1.
ILMU
KOMUNIKASI DI INDONESIA
Sesungguhnya kajian di Tanah Air dimulai dengan
nama Publistik. Beberapa tokohhyang telah berjasa mamasukkan Ilmu Komunikasi ke
Indonesia dan kemudian mengembangkannya di Perguruan tinggi, antara lain Drs.
Marbangun Sundoro, Prof. Sujono Hadinoto, Adinegoro, dan Prof. Dr. Mustopo.
Pada tahun 1960-an deretan tokoh itu bertambah lagi dengan datangnya dua pakar
dalam bidang kajian itu, yaitu Prof. Dr. (Phil) Astrid S. Susanto dari Jerman
Barat (1964) dan Prof. Dr . M. Ahli Dahlam dari Amerika Serikat (1967)
Nama ilmu komunikasi Massa dan Ilmu Komunikasi
baru mulai muncul dalam berbagai diskusi dan seminar awal tahun 1970-an. Mula-mula
muncul sebagai ilmu yang mencakup berbagai media massa-publistik pers,
publisistik radio, publisistik televisi, dan publisistik film. Publisistik
kemudian hadir menjadi nama satu-satunya fakultas di Indonesia bahkan di Asia
Tenggara. Walaupun bertahan menjadi nama fakultas selama hampir dua dasawarsa,
sebagai mata kuliah, publisistik sudah lama mengundurkan diri. Tempatnya diganti
oleh ilmu komunikasi
2.
Sejarah
Ilmu Komunikasi
Ilmu komunikasi yang tengah kita pelajari,
tumbuh melalui tiga jalan: publisistik, jurnalistik dan retorikka. Dua yang
disebut terakhir berkembang di Amerika, sedangkan yang pertama di Eropa,
khususnya di Jerman.
2.1.Perkembangan Ilmu Komunikasi di Amerika
Ilmu komunikasi berkembang di
Amerika Serikat melalui tahap-tahap journalism dan mass communication. “ Ilmu
komunikasi disana juga datang dari tahapain lain, yakni “ speech
communication”, lebih dikenal di Indoensia sebgai Retorika, Pidato atau Public
Speaking.
Kedokteran Memberikan
penjelasan dari sudut sistem saraf dan komunikasi antarsel saraf otak, dan
penjelasan terjadinya perilaku biologi komunikasi berdasarkan bagian spesifik
otak seperti Fr, F, P, T, Occ, C, dan Prc, serta penjelasan mengenai
jalur-jalur proses komunikasi secara biologi berlangsung berdasarkan jenis
stimulus yang diterima. Disamping itu juga memberikan penjelasan fungsi belahan
otak kiri dan kanan yang akan memengaruhi memori-kreativitas- learning ,
khususnya yang berkaitan dengan pemecahan masalah (pada gambar 4).

KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
A. PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES KOMUNIKASI
1.
PROSES
BELAJAR-MENGAJAR
Ditinjau dari prosesnya,
pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut
terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai
komunikator dan pelajar sebagai komunikan.
Perbedaan antara komunikasi
dengan pendidikan terletak pada tujuannya atau efek yang diharapkan ditinjau
dari egek yang diharapkan itu, tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan
tujuan pendidikan sifatnya khusus.
Tujuan pendidikan adalah khas
atau khusus, yakni meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal
sehingga ia menguasainya.
Pada umumnya pendidikan
berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka. Karena
kelompoknya relative kecil, meskipun komunikasi antara pengajar dan pelajar
dalam ruang kelas itu termasuk komunikasi kelompok, sang oebgahar sewaktu-waktu
bisa mengubahnya menjadi komunikasi antarpersonal. Terjadilah komunikasi dua
arah atau dialog di mana si pelajar menjadi komunikan dan komunikator, demikian
pula sang pengajar.
Komunikasi dalam bentuk
diskusi dalam prses belajar-mengajar belrlangsung amat efektif, baik antara
pengajar dengan pelajar maupun di antara para pelajar sendiri sebab mekanismeya
memungkinkan si pelajar terbiasa mengemukakan pendapat secara argumentative dan
dapat mengkaji dirinya, apakah yang telah diketahuinya itu benar atau tidak.
Dengan lain perkataan, pentingnya komunikasi dalam bentuk diskusi pada proses
belajar-mengajar itu disebabkan oleh dua hal:
a.
Materi
yang didiskusikan meningkatkan intelektualitas,
b.
Komunikasi
dalam diskusi bersifat intracommunication
dan intercommunication
Yang dimaksud dengan intracommunication atau intrakomunikasi ialah komunikasi yang
terjadi pada diri seseorang. Ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri sebagai
persiapan untuk melakukan intracommunication
denga orang lain.
Secara teoritis, pada waktu
seorang pelajar melakukan intracommunication
terjadilah proses yang terdiri atas tiga tahap :
1.
Persepsi
2.
Ideasi
3.
Transmisi
4.
Persepsi
Persepsi adalah penginderaan terhadap suatu
kesan yang timbul dalam lingkungannya. Penginderaan itu di pengaruhi oleh
pengalaman, kebiasaan, dan kebutuhan.
Ideasi adalah tahap kedua dalam proses intracommunication. Seorang pelajar
dalam benaknya mengkonsepsi apa yang dipresepsinya. Ini berarti bahwa dia
mengadakan seleksi dari sekian banyak pengetahuan dan pengalamannya yang pernah
diperolehnya, mengadakan penataan dengan yang relevan dari hasil persepsinya
tadi, siap untuk ditransmisikan secara verbal kedalam diskusinya.
Jadi yang ditransmisikan adalah hasil konsepsi
karya penalaran sehingga apa yang dilontarkan dari mulutnya adalah pernyataan
yang mantap, meyakinkan sistematis, dan logis. Dengan demikian, dalam proses intercommunication berikutnya berkat intracommunication yang selalu terlatih,
ia akan mengalami keberhasilan.
Comments
Post a Comment