Skip to main content

Dasar Sistem Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT)


1.1 Latar Belakang 
Suatu sistem merupakan kesatuan dari bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam satu wilayah serta memiliki item-item penggerak. Pendidikan yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan diri sendiri dan masyarakat. Sedangkan pelatihan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu pencapaian tujuan organisasi.
Dari definisi yang telah diuraikan diatas, muncullah sebuah pertanyaan, bahwa apakah sebuah sistem, pendidikan, dan pelatihan dapat digabungkan menjadi sebuah konsep yang matang, dan lebih baik apabila digunakan dalam dunia pendidikan. Kemudian adakah keterkaitan antara ketiga konsep tersebut. 
Oleh karena itu, kami melakukan penelitian  secara berkala untuk mengetahui lebih dalam dan mendasar mengenai berbagai konsep tentang sistem, pendidikan, dan pelatihan untuk menemukan jawabannya. Sehingga pembaca memiliki wawasan yang lebih luas tentang dasar-dasar sistem pendidikan dan pelatihan. 

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari sistem, pendidikan, dan pelatihan?
2. Adakah hubungan antara sistem, pendidikan dan pelatihan?
3. Apa penjelasan dari pendidikan sebagai suatu sistem?
4. Apakah maksud dari dasar-dasar sistem pendidikan dan pelatihan?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan pengertian dari sistem, pendidikan, dan pelatihan.
2. Menjelaskan hubungan antara sistem, pendidikan, dan pelatihan.

3. Menjelaskan pendidikan sebagai suatu sistem.
4. Menjelaskan dasar-dasar sistem pendidikan dan pelatihan.

1.4 Manfaat 
1. Pembaca lebih memahami mengenai pengertian dari sistem, pendidikan, dan pelatihan secara keseluruhan.
2. Pembaca lebih memahami apa hubungan anatara sistem, pendidikan dan pelatihan.
3. Pembaca memahami konsep pendidikan sebagai suatu sistem. 
4. Pembaca memahami konsep dasar sistem pendidikan dan pelatihan.



















BAB II
MATERI PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk membekali peserta didik baik dari sisi ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat dan lingkungan sekitar. Pada dasarnya, pendidikan erat hubunganya dengan ilmu karena obyek utama dari pendidikan adalah ilmu itu sendiri.
Pendidikan menurut UU SISDIKNAS 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 yaitu pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara RI yang bersumber pada ajaran agama, keanekaragaman budaya Indonesia dan tanggap terhadap perubahan zaman.
Untuk mencapai status sebagai ilmu pengetahuan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Menurut Prof.J.R. Pudjawijatno (1960 : 9) syarat-syarat tersebut ialah: 
Mengejar kebenaran (obyektivitas). Objek dalam dunia ilmu pengetahuan di bedakan menjadi dua, yaitu objek formal dan objek material. Objek formal adalah sudut tinjauan dari penelitian atau pembicaraan suatu ilmu pengetahuan. Sedangkan objek material adalah bahan atau masalah yang menjadi pembicaraan dari suatu ilmu pengetahuan. 
Metode. Setiap ilmu pengetahuan harus disyaratkan mempunyai metode penelitian, yaitu cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah baik metode pengumpulan keterangan atau data ataupun metode-metode pengolahan dengan pola pikir yang induktif atau deduktif. 
Bersistem. Yaitu uraian sejumlah komponen atau unsur yang berkaitan satu dengan lainya yang membentuk sebuah kesatuan yang berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.



 2.2 Pengertian Sistem 

Istilah sistem berasal dari bahasa yunani "systema" yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Menurut Zahara Idris (1987) Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen atau elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai sumber yang mempunyai hubungan fungsional yang teratur, tidak secara acak dan saling membantu untuk mencapai suatu hasil (Product). Roger A Kaufman mengatakan bahwa system ialah jumlah keseluruhan dari bagian-bagian yang bekerja secara independent dan bekerja bersama untuk mencapai hasil yang dikehendaki berdasarkan asas kebutuhan.
Juga menurut Totong M. Amirin 1984, sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang komplek atau utuh. Berdasakan kajian terhadap sifat-sifat sistem, dapat didentifikasikan ciri-ciri pokok sistem sebagai berikut: 
1. Mempunyai tujuan, sehingga proses kerja sistem mengarah pada tujuan. 
2. Mempunyai batas, sehingga dapat dibedakan batas sistem yang satu dengan batas sistem yang lain.
3. Bersifat terbuka, artinya suatu sistem dapat dihubungkan dengan sistem yang lain, sehingga terbentuk sistem baru yang lebih besar. 
Terdiri dari beberapa bagian yang di sebut subsistem atau komponen. Bagian-bagian dari suatu sistem merupakan satu kebulatan yang utuh dan padu. Terdapat saling berhubungan dan saling ketergantungan baik didalam sistem (intern sistem) maupun antara sistem dengan lingkungannya. Melakukan proses kegiatan transformasi, yaitu merubah masukan (input) menjadi suatu hasil (output), maka dari itu sistem pada hakikatnya merupakan transformator atau prosessor.
Di dalam setiap sistem terdapat mekanisme control dengan memanfaatkan terjadinya umpan balik, maka dari itu sistem mepunyai kemampuan mengatur diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.



2.3 Pendidikan sebagai Suatu Sistem
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Suatu usaha pendidikan menyangkut tiga unsur pokok yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha. PH Combs (1982) mengemukakan dua belas komponen pendidikan sebagai berikut: 
1. Tujuan dan Prioritas adalah fungsi mengarahkan kegiatan. Hal ini merupakan informasi apa yang hendak dicapai oleh sistem pendidikan dan urutan pelaksanaanya.
2. Peserta didik adalah fungsinya belajar diharapkan peserta didik mengalami proses perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan sistem pendidikan.
3. Manajemen atau pengelolaan adalah fungsinya mengkoordinasi, mengarahkan dan menilai sistem pendidikan.
4. Struktur dan jadwal waktu adalah mengatur pembagian waktu dan kegiatan.
5. Isi dan bahan pengajaran adalah mengambarkan luas dan dalamnya bahan pelajaran yang harus dikuasai peserta didik. 
6. Guru dan pelaksanaan adalah menyediakan bahan pelajaran dan menyelengarakan  proses belajar untuk peserta didik. 
7. Alat bantu belajar adalah fungsi membuat proses pendidikan yang lebih menarik dan bervariasi. 
8. Fasilitas adalah fungsinya untuk tempat terjadinya proses pembelajaran.
9. Teknologi adalah fungsi memperlancar dan meningkatkan hasil guna proses pendidikan. 
10. Pengawasan mutu adalah fungsi membina peraturan dan standar pendidikan. 
11. Penelitian adalah fungsi memperbaiki dan mengembangkan ilmu pengetahuan. 
12. Biaya adalah fungsinya memperlancar proses pendidkan
2.3.1 Komponen-komponen dalam Sistem Pendidikan 
Dalam usaha memenuhi pendidikan sebagai suatu sistem, berikut adalah penjelasan tentang beberapa komponen penting yaitu:  
Dasar pendidikan. Dasar pendidikan dapat diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan titik tolak untuk memikirkan masalah-masalah pendidikan atau titik tolak untuk melakukan kegiatan-kegiatan pendidikan. Dasar dalam pendidikan antara lain: dasar filosofis, dasar historis, dasar psikologis, dasar sosiologis, dan dasar yuridis.  
Tujuan pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar, dari kata itu berarti pendidikan mempunyai tujuan apa yang dicita-citakan dari setiap kegiatan mendidik. Drs. Suwarno (Pengantar Pendidikan Umum 1985) mengemukakan beberapa pandangan tentang tujuan pendidikan dari Langeveld dan FH. Phonnik. Langeveld membedakan macam-macam tujuan pendidikan sebagai berikut: 
1. Tujuan Umum 
2. Tujuan Khusus 
3. Tujuan Tidak Lengkap 
4. Tujuan Sementara 
5. Tujuan Isidental 
6. Tujuan Intermedier  
Isi Pendidikan. Isi pendidikan adalah bahan-bahan atau materi pendidikan yang di berikan kepada peserta didik agar ia dapat mencapai tujuan yang diharapkan.   
Metode Pendidikan. Metode atau cara bagaimana mendidik, agar kelak dapat memilih dan menggunakan metode yang tepat sesuai dengan tujuan dan kondisi-kondisi pendukung. Proses pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi antara pendidik dengan peserta didik , sehingga metode pendidikan dapat di dasarkan pada pola hubungan ke dua belah pihak. Drs. Suwarno, 1985 membedakan jenis-jenis metode sebagai berikut: 
1. Metode Dictatorial 
2. Metode Liberal 
3. Metode Demokratis   
Alat Pendidikan. Alat pendidikan diartikan sebagai berbagai situasi dan kondisi, tindakan dan perilaku, tingkah laku dan perbuatan serta segala sesuatu yang diadakan dengan sengaja dan terencana yang langsung dan tidak langsung. Alat pendidikan dibedakan menjadi 2 golongan: 
Alat pendidikan kebendaan. Demi mewujudkan pendidikan yang efektif maka di butuhkan alat-alat pendidikan sebagai penunjang, ruang kelas yang di lengkapi sarana dan prasarana pembelajaran. Alat pendidikan bukan kebendaan ini berupa lingkungan social :

(1) Teladan
(2) Nasehat
(3) Perintah
(4) Hadiah
(5) Pujian
(6) Peringkat
(7) Larangan
(8) Teguran
(9) Hukuman 

Terdidik. Terdidik adalah individu yang di jadikan sasaran kegiatan pendidikan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Pendidik. Pendidik pada hakikatnya bertanggung jawab penuh dalam proses pendidikan agar mengarah pada tujuan pendidikan.  
2.3.2 Komponen-komponen Upaya Pendidikan






Saling hubungan antarkomponen













2.4 Pengertian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
Pendidikan dan latihan (diklat) merupakan unsur yang mutlak dimiliki oleh individu sumber daya manusia yang berkualitas. Pentingnya diklat tersebut mengantar pengembangan sumber daya manusia. Karena itu,secara khusus pada hakekatnya diklat mengandung adanya aspek potensial,aspek fungsional, aspek operasional dan aspek kepemimpinan organisasi.
Berdasarkan aspek-aspek tersebut, maka keberadaan diklat berperan penting di dalam meningkatkan dan mewujudkan potensi karyawan, profesional karyawan, fungsional karyawan, operasionalisme karyawan dan pengembangan karir karyawan yang dapat dilaluinya melalui proses diklat baik berupa diklat kepemimpinan, diklat profesi lewat kursus-kursus, diklat fungsional berdasarkan pembinaan dan pengembangan terhadap pelaksanaan pekerjaan secara khusus sesuai fungsinya, dan diklat operasisonal yang biasanya dilakukan untuk penerapan proses dan prosedur suatu pelaksanaan penerapan teknologi yang sesuai dengan prospeknya. Menurut Hamalik yang dikutip oleh Pujirahayu (2008:16) bentuk-bentuk diklat seperti diklat kepemimpinaan, diklat potensi, diklat profesioanalisme, diklat fungsional, dan operasionalisme dianggap merupakan suatu pendidikan dan pelatihan yang menjadikan seorang pegawai mampu mengembangkan kepemimpinan organisasi, pemanfaatan kompetensi karyawan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, memiliki profesionalisme kerja yang handal sesuai fungsi aktivitas kerja yang ditekuni dalam berbagai kegiatan operasional kerja.
Uraian ini menekankan bahwa suatu kegiatan dalam manajemen organisasi tidak terlepas dari adanya konsep pendidikan dan latihan. Konsep pendidikan dan pelatihan diartikan sebagai konsep pembinaan diklat pegawai untuk mengetahui apa, mengapa dan untuk apa penerapan diklat harus diterapkan sesuai dengan konsep-konsep manajemen, konsep sistem pendidikan dan konsep sistem pelatihan. Menurut Wardoyo yang dikutip oleh Pujirahayu (2008:17) menyatakan bahwa konsep diklat adalah konsep untuk meningkatkan, mengembangkan dan membentuk perilaku pegawai untuk memiliki hakekat memahami aktivitas kerjanya untuk dapat mudah di dalam meningkatkan pelayanan masyarakat. 
Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses dari fungsi manajemen yang perlu dilakukan terus menerus dalam suatu organisasi dan secara spesifik sebagai sebagai suatu proses serangkaian tindak lanjut yang dilaksanakan secara berkesinambungan, bertahap dan terpadu. Diklat memiliki tujuan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi, karena itu diklat menjadi bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Jenis- jenis diklat yang menjadi bekal bagi seorang pegawai dalam meningtkan pelayanan masyarakat meliputi diklat kepemimpinan, diklat potensi, diklat fungsional dan diklat operasional yang sasarannya melatih, membimbing dan membina karyawan untuk dapat menjadi tenaga yang handal dalam melaksanakan tugas-tugas pokok yang diamankan. Menurut Hamalik yang dikutip oleh Pujirahayu (2008:17) konsep sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah upaya untuk meningkatkan,mengembangkan dan membentuk pegawai melalui upaya pendidikan dan pelatihan baik berupa diklat berjenjang, diklat kursus, diklat fungsional, dan diklat operasional yang banyak diterapkan oleh suatu organisasi dalam rangka meningkatkan kemampuan kerja karyawan dalam menghadapi aktivitasnya, yang diupayakan dapat meningkatkan pelayanan masyarakatnya. 
Menurut Syamsuddin yang dikutip oleh Pujirahayu (2008:18) diklat adalah suatu proses dari pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan terus menerus bagi suatu organisasi agar karyawan yang mengikuti diklat mampu mengembangkan karir dan aktivitas kerjanya di dalam mengembangkan, memperpaiki perilaku kerja karyawan, mempersiapkan karyawan untuk menduduki jabatan yang lebih rumit dan sulit, mempersiapkan tenaga untuk mengembangkan aktivitas kerjanya.
2.5 Tujuan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) 
Menurut pasal 9 Undang-undang ketenagakerjaan tahun 2003, pendidikan dan pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan. Tujuan-tujuan pendidikan dan pelatihan dapat dikelompokkan ke dalam lima bidang, yaitu:
a. Memperbaiki kinerja. 
b. Memutakhirkan keahlian-keahlian para pegawai/karyawan sejalan dengan kemajuan teknologi. 
c. Mengurangi waktu pembelajaran bagi pegawai/karyawan baru agar kompeten dalam pekerjaan.
d. Membantu memecahkan masalah operasional. 
e. Mempersiapkan pegawai/karyawan untuk mendapatkan promosi jabatan.
2.6 Manfaat Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
Pendidikan dan pelatihan (diklat) mempunyai andil besar dalam menentukan efektivitas dan efisiensi organisasi, beberapa manfaat nyata yang ditanggung dari program pendidikan dan pelatihan, Simamora Henry (2004). 
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produktivitas.
b. Mengurangi waktu belajar yang diperlukan pegawai/karyawan untukmencapai standar kinerja yang dapat diterima. 
c. Membentuk sikap, loyalitas dan kerja sama yang saling menguntungkan.
d. Memenuhi kebutuhan perencanaan sumber daya manusia. 
e. Membantu pegawai/karyawan dalam peningkatan pengembangan pribadi mereka.
2.7 Jenis-Jenis Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
1. Diklat kepemimpinan: Diklat kepemimpinan yang selanjutnya disebut DIKLATPIM dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah yang sesuai dengan jenjang jabatan struktural.
2. Diklat Fungsional: Diklat Fungsional dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi yang sesuai dengan jenis dan jenjang jabatan Fungsional masing-masing jenis dan jenjang diklat Fungsional untuk masing-masing jabatan fungsional ditetapkan oleh instansi Pembina jabatan Fungsional yang bersangkutan.
3. Diklat Teknis: Diklat teknis dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan untuk pelaksanakan tugas pegawai/karyawan. Diklat teknis dapat dilaksanakan secara berjenjang. Jenis dan jenjang diklat Teknis untuk masing-masing jabatan ditetapkan oleh instansi teknis yang bersangkutan.
2.8 Sistem Diklat
Sistem dapat diartikan sebagai suatu susunan terpadu dan terdiri atas bagian-bagian yang saling berhubungan, saling berinteraksi dan saling bergantung antar bagiannya dan membentuk satu kesatuan yang utuh.
Keseluruhan unsur yang membentuk sistem tersebut lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Pendapat lain mengatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen, elemen, unsur atau subunsur atau subsistem dengan segala atributnya yang satu sama lain saling berkaitan, pengaruh mempengaruhi dan saling bergantungan sehingga keseluruhannya merupakan satu kesatuan yang terintegratif atau suatu totalitas. Sedangkan Benny A. Pribadi mengutip dari Dick & Carey bahwa pendekatan sistem adalah sebuah prosedur yang digunakan oleh perancang desain sistem pembelajaran untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang efektif dan efisien. (2006: 27 - 28). Sebagaimana pendekatan sistem secara umum, begitu juga pendekatan sistem dalam Diklat dapat menggunakan bagan arus mulai dari input (masukan), proses, Output (keluaran), dan Out come (dampak). Adapun pendekatan dalam Diklat sebagai berikut :
1. Masukan (Input) dalam Diklat adalah peserta Diklat dan widyaiswara dengan kompetensi yang dimilikinya, anggaran, waktu, sarana dan prasarana (bangunan) Diklat.
2. Proses sebagai sub sistem dalam sistem Diklat adalah proses belajar mengajar, evaluasi pra dan pasca Diklat, penataan sarana dan prasarana kelas dan sebagainya.
3. Produk adalah hasil setelah Diklat selesai, antara lain makalah/ materi Diklat, penguasaan kapasitas khusus.
4. Keluaran (out put) Diklat adalah peserta (lulusan) Diklat yang memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan, sertifikat, keterangan masuk dunia kerja, SIM.
5. Dampak (out come) Diklat antara lain adalah peningkatan produksivitas lulusan/kontribusi yang diberikan kepada organisasi.
Oleh karena itu batasan sistem dalam diklat sebagai berikut :
a. Mempunyai Tujuan
b. Tujuan dapat dijabarkan dalam fungsi
c. Memiliki komponen untuk menjalankan fungsi (sub sistem)
d. Sistem dikelilingi sistem lain dan tidak berdiri sendiri
e. Menjalankan proses transformasi mengubah masukan-keluaran
f. Komponen saling berinteraksi – saling tergantung
g. Memiliki efek keterpaduan (sinergisme)
h. Memiliki mekanisme balikan
i. Bersifat relative tergantung pada lingkungan

Secara ringkas arus sistem diklat dapat digambarkan sebagai berikut:














2.9 Penyelenggaraan Diklat
Penyelenggara diklat harus melakukan kegiatan mulai dari perencanaan diklat sampai evaluasi diklat. Aspek-aspek yang diperhatikan dalam proses perencanaan Diklat adalah :
1. Target peserta Diklat (seleksi peserta). Penyelenggara hendaknya memahami dengan baik siapa yang menjadi target atau sasaran peserta Diklat. Hal ini perlu supaya penyelenggara memahami dengan baik siapa yang akan mereka layani.
2. Pengembangan panduan Diklat, modul dan perangkat evaluasi Diklat. Penyelenggara Diklat terutama berperan dalam pengembangan penduan pelaksanaan Diklat. Sementara dalam penyediaan modul, bahan ajar dan perangkat evaluasi pelu dicek pada saat perencanaan, agar mereka siap untuk membagikan pada peserta sesaat sebelum pelaksaan proses pembelajaran dimulai.
3. Penyelenggara Diklat (uraian tugas). Kejelasan tugas dan tanggung jawab setiap orang dalam panitia penyelenggara adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas tugas dan tanggung jawab masing-masing petugas. Hal-hal yang perlu diperjelas dalam kaitan tugas seorang penyelenggara Diklat adalah :
a. Penyediaan bahan Diklat (modul)
b. Menyiapkan bahan ujian atau evaluasi peserta
c. penyiapan sarana dan prasarana Diklat
d. penyiapan akomodasi Dilat
4. Penempatan widyaiswara (persyaratan kompetensi, mekanisme seleksi). Dalam hal ini penyelenggara Diklat hendaknya memiliki daftar widyaiswara dan kompetensinya dalam masing-masing bidang. Ini untuk memudahkan penyelenggara dalam mencari alternative pengganti widyaiswara yang telah ditunjuk oleh pengelola Diklat. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penunjukan wisyaiswara pengganti adalah :
a. Penguasaan materi
b. sistematika penyajian dan kemampuannya dalam menyajikan materi
c. Ketetapan waktu kehadiran dan penyajian
d. penggunaan metode dan sarana Diklat
e. Sikap dan perilaku widyaiswara
f. Cara menjawab pertanyaan dari peserta dan penggunaan bahasa
g. Pemberian motivasi kepada peserta
h. Pencapaian tujuan Instruksional
i. Kerapihan berpakaian
j. Kerjasama sesama widyaiswara
5. Sarana dan prasarana Diklat yang digunakan dalam penyelenggaran. Diklat, hendaknya disiapkan dengan baik oleh penyelenggara Diklat untuk menjamin lancarnya proses pembelajaran. Sarana Diklat yang perlu disiapkan antara lain papan tulis dan perlengkapannya, flipchart dan tiang penyangga serta lakban, LCD (in Focus), Sound Sistem, TV dan Video, Kaset dan perekam, Computer (lap top, tablet, iped), buku wajib (modul), dll.
6. Sedangkan prasarana yang perlu dipersiapkan misalnya: Ruang kelas, ruang seminar, ruang diskusi, Ruangan atau fasilitas olah raga, Ruang internet, Laboratorium dan perpustakaan, Asrama bagi peserta, Ruang makan, Unit kesahatan Diklat, dll.
7. Mekanisme penyediaan dana. Penyelenggara Dilat umumnya berperan dalam mengecek kesediaan dana dan pencairan dana yang akan digunakan dalam pelaksanaan Diklat. Sementara mekanisme penyediaan dana sendiri lebih banyak menjadi tanggung jawab pengelola Diklat.
8. Setelah semua perencanaan selesai dilakukan, langkah berikutnya adalah tahap pelaksanaan Diklat, yang meliputi :
a. Pembukaan dan Penutupan
Acara pembukaan Diklat yang menandakan dimulai kegiatan pelaksanaan Diklat, penyelenggara Diklat hendaknya menyiapkan diri untuk beberapa hal berikut :
1) mengecek pejabat yang akan membuka dan memberikan pengarahan kepada peserta dalam acara pembukaan Diklat.
2) menjadi petugas dalam acara pembukaan (MC, Pembaca Do’a, pembawa tanda pengenal dan sebagainya yang dianggap perlu).
3) Menyiapkan laporan pada acara pembukaan mengenai berapa peserta yang ikut dan unit kerja, kurikulum, lamanya waktu Diklat, kriteria ketulusan dan sebagainya.
4) Menyiapkan ruangan dan perlengkapan lain yang diperlukan dalam acara pembukaan seperti sound sistem, musik latar. Menurut Bobby dePorter, acara sambutan yang meriah pada acara pembukaan ini akan membawa kesan tersendiri dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Ruangan yang sejuk dan dihiasi dengan bunga-bunga serta poster ucapan sambutan kepada peserta, akan membuat peserta merasa terhormat dan bersemangat untuk mengikuti proses pembelajaran.
5) Menyiapkan lingkungan psikologis bagi peserta yang menyenangkan dan ini sangat mendukung dalam proses pembelajaranberikutnya.
6) Begitu juga dalam acara penutupan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan hampir sama dengan acara pembukaan. Penutupan yang meriah juga akan memberikan kesan yang mendalam bagi diri peserta, yang akan dibawa sampai ke tempat tugasnya.
b. Pelaksanaan Proses Pembelajaran Hal-hal yang perlu disiapkan oleh penyelenggara Diklat antara lain adalah :
1) Menyiapkan diri dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, misal untuk :
a. Mengecek kehadiran peserta diruang kelas. Menyiapkan ruang belajar dan ruangan-ruangan lain yang diperlukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran,
b. Menyiapkan sarana dan prasarana Diklat lainnya (ketersediaan OHP, pengeras suara, flipchart, marker, lakban) dan lainnya yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran.
2) Mengecek kesiapan widyaiswara dalam kesiapan memberikan materi Diklat. Setelah widyaiswara bersedia memberikan materi Diklat tertentu yang telah disepakati pada tahap perencanaan Diklat, selanjutnya perlu dicek ketersedian waktunya untuk memberikan materi tersebut. Hal ini perlu diperhatikan karena biasanya terkait dengan kesibukan widyaiswara. Sering terjadi karena kesibukan widyaiswara akhirnya sekuensi penyampaian mata Diklat menjadi kacau. Selain hal- hal di atas, penyelenggara diklat harus membuat job diskription untuk masing-masing anggotanya, hal ini untuk memudahkan melakukan pengendalian diklat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk membekali peserta didik baik dari sisi ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat dan lingkungan sekitar. Sistem merupakan sebuah kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen. Begitu pula dengan sistem pendidikan di Indonesia sebagai suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dari komponen-komponen yang saling berinteraksi dalam mencapai suatu tujuan.
Pelatihan adalah usaha yang terencana dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang. Pelatihan lebih di tekankan kepada peningkatan kempuan untuk melakukan pekerjaan yang spesifik pada saat ini.
Peranan penyelenggara Diklat sangat menetukan terhadap keberhasilan suatu Diklat. Dalam hal ini penyelenggara Diklat harus merencanakan dan melaksanakan program Diklat secara matang. Kegiatan-kegiatan yang terkait dengan perencanaan diklat harus sudah di kuasai, dan tahapan-tahapan dalam proses pelaksanaan Diklat juga harus benar-benar dipersiapkan secara baik agar program Diklat yang telah direncanakan dapat tercapai tujuannya.


DAFTAR PUSTAKA

Afroji, Muh. Tanpa tahun. Sistem Diklat Dan Peran Penyelenggara Diklat. Tersedia di : http://bdkjakarta.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=188 [online] di akses pada Minggu, 17 September 2015 jam 18.05.
Hamalik, Oemar. (2007). Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan Pendekatan Terpadu. Jakarta : Bumi aksara.
Pujirahayu, Rostanti.2008. Analisis Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Upaya Peningkatan Pelayanan Masyarakat pada Aparatur Sekretariat Daerah. Tesis. PPUMI Makassar : Tidak diterbitkan.
Simamora, Henry.( 2004 ). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : STIEYKPN.



Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Konsep Desain Model Pelathan Briggs

PENDAHULUAN A. Latar Belakang  Program pendidikan dan pelatihan merupakan program penting yang keberadaannya seharusnya dapat diupayakan dengan baik sehingga dapat menghasilkan peserta diklat yang berkualitas pula. Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan dari berbagai hal. Untuk dapat membantu dalam meningkatkan kualitas program diklat tersebut, maka muncul lah beberapa model-model program pendidikan dan pelatihan dari para ahli dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta karakteristik yang berbeda-beda. Model-model pembelajaran ini dihasilkan dari pemikiran para ahli yang telah meneliti dan mencoba untuk menerapkan model-model ini. Saah satu model yang dikembangkan para ahli tersebut adalah model Briggs. Model Briggs adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978: 23). Model ini lebih ditekankan pada pendidik, pelatih ataupun widyaiswara sebagai pe...