2.1. Pengertian Belajar
Belajar adalah Perubahan perilaku yang tahan lama dalam ingatan yang di hasilkan dari interaksi dengan lingkungan. Menurut Cronbach (Sardiman, 1990:22), belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Balajar itu dlakukan secara sadar dan direncanakan serta dilakukan melalui proses-proses belajar, tidak secara tiba-tiba.
Faktor – faktor yang mempengaruh belajar :
a. Faktor Intern yaitu faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik. Yang termasuk ke dalam faktor intern yaitu faktor fisiologis (faktor jasmaniah, faktor kelelahan, faktor kesehatan, fisik) dan faktor psikologis (motivasi, minat, bakat, kecerdasan).
b. Faktor ekstern yaitu faktor yang bersumber dari luar diri peserta didik yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran di kelas ialah sarana belajar, suasana belajar, faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat.
2.2. Pengertian Mengajar
Mengajar adalah Aktivitas yang dilakukan oleh guru untuk mentransfer IPTEKS kepada peserta didik (Nasution, 1987).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses mengajar :
a. Faktor media pembelajaran
b. Faktor kurikulum
c. Faktor metode dan strategi pembelajaran.
2.3. Masalah Belajar
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Kesulitan dalam belajar
Menurut Blassic and Jones dalam Sugihartono dkk. (2007):149 – 150, kesulitan belajar yang di alami siswa menunjukan adanya kesenjangan atau jarak antara prestasi akademik yang di harapkan dengan prestasi akademik yang di capai oleh siswa pada kenyataannya.
Alasan siswa sulit belajar
a. Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
b. Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
c. Kesulitan mengkoordinasikan gerak tubuh
Indikator siswa yang sulit belajar
a. Tingkat kecepatan dalam menyelesaikan tugas
b. Tingkat kehadiran
c. Keaktifan dalam kelompok
d. Kemampuan kerja sama dan sosialisasi.
Jenis permasalahan belajar
a. Kekacauan belajar
Kekacauan belajar merupakan jenis permasalahan belajar yang terjadi ketika proses belajar siswa terganggu karena ada dan munculnya respons yang bertentangan dengan tujuan pembelajaran.
b. Ketidakmampuan belajar
Ketidakmampuan belajar merupakan jenis permasalahan belajar saat siswa menunjukkan gejala tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab dan alasannya sehingga hasil belajar yang dicapai berada dibawah potensi intelektualnya
c. Learning disfunction
Learning disfunction merupakan jenis permasalahan belajar yang mengacau pada adanya gejala-gejala dalam bentuk siswa tidak dapat mengikuti dan melaksanakan proses belajar dan pembelajaran dengan baik (Sugiharto dkk., 2007: 151).
d. Under achiever
Under achiever merupakan jenis permasalahan belajar yang terjadi dan dialami oleh siswa dengan potensi intelektual tinggi dan atau tingkat kecerdasan di atas rata-rata normal, tetapi prestasi belajar yang ia capai tergolong rendah (Sugihartono dkk., 2007: 151 ).
e. Lambat belajar.
Masalah lambat belajar merupakan jenis permasalahan yang disebabkan siswa sangat lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguasai materi pelajaran dibandingkan siswa lain dengan tingkat potensi intelektual yang sama. Kesulitan belajar pada seorang siswa sangat mungkin akan bersifat menetap atau mungkin juga hanya sementara dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Kesulitan belajar akan berbeda-beda pada masing-masing siswa.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004: 78 ), terdapat beberapa macam kesulitan belajar pada siswa sebagai berikut :
a. Dilihat dari jenis kesulitannya
Kesulitan belajar dikelompokkan menjadi kesulitan belajar ringan, kesulitan belajar sedang, dan kesulitan belajar yang berat.
b. Dilihat dari jenis bidang studi yang di pelajarinya
Kesulitan belajar pada siswa dapat berupa kesulitan belajar pada sebagian kecil maupun sebagian besar bidang studi.
c. Dilihat dari sifat kesulitan belajarnya
Kesulitan belajar pada siswa dapat berupa kesulitan belajar yang sifatnya hanya sementara.
d. Di lihat dari faktor penyebabnya
Kesulitan belajar pada siswa dapat berupa kesulitan belajar karena faktor intelegensia dan kesulitan belajar karena faktor non-inteligensi
2.4. Perilaku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran
a. Siswa yang cepat dalam belajar
Siswa yang tergolong cepat dalam belajar, pada umumnya dapat menyesuaikan kegiatan belajar dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan. Anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata temannya bisa dijadikan tutor sebaya di dalam pembelajaran.
b. Siswa yang kreatif
Siswa yag kreatif ini pada umumnya siswa dari golongan cepat, tapi banyak pula yang dari golongan normal (rata-rata). Mereka selalu ingin memecahkan persoalan, berani menanggung resiko yang sulit sekalipun, lebih senang bekerja sendiri, dan sebagainya.
c. Siswa yang memiliki kapasitas mental
Dalam tahap perkembangan tertentu, individu mempunyai kapasitas mental yang berkembang akibat dari pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisiologis pada sistem syaraf dan jaringan otak. Kapasitas-kapasitas seseorang dapat diukur dengan tes-tes intelegensi dan tes-tes bakat. Kapasitas adalah potensi untuk mempelajari serta mengembangkan berbagai keterampilan/kecakapan.
d. Siswa yang memiliki kondisi kesehatan yang baik
Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat dan stamina yang fit. Orang yang badannya sakit akibat penyakit-penyakit atau minimal kelelahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. Pusing kepala, mual-mual dan badan gatal-gatal apalagi terkait dengan cacat-cacat fisik juga menggangu hal belajar.
e. Siswa yang memiliki motivasi
Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan, motif, dan tujuan, sangat mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. Motivasi adalah penting bagi proses belajar, karena motivasi menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan, serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupan individu.
2.5. Perilaku Siswa yang Menghambat Proses Pembelajaran
Tidak dipungkiri bahwa tujuan utama dari kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah agar siswa dapat menguasai bahan-bahan ajar sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Beberapa faktor yang bersumber dari siswa yang dapat menghambat proses belajar mengajar, antara lain :
a. Tingkat kecerdasan rendah
Tidak diragukan lagi bahwa taraf kecerdasan atau kemampuan dasar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar.
b. Kesehatan sering terganggu
Belajar tidak hanya melibatkan pikiran, tetapi juga jasmaniah badan yang sering sakit-sakitan, kurang vitamin, dan kurang gizi, dapat membuat seseorang tidak berdaya, tidak bersemangat, dan tidak memiliki kemampuan dalam belajar, maka besar kemungkinan orang yang bersangkutan tidak dapat mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan.
c. Alat penglihatan dan pendengaran kurang berfungsi dengan baik
Penglihatan dan pendengaran merupakan alat indera yang terpenting untuk belajar. Apabila mekanisme mata atau telinga kurang berfungsi, maka tanggapan yang disampaikan dari dunia luar umpamanya dari guru, tidak mungkin dapat diterima oleh orang yang bersangkutan. Oleh sebab itu, siswa tidak dapat menerima dan memahami bahan-bahan pelajaran, baik yang disampaikan langsung oleh guru maupun melalui buku-buku bacaan.
d. Gangguan alat perseptual
Setelah sesuatu pesan diterima oleh mata dan telinga, langkah berikutnya dalam proses belajar adalah mengirimkan pesan itu ke otak, sehingga pesan itu dapat ditafsirkan. Langkah itu disebut persepsi. Apa sebenarnya yang terjadi dalam persepsi adalah proses pengolahan tanggapan baru (yang diterima melalui indera) dengan pertolongan ini akan menghasilkan dan memberikan arti atau makna tertentu kepada tanggapan yang diterima tetapi persepsi itu bisa juga salah, kalau ada gangguan-gangguan pada alat perseptual. Dalam hal ini tanggapan yang diterima oleh alat indera tidak dapat diartikan sebagaimana mestinya.
e. Tidak menguasai cara-cara belajar
Kegagalan belajar tidak semata-mata disebabkan oleh tingkat kecerdasan rendah atau faktor-faktor kesehatan, tetapi juga dapat disebabkan karena tidak menguasai cara-cara belajar yang baik. Untuk memungkinkan siswa tersebut dapat menerapkan cara-cara belajar yang baik, sejak dini siswa hendaklah diperkenalkan dan dibiasakan menerapkan cara-cara belajar yang baik dalam kehidupannya sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
2.6. Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses belajar
A. Faktor Internal belajar
1. Sikap Terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikannya begitu saja. Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran tersebut. Maka siswa sebaiknya mempertimbangkan masak-masak akibat sikap terhadap belajar.
2. Motivasi Belajar
Tidak diragukan bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus. Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.
3. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.
Menurut seorang ilmuan ahli psikologis kekuatan belajar seseorang setelah tiga puluh menit telah mengalami penurunan. Ia menyarankan agar guru melakukan istirahat selama beberapa menit. Istirahat ini tidak harus keluar kelas melainkan dapat berupa obrolan ringan yang mampu membuat siswa merasa rileks kembali. Dengan memberikan selingan istirahat, maka perhatian dan prestasi belajar dapat ditingkatkan.
4. Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai nilai dari suatu ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar.
5. Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang. Proses belajar terdiri dari proses pemasukan , proses pengolahan kembali dan proses penggunaan kembali.
6. Menggali Hasil Belajar Yang Tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal baru maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama maka siswa akan memanggil atau membangkitkan kembalipesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar. Ada kalanya siswa mengalami gangguan dalam menggali pesan dan kesan lama. Gangguan tersebut bukan hanya bersumber pada pemanggilan atau pembangkitannya sendiri. Gangguan tersebut dapat dikarenakan kesukaran penerimaan, pengolahan dan penyimpanan. Jika siswa tidak memperhatikan dengan baik pada saat penerimaan maka siswa tidak memiliki apa apa. Jika siswa tidak berlatih sungguh sungguh maka siswa tidak akan memiliki ketrampilan.
7. Kemampuan Berprestasi
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan.
8. Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Semakin sering siswa mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka siswa akan merasa lemah percaya dirinya.
9. Intelegensi Dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. Dengan perolehan hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesungguhan belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu rendah .
10. Kebiasaan Belajar
Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih dan menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat bergaya pemimpin, bergaya jantan seperti merokok.
11. Cita-Cita Siswa
Cita-cita sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita harus ditanamkan sejak mulai kecil. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuannya sendiri.
B. Faktor-Faktor Ekstern Belajar
1. Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar
Guru adalah pengajar yang mendidik . Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai seorang pribadi ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia.
2. Prasarana Dan Sarana Pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi sarana olahraga, gedung sekolah ruang belajar, tempat ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan melakukan proses pembelajaran yang baik. Justru disinilah muncul bagaimana mengolah sarana dan prasarana pembelajaran sehingga terselenggara proses belajar yang berhasil dengan baik.
3. Kebijakan Penilaian
Kegiatan penilaian merupakan proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut maka proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. Pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru. Dengan demikian, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi, dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebing baik bila dibandingkan pada saat pra belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dinilai dari ukuran-ukuran guru, tingkat sekolah dan tingkat nasional. Jika digolonhkan lulus maka dapay dikatakan proses belajar siswa dan tindak mengajar guru berhenti sementara. Jika digolongkan tidak lulus, terjadilah proses belajar ulang bagi siswa dan mengajar ulang bagi guru.
4. Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah
Tiap siswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan, peranan dan tanggung jawab sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab kerjasama, kerja berkoprasi, berkompetisi, bersaing, konflik atau perkelahian.
5. Kurikulum Sekolah
Kurikulum yang diberlakukan di sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyarakat. Perubahan kurikulum sekolah menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai mungkin akan berubah, isi pendidikan berubah, kegiatan belajar mengajar berubah serta evaluasi berubah.
2.7. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
A. Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
1. Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan ( alergi, asma, dan sebagainya ).
2. Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ), pertimenampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
3. Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment ), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
4. Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
B. Faktor-faktor Eksternal ( Faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), antara lain :
a. Sekolah, antara lain :
• Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
• Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)
• Metode mengajar yang kurang memadai
• Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
b. Keluarga, antara lain :
• Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
• Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
• Keadaan ekonomi yang rendah
2.8. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin kebarhasilan belajar
1. Identifikasi Masalah Siswa
Identifkasi masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sangat memerlukan bantuan. Langkah ini "sangat mendasar sekali" dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah, untuk menentukan masalah yang dialaminya.
Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, instrumen.
2. Diagnosa
Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusanrumusan masalah siswa, jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam pelajaran, serta kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga mempengaruhi belajarnya.
3. Prognosa
Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan, apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan kepadanya.
4. Pemberian Bantuan
Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi, belajar. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan dan tugas baik individu maupun kelompok, secara rutin.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampuan yang dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggung jawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya secara tepat sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya.
5. Tindak Lanjut
Tindak lanjut kegiatan bimbingan belajar, untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan atau ketidakberhasilan, usaha-usaha memberikan bantuan pemecahan masalah yang telah diberikan.
2.9. Upaya-upaya penanggulangan masalah belajar
1. Perhatikan Mood
Untuk mengenal mood anak, seorang ibu harus mengenal karakter dan kebiasaan belajar anak. Apakah anak belajar dengan senang hati atau dalam keadaan kesal.
2. Siapkan Ruang Belajar
Kesulitan belajar anak bisa juga karena tempat yang tersedia tidak memadai. Karena itu, coba sediakan tempat belajar untuk anak. Selain itu, saat mengajari anak ini Anda bisa melakukannya dengan menularkan cara belajar yang baik.
3. Komunikasi
Masa kecil kita, pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar. Tidak bisa dipungkiri perhatian terhadap mata pelajaran, tentu ada kaitan dengan cara guru mengajar di kelas. Sempatkan juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru mereka mengajar di sekolah. Khusus soal komunikasi ini, biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif dan pandai menyampaikan pendapatnya. Selamat mencoba.
4. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan..belajar.
a. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi.
b. Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
c. Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
d. Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list.
e. Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan guru pembimbing
5. Mengalokasikan letaknya kesulutan atau permasalahannya
Dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu, seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6. Memperkirakan alternatif pertolongan
Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif)
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pada dasarnya banyak sekali faktor yang mempengaruhi proses belajar baik itu yang mendukung maupun menghambat, salah satunya adalah perilaku-perilaku dalam belajar, karena hanya perilaku lah yang dapat diamati secara langsung sehingga sangatlah penting sebelum mempersiapkan pembelajaran dan diperhatikan pula perilaku seperti apa yang sesuai dan diharapkan untuk tujuan pembelajaran.
3.2. Saran
Dengan dipahaminya masalah-masalah perilaku dalam belajar, diharapkan dapat terciptanya kegiatan pembelajan yang lebih kondusif lagi. Kenyamanan dalam pembelajaran tidak hanya dapat dirasakan oleh pendidik, namun peserta didik juga merasakan kenyamanan tersebut, sehingga pada akhirnya akan terwujud tujuan yang diharapkan dalam pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Hadis, Abdul. 2008. “Psikologi dalam Pendidikan”. Bandung : Alfabeta.
Hughes, A.G & Hughes, E.H. 2012. “Learning and Teaching Pengantar Psikologi Pembelajaran Modern”. Bandung : Nuansa.
Irham & Noval Ardy Wijayani.2013. “Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi dalam Proses pembelajaran”. Jogjakarta : Ar-Ruzz, Media,
http://aminhidayatcenter.blogspot.com/2012/02/perilaku-siswa-dalam-pembelajaran.html
http://blog.unsri.ac.id/yunifitriyah/belajar-dan-pembelajaran/masalah-masalah-belajar/mrdetail/15802/
Belajar adalah Perubahan perilaku yang tahan lama dalam ingatan yang di hasilkan dari interaksi dengan lingkungan. Menurut Cronbach (Sardiman, 1990:22), belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Balajar itu dlakukan secara sadar dan direncanakan serta dilakukan melalui proses-proses belajar, tidak secara tiba-tiba.
Faktor – faktor yang mempengaruh belajar :
a. Faktor Intern yaitu faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik. Yang termasuk ke dalam faktor intern yaitu faktor fisiologis (faktor jasmaniah, faktor kelelahan, faktor kesehatan, fisik) dan faktor psikologis (motivasi, minat, bakat, kecerdasan).
b. Faktor ekstern yaitu faktor yang bersumber dari luar diri peserta didik yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran di kelas ialah sarana belajar, suasana belajar, faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat.
2.2. Pengertian Mengajar
Mengajar adalah Aktivitas yang dilakukan oleh guru untuk mentransfer IPTEKS kepada peserta didik (Nasution, 1987).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses mengajar :
a. Faktor media pembelajaran
b. Faktor kurikulum
c. Faktor metode dan strategi pembelajaran.
2.3. Masalah Belajar
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Kesulitan dalam belajar
Menurut Blassic and Jones dalam Sugihartono dkk. (2007):149 – 150, kesulitan belajar yang di alami siswa menunjukan adanya kesenjangan atau jarak antara prestasi akademik yang di harapkan dengan prestasi akademik yang di capai oleh siswa pada kenyataannya.
Alasan siswa sulit belajar
a. Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
b. Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
c. Kesulitan mengkoordinasikan gerak tubuh
Indikator siswa yang sulit belajar
a. Tingkat kecepatan dalam menyelesaikan tugas
b. Tingkat kehadiran
c. Keaktifan dalam kelompok
d. Kemampuan kerja sama dan sosialisasi.
Jenis permasalahan belajar
a. Kekacauan belajar
Kekacauan belajar merupakan jenis permasalahan belajar yang terjadi ketika proses belajar siswa terganggu karena ada dan munculnya respons yang bertentangan dengan tujuan pembelajaran.
b. Ketidakmampuan belajar
Ketidakmampuan belajar merupakan jenis permasalahan belajar saat siswa menunjukkan gejala tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab dan alasannya sehingga hasil belajar yang dicapai berada dibawah potensi intelektualnya
c. Learning disfunction
Learning disfunction merupakan jenis permasalahan belajar yang mengacau pada adanya gejala-gejala dalam bentuk siswa tidak dapat mengikuti dan melaksanakan proses belajar dan pembelajaran dengan baik (Sugiharto dkk., 2007: 151).
d. Under achiever
Under achiever merupakan jenis permasalahan belajar yang terjadi dan dialami oleh siswa dengan potensi intelektual tinggi dan atau tingkat kecerdasan di atas rata-rata normal, tetapi prestasi belajar yang ia capai tergolong rendah (Sugihartono dkk., 2007: 151 ).
e. Lambat belajar.
Masalah lambat belajar merupakan jenis permasalahan yang disebabkan siswa sangat lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguasai materi pelajaran dibandingkan siswa lain dengan tingkat potensi intelektual yang sama. Kesulitan belajar pada seorang siswa sangat mungkin akan bersifat menetap atau mungkin juga hanya sementara dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Kesulitan belajar akan berbeda-beda pada masing-masing siswa.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004: 78 ), terdapat beberapa macam kesulitan belajar pada siswa sebagai berikut :
a. Dilihat dari jenis kesulitannya
Kesulitan belajar dikelompokkan menjadi kesulitan belajar ringan, kesulitan belajar sedang, dan kesulitan belajar yang berat.
b. Dilihat dari jenis bidang studi yang di pelajarinya
Kesulitan belajar pada siswa dapat berupa kesulitan belajar pada sebagian kecil maupun sebagian besar bidang studi.
c. Dilihat dari sifat kesulitan belajarnya
Kesulitan belajar pada siswa dapat berupa kesulitan belajar yang sifatnya hanya sementara.
d. Di lihat dari faktor penyebabnya
Kesulitan belajar pada siswa dapat berupa kesulitan belajar karena faktor intelegensia dan kesulitan belajar karena faktor non-inteligensi
2.4. Perilaku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran
a. Siswa yang cepat dalam belajar
Siswa yang tergolong cepat dalam belajar, pada umumnya dapat menyesuaikan kegiatan belajar dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan. Anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata temannya bisa dijadikan tutor sebaya di dalam pembelajaran.
b. Siswa yang kreatif
Siswa yag kreatif ini pada umumnya siswa dari golongan cepat, tapi banyak pula yang dari golongan normal (rata-rata). Mereka selalu ingin memecahkan persoalan, berani menanggung resiko yang sulit sekalipun, lebih senang bekerja sendiri, dan sebagainya.
c. Siswa yang memiliki kapasitas mental
Dalam tahap perkembangan tertentu, individu mempunyai kapasitas mental yang berkembang akibat dari pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisiologis pada sistem syaraf dan jaringan otak. Kapasitas-kapasitas seseorang dapat diukur dengan tes-tes intelegensi dan tes-tes bakat. Kapasitas adalah potensi untuk mempelajari serta mengembangkan berbagai keterampilan/kecakapan.
d. Siswa yang memiliki kondisi kesehatan yang baik
Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat dan stamina yang fit. Orang yang badannya sakit akibat penyakit-penyakit atau minimal kelelahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. Pusing kepala, mual-mual dan badan gatal-gatal apalagi terkait dengan cacat-cacat fisik juga menggangu hal belajar.
e. Siswa yang memiliki motivasi
Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan, motif, dan tujuan, sangat mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. Motivasi adalah penting bagi proses belajar, karena motivasi menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan, serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupan individu.
2.5. Perilaku Siswa yang Menghambat Proses Pembelajaran
Tidak dipungkiri bahwa tujuan utama dari kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah agar siswa dapat menguasai bahan-bahan ajar sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Beberapa faktor yang bersumber dari siswa yang dapat menghambat proses belajar mengajar, antara lain :
a. Tingkat kecerdasan rendah
Tidak diragukan lagi bahwa taraf kecerdasan atau kemampuan dasar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar.
b. Kesehatan sering terganggu
Belajar tidak hanya melibatkan pikiran, tetapi juga jasmaniah badan yang sering sakit-sakitan, kurang vitamin, dan kurang gizi, dapat membuat seseorang tidak berdaya, tidak bersemangat, dan tidak memiliki kemampuan dalam belajar, maka besar kemungkinan orang yang bersangkutan tidak dapat mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan.
c. Alat penglihatan dan pendengaran kurang berfungsi dengan baik
Penglihatan dan pendengaran merupakan alat indera yang terpenting untuk belajar. Apabila mekanisme mata atau telinga kurang berfungsi, maka tanggapan yang disampaikan dari dunia luar umpamanya dari guru, tidak mungkin dapat diterima oleh orang yang bersangkutan. Oleh sebab itu, siswa tidak dapat menerima dan memahami bahan-bahan pelajaran, baik yang disampaikan langsung oleh guru maupun melalui buku-buku bacaan.
d. Gangguan alat perseptual
Setelah sesuatu pesan diterima oleh mata dan telinga, langkah berikutnya dalam proses belajar adalah mengirimkan pesan itu ke otak, sehingga pesan itu dapat ditafsirkan. Langkah itu disebut persepsi. Apa sebenarnya yang terjadi dalam persepsi adalah proses pengolahan tanggapan baru (yang diterima melalui indera) dengan pertolongan ini akan menghasilkan dan memberikan arti atau makna tertentu kepada tanggapan yang diterima tetapi persepsi itu bisa juga salah, kalau ada gangguan-gangguan pada alat perseptual. Dalam hal ini tanggapan yang diterima oleh alat indera tidak dapat diartikan sebagaimana mestinya.
e. Tidak menguasai cara-cara belajar
Kegagalan belajar tidak semata-mata disebabkan oleh tingkat kecerdasan rendah atau faktor-faktor kesehatan, tetapi juga dapat disebabkan karena tidak menguasai cara-cara belajar yang baik. Untuk memungkinkan siswa tersebut dapat menerapkan cara-cara belajar yang baik, sejak dini siswa hendaklah diperkenalkan dan dibiasakan menerapkan cara-cara belajar yang baik dalam kehidupannya sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
2.6. Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses belajar
A. Faktor Internal belajar
1. Sikap Terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikannya begitu saja. Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran tersebut. Maka siswa sebaiknya mempertimbangkan masak-masak akibat sikap terhadap belajar.
2. Motivasi Belajar
Tidak diragukan bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus. Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.
3. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.
Menurut seorang ilmuan ahli psikologis kekuatan belajar seseorang setelah tiga puluh menit telah mengalami penurunan. Ia menyarankan agar guru melakukan istirahat selama beberapa menit. Istirahat ini tidak harus keluar kelas melainkan dapat berupa obrolan ringan yang mampu membuat siswa merasa rileks kembali. Dengan memberikan selingan istirahat, maka perhatian dan prestasi belajar dapat ditingkatkan.
4. Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai nilai dari suatu ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar.
5. Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang. Proses belajar terdiri dari proses pemasukan , proses pengolahan kembali dan proses penggunaan kembali.
6. Menggali Hasil Belajar Yang Tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal baru maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama maka siswa akan memanggil atau membangkitkan kembalipesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar. Ada kalanya siswa mengalami gangguan dalam menggali pesan dan kesan lama. Gangguan tersebut bukan hanya bersumber pada pemanggilan atau pembangkitannya sendiri. Gangguan tersebut dapat dikarenakan kesukaran penerimaan, pengolahan dan penyimpanan. Jika siswa tidak memperhatikan dengan baik pada saat penerimaan maka siswa tidak memiliki apa apa. Jika siswa tidak berlatih sungguh sungguh maka siswa tidak akan memiliki ketrampilan.
7. Kemampuan Berprestasi
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan.
8. Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Semakin sering siswa mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka siswa akan merasa lemah percaya dirinya.
9. Intelegensi Dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. Dengan perolehan hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesungguhan belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu rendah .
10. Kebiasaan Belajar
Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih dan menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat bergaya pemimpin, bergaya jantan seperti merokok.
11. Cita-Cita Siswa
Cita-cita sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita harus ditanamkan sejak mulai kecil. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuannya sendiri.
B. Faktor-Faktor Ekstern Belajar
1. Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar
Guru adalah pengajar yang mendidik . Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai seorang pribadi ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia.
2. Prasarana Dan Sarana Pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi sarana olahraga, gedung sekolah ruang belajar, tempat ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan melakukan proses pembelajaran yang baik. Justru disinilah muncul bagaimana mengolah sarana dan prasarana pembelajaran sehingga terselenggara proses belajar yang berhasil dengan baik.
3. Kebijakan Penilaian
Kegiatan penilaian merupakan proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut maka proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. Pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru. Dengan demikian, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi, dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebing baik bila dibandingkan pada saat pra belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dinilai dari ukuran-ukuran guru, tingkat sekolah dan tingkat nasional. Jika digolonhkan lulus maka dapay dikatakan proses belajar siswa dan tindak mengajar guru berhenti sementara. Jika digolongkan tidak lulus, terjadilah proses belajar ulang bagi siswa dan mengajar ulang bagi guru.
4. Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah
Tiap siswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan, peranan dan tanggung jawab sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab kerjasama, kerja berkoprasi, berkompetisi, bersaing, konflik atau perkelahian.
5. Kurikulum Sekolah
Kurikulum yang diberlakukan di sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyarakat. Perubahan kurikulum sekolah menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai mungkin akan berubah, isi pendidikan berubah, kegiatan belajar mengajar berubah serta evaluasi berubah.
2.7. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
A. Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
1. Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan ( alergi, asma, dan sebagainya ).
2. Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ), pertimenampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
3. Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment ), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
4. Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
B. Faktor-faktor Eksternal ( Faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), antara lain :
a. Sekolah, antara lain :
• Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
• Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)
• Metode mengajar yang kurang memadai
• Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
b. Keluarga, antara lain :
• Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
• Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
• Keadaan ekonomi yang rendah
2.8. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin kebarhasilan belajar
1. Identifikasi Masalah Siswa
Identifkasi masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sangat memerlukan bantuan. Langkah ini "sangat mendasar sekali" dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah, untuk menentukan masalah yang dialaminya.
Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, instrumen.
2. Diagnosa
Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusanrumusan masalah siswa, jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam pelajaran, serta kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga mempengaruhi belajarnya.
3. Prognosa
Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan, apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan kepadanya.
4. Pemberian Bantuan
Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi, belajar. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan dan tugas baik individu maupun kelompok, secara rutin.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampuan yang dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggung jawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya secara tepat sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya.
5. Tindak Lanjut
Tindak lanjut kegiatan bimbingan belajar, untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan atau ketidakberhasilan, usaha-usaha memberikan bantuan pemecahan masalah yang telah diberikan.
2.9. Upaya-upaya penanggulangan masalah belajar
1. Perhatikan Mood
Untuk mengenal mood anak, seorang ibu harus mengenal karakter dan kebiasaan belajar anak. Apakah anak belajar dengan senang hati atau dalam keadaan kesal.
2. Siapkan Ruang Belajar
Kesulitan belajar anak bisa juga karena tempat yang tersedia tidak memadai. Karena itu, coba sediakan tempat belajar untuk anak. Selain itu, saat mengajari anak ini Anda bisa melakukannya dengan menularkan cara belajar yang baik.
3. Komunikasi
Masa kecil kita, pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar. Tidak bisa dipungkiri perhatian terhadap mata pelajaran, tentu ada kaitan dengan cara guru mengajar di kelas. Sempatkan juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru mereka mengajar di sekolah. Khusus soal komunikasi ini, biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif dan pandai menyampaikan pendapatnya. Selamat mencoba.
4. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan..belajar.
a. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi.
b. Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
c. Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
d. Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list.
e. Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan guru pembimbing
5. Mengalokasikan letaknya kesulutan atau permasalahannya
Dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu, seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6. Memperkirakan alternatif pertolongan
Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif)
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pada dasarnya banyak sekali faktor yang mempengaruhi proses belajar baik itu yang mendukung maupun menghambat, salah satunya adalah perilaku-perilaku dalam belajar, karena hanya perilaku lah yang dapat diamati secara langsung sehingga sangatlah penting sebelum mempersiapkan pembelajaran dan diperhatikan pula perilaku seperti apa yang sesuai dan diharapkan untuk tujuan pembelajaran.
3.2. Saran
Dengan dipahaminya masalah-masalah perilaku dalam belajar, diharapkan dapat terciptanya kegiatan pembelajan yang lebih kondusif lagi. Kenyamanan dalam pembelajaran tidak hanya dapat dirasakan oleh pendidik, namun peserta didik juga merasakan kenyamanan tersebut, sehingga pada akhirnya akan terwujud tujuan yang diharapkan dalam pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Hadis, Abdul. 2008. “Psikologi dalam Pendidikan”. Bandung : Alfabeta.
Hughes, A.G & Hughes, E.H. 2012. “Learning and Teaching Pengantar Psikologi Pembelajaran Modern”. Bandung : Nuansa.
Irham & Noval Ardy Wijayani.2013. “Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi dalam Proses pembelajaran”. Jogjakarta : Ar-Ruzz, Media,
http://aminhidayatcenter.blogspot.com/2012/02/perilaku-siswa-dalam-pembelajaran.html
http://blog.unsri.ac.id/yunifitriyah/belajar-dan-pembelajaran/masalah-masalah-belajar/mrdetail/15802/
Comments
Post a Comment