Maret 2014].
Arifin. 2012. Strategi Pembelajaran yang Berorientasi pada Aktivitas Siswa. [online]. Tersedia di: http://arifin-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/11/setrategi-pembelajaran-yang_4.html [diakses pada: 22 Maret 2014].
Indrawati, Efi Dyah. 2013. Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran. [online]. Tersedia di: http://efidrew.wordpress.com/2013/01/16/prinsip-prinsip-desain-pembelajaran/ [diakses pada: 22 Maret 2014].
Syahla, Zuraida. 2012. Strategi Pembelajaran Berorientasi pada Siswa. [online]. Tersedia di: http://zuraida-syahla.blogspot.com/2012/12/strategi-pembelajaran-berorientasi-pada_27.html [diakses pada: 22 Maret 2014].
Taufiq. 2012. Pengertian Komponen dan Desain Pembelajaran. [online]. Tersedia di: http://www.taufiqslow.com/2012/01/pengertian-komponen-dan-desain.html [diakses pada: 22 Maret 2014].
Yaskin, Muhammad. 2012. Desain Karakteristik Peserta Didik. [online]. Tersedia di: http://yaskinfl.blogspot.com/2012/06/desain-karakteristik-peserta-didik.html [diakses pada: 22 Maret 2014].
Comments
Post a Comment