Skip to main content

Makalah Pengertian Karya Ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Karya ilmiah merupakan salah satu karya tulis yang banyak digunakan dalam pendidikan. Termasuk salah satunya dalam hal mengerjakan tugas. Karya ilmiah ini menjadi suatu bukti atau laporan seseorang bahwa dirinya telah melakukan suatu riset atau penelitian, sehingga apa yang dipaparkan dalam sebuah karya ilmiah bukan merupakan suatu fantasi saja tetapi nyata dan dapat dibuktikan.
Karena sering digunakan, maka penulisan dan penyusunannya pun harus selalu diperhatikan. Baik dalam segi pengumpulan data, pencarian informasi, pembuktian atau penelitian, sampai kepada penyusunan laporan harus tersusun dengan benar. Meskipun beberapa diantaranya suatu karya ilmiah tidak disusun dengan detail, seperti pada koran dan media massa lainnya tetapi tetap ada bagian-bagian yang harus dicantumkan dalam suatu karya ilmiah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan karya ilmiah?
2. Bagaimana tahap dalam penyusunan sebuah karya ilmiah?
3. Sistematika apa saja yang digunakan dalam karya ilmiah?
4. Apa saja ragam dalam karya ilmiah?
C. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari karya ilmiah dan yang membedakan antara karya ilmiah dengan karya tulis lain.
2. Mengetahui tahapan yang dilakukan dalam penyusunan dan penulisan karrya ilmiah.
3. Mengetahui sistematika dan membedakan sistematika dalam setiap jenis penulisan karya tulis ilmiah.
4. Mengetahui ragam karya ilmiah. 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan tulisan yang disusun dengan metode ilmiah, yakni metode yang berdasarkan cara berpikir yang sistematis dan logis. Karya ilmiah menyajikan masalah-masalah yang objektif dan faktual. Apabila uraian yang mengemukakan sesuatu yang faktual atau benar-benar terjadi, tulisan tersebut diklasifikasikan ke dalam karya ilmiah. Apabila paparannya mengungkapkan hal-hal yang bersifat imajinatif, tulisan tersebut termasuk ke dalam karya non ilmiah atau fiksi.
Pembahasan karya ilmiah dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang diperoleh melalui suatu penelitian. Karya tulis ilmiah melalui penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang sistematis untuk memperoleh jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang diteliti. Untuk memperjelas jawaban ilmiah berdasarkan penelitian, penulisan karya tulis ilmiah hanya dapat dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas melalui penelitian dan kesimpulan dari penelitian tersebut. Dalam karya tulis ilmiah ciri-ciri keilmiahan dari suatu karya harus dapat dipertanggung jawabkan secara empiris dan objektif.
Karya ilmiah memerlukan kelugasan dalam pembahasannya. Karya ilmiah menghindari penggunaan kata dan kalimat yang bermakna ganda. Karya ilmiah mensyaratkan ragam yang memberikan keajekan dan kepastian makna. Dengan kata lain, bahasa yang digunakannya itu harus reproduktif.
Dalam penelitian yang digunakan sebagai bahan penulisan karya tulis ilmiah mengutip pernyataan orang lain sebagai dasar atau sebagai landasan penyusunan penelitian. Pernyataan ilmiah ini digunakan untuk bermacam-macam tujuan sesuai dengan bentuk argumentasi yang diajukan. Pernyataan tersebut dapat digunakan sebagai definisi dalam menjelaskan suatu konsep, atau dapat digunakan sebagai premis dalam pengambilan kesimpulan pada suatu argumentasi.
B. Tahap Penyusunan Karya Ilmiah
Berikut ini akan dijelaskan tentang tahapan penyusunan karya ilmiah menurut Zaenal Arifin (2003) sebagaimana dikutip oleh Bambang Dwiloka dan Rati Riana (2005:9-24). Pada dasarnya, dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap, yaitu :
1. Persiapan
a. Pemilihan Topik/Masalah
Topik/Masalah adalah pokok pembicaraan. Dalam memilih topik/masalah, Arifin (2003:8) memberikan beberapa pertimbangan :
1) Topik yang dipilih harus berada di sekitar kita, baik di sekitar pengalaman kita maupun di sekitar pengetahuan kita. Hindarilah topik yang jauh dari kita karena hal itu akan menyulitkan kita ketika menggarapnya.
2) Topik yang dipilih harus topik yang paling menarik perhatian kita.
3) Topik yang dipilih terpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan terbatas. Hindari pokok masalah yang menyeret kita kepada pengumpulan informasi yang beraneka ragam.
4) Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang obyektif. Hindari topik yang bersifat subyektif, seperti kesenangan atau angan-angan kita.
5) Topik yang dipilih harus kita ketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, walaupun serba sedikit. Artinya topik yang dipilih itu janganlah terlalu baru bagi kita.
6) Topik yang dipilih harus memiliki sumber acuan, memiliki bahan kepustakaan yang dapat memberikan informasi tentang pokok masalah yang hendak ditulis. Sember kepustakaan dapat berupa buku, majalah, jurnal, surat kabar, brosur, surat keputusan, situs web, atau undang-undang.
b. Pembatasan Topik dan Penentuan Judul
Jika topik sudah ditentukan dengan pasti sesuai dengan petunjuk-petunjuk, kita tinggal menguji sekali lagi; apakah topik itu betul-betul cukup sempit dan terbatas ataukah masih terlalu umum dan mengambang. Jika sudah dilakukan pembatasan topik, judul karya ilmiah bukanlah hal yang sulit ditentukan karena pada dasarnya langkah-langkah yang ditempuh dalam pembatasan topik sama saja dengan langkah-langkah dalam penentuan judul. Perbedaannya adalah pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah, sedangkan penentuan judul dapat dilakukan sebelum atau sesudah penulisan karya ilmiah. Jika sudah ada topik yang terbatas, karya ilmiah sudah dapat mulai digarap walaupun judul belum ada.
Selain dengan pembatasan topik, penentuan judul karya ilmiah dapat pula ditempuh dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan masalah apa, mengapa, bagaimana, di mana dan kapan. Tentu saja, tidak semua pertanyaan itu harus dijawab pada penentuan judul. Dalam sebuah judul, adakalanya dibatasi dengan memberi sub judul. Sub judul selain berfungsi membatasi judul juga berfungsi sebagai penjelas atau keterangan judul utama. Dalam hal seperti itu, antara judul utama dan sub judul harus dibubuhan tanda baca titik dua (:).
c. Pembuatan Kerangka Karya (outline)
Pada prinsipnya, penyusunan kerangka karangan karya adalah proses penggolongan dan penataan berbagai fakta, yang kadang-kadang berbeda jenis dan sifatnya, menjadi kesatuan yang berpautan. Penyusun karya ilmiah dapat membuat ragaan buram, yakni ragaan yang hanya memuat pokok-pokok gagasan sebagai pecahan dari topik yang sudah dibatasi, atau dapat juga membuat ragaan kerja, yaitu ragaan yang sudah merupakan perluasan atau penjabaran dari ragaan buram. Tentu saja, jenis kedua memudahkan penyusunan untu mengembangkan karya (Moeliono, 1998:1; Arifin, 2003:15).
Penulis karya ilmiah harus menentukan dahulu judul-judul bab dan judul subbab sebelum menentukan kerangka karya. Judul bab dan judul subbab itu merupakan pecahan masalah dari judul karya ilmiah yang ditentukan. Jika ragaan telah selesai dibuat, langkah berikutnya adalah pembuatan rencana daftar isi karya ilmiah. Kita perlu membuat rencana daftar isi yang lengkap, pada bagian awal dilengkapi dengan tajuk prakata, daftar isi, daftar table (jika ada), daftar gambar (jika ada), daftar lampiran (jika ada). Bab Pedahuluan/Bab I terdiri atas latar belakang masalah, identifikasi masalah, cakupan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian. Kemudian dalam bagian terakhir daftar isi dicantumkan tajuk bab simpulan dan saran, daftar pustaka dan lampiran (jika ada).
Pada dasarnya, penulis karya ilmiah mempunyai hak prerogatif untuk menyusun daftar isinya sendiri. Akan tetapi, paling sedikit sebuah karya ilmiah berisi tiga bab, yaitu pendahuluan, isi atau analisis, dan penutup. Jika isi atau analisis itu agak luas, kita dapat memecah isu itu menjadi dua atau lebih bab sehingga kaya ilmiah menjadi empat bab atau lebih.
2. Pengumpulan data
Dalam diskursus ilmu penelitian, data dapat dikumpulkan melalui pengamatan (observasi), wawancara atau eksperimen (percobaan). Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam pengumpulan data adalah :
a. Pencarian informasi/keterangan dari bahan bacaan, seperti buku, surat kabar dan majalah yang relevan dengan topik tulisan.
b. Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan ditulis
c. Pengamatan langsung ke obyek yang akan diteliti
d. Percobaan dan pengujian di lapangan atau di laboratorium
3. Pengorganisasian dan pengonsepan
Jika data sudah terkumpul, penyusun menyeleksi dan mengorganisasi data tersebut. Penyusun harus menggolongkan data menurut jenis, sifat atau bentuk. Penyusun menentukan data mana yang akan dibicarakan kemudian. Jadi, penyusun harus mengolah dan menganalisis data yang ada dengan teknik-teknik yang ditentukan. Misalnya, jika penelitian bersifat kuantitatif, data diolah dan dianalisis dengan teknik statistic. Selanjutnya, penyusun dapat mulai mengonsep karya ilmiah itu dengan urutan dalam ragaan yang ditetapkan.
4. Pemeriksaan/penyuntingan konsep
Sebelum mengetik konsep, penyusun terlebih dahulu memeriksanya. Tentu ada bagian yang tumpang tindih atau ada penjelasan yang berulang-ulang. Buanglah penjelasan yang tidak perlu dan tambahkan penjelasan yang dirasakan sangat menunjang pembahasan. Secara ringkas, pemeriksaan konsep mencakup pemeriksaan isi karya dan cara penyajian karya, termasuk penyuntingan bahasa yang digunakan.
5. Penyajian/pengetikan
Dalam mengetik naskah, penyusun hendaklah memperhatikan segi kerapian dan kebersihan. Penyusun memperlihatkan tata letak unsur-unsur dalam karya ilmiah. Misalnya penyusun menata unsur-unsur yang tercantum dalam kulit luar, unsur-unsur dalam halaman judul, unsur-unsur dalam daftar isi, dan unsur-unsur dalam daftar pustaka.
C. Sistematika Karya Ilmiah
Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah Karya tulis ilmiah bermacam ragam sifat dan bentuknya. Karena itu sangatlah sukar untuk menyamaratakan sistematika penulisan karya tulis ilmiah. Namun demikian, untuk kepentingan penulisan karya tulis ilmiah dalam konteks pendidikan dan latihan ini, akan dikemukakan suatu bentuk sistematika yang menyerupai laporan suatu hasil penelitian. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah, terutama dalam bentuk skripsi, tesis, desertasi, atau jurnal ilmiah, adalah memberikan idea atau fakta umum yang dihasilkan dari sebuah penelitian atau penelusuran pembenaran kepada para pembaca. Agar efektif informasi perlu dikomunikasikan dalam satu cara yang jelas dan mudah dimengerti. Kejelasan adalah faktor utama. Para pembaca tidak menjadi harus bertanya-tanya bagaimana penelusuran dilakukan dan asumsi-asumsi yang mendasari hasil yang ditemukan.
Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah Karya tulis ilmiah bermacam ragam sifat dan bentuknya. Agar efektif informasi perlu dikomunikasikan dalam satu cara yang jelas dan mudah dimengerti. Kejelasan adalah faktor utama. Para pembaca tidak menjadi harus bertanya-tanya bagaimana penelusuran dilakukan dan asumsi-asumsi yang mendasari hasil yang ditemukan. Selain kejelasan, karakteristik penting lain dalam suatu karya tulis ilmiah adalah:
1. Pengorganisasian idea atau gagasan dari setiap bagian atau sub-bagian dan tingkat koherensi serta kesinambungan logika;
2. Penyajiannya tepat dan akurat, termasuk dalam tata bahasa dan tanda-tanda baca yang digunakan;
3. Utuh dalam menyuguhkan fakta-fakta untuk mendukung kejelasan;
4. Bernas (singkat dan padat) menghindari materi-materi yang tidak diperlukan tetapi tambahkan materi materi yang akan memberikan kejelasan dan keutuhan.
Secara umum, bentuk penyajian karya tulis terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu:
1. Bentuk popular
Karya ilmiah bentuk ini sering disebut karya ilmiah popular. Bentuknya manasuka. Karya ilmiah bentuk ini bisa diungkapkan dalam bentuk karya ringkas. Ragam bahasanya bersifat santai. Karya ilmiah popular umumnya dijumpai dalam media massa, seperti koran atau majalah. Istilah popular digunakan untuk menyatakan topic yang akrab, menyenangkan bagi rakyat atau disukai orang kebanyakan karena gayanya yang menarik dan bahasanya mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya sederhana, lancar, namun tidak berupa senda gurau dan tidak pula bersifat fantasi (rekaan).
2. Bentuk semiformal
Secara garis besar, karya ilmiah bentuk ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Halaman judul
b. Kata pengantar
c. Daftar isi
d. Pendahuluan
e. Pembahasan
f. Kesimpulan
g. Daftar pustaka
Bentuk karya ilmiah semiformal, umumnya digunakan dalam berbagai jenis laporan biasa dan makalah.
3. Bentuk formal
Karya ilmiah bentuk formal disusun dengan memenuhi unsur-unsur kelengkapan akademis secara lengkap, seperti dalam skripsi, tesis, atau disertasi. Unsur-unsur karya ilmiah benetuk formal meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Judul
b. Tim pembimbing
c. Kata pengantar
d. Abstrak
e. Daftar isi
f. Bab pendahuluan
g. Bab telaah keputusan/kerangka teoritis
h. Bab metode penelitian
i. Bab pembahasan hasil penelitian
j. Bab kesimpulan dan rekomendasi
k. Daftar pustaka
l. Lampiran-lampiran
m. Riwayat hidup
D. Ragam Karya Ilmiah
Karya ilmiah tidak selalu identik dengan hasil penelitian, namun hasil penelitian merupakan salah satu jenis karya ilmiah. Berikut ini adalah jenis-jenis karya ilmiah secara umum:
1. Artikel
Artikel merupakan karya tulis yang dimuat di dalam surat kabar, majalah, atau jurnal, dan sebagainya. Isinya menyajikan pembahasan tentang tema tertentu atau hasil penelitian. Bentuk penyajian artikel pada umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu bersifat populer dan formal.
a. Artikel populer. Terdapat dalam majalah dan surat kabar. Format penyajiannya tidak kaku, tidak tegas antara bagian pembuka, isi, dan penutup. Bahasa yang digunakan tidak baku, biasanya bahasa yang biasa dipakai masyarakat pada umumnya;
b. Artikel formal. Terdapat dalam jurnal. Format penyajiannya terikat oleh ketentuan-ketentuan baku, seperti adanya abstrak, kata-kata kunci, dan daftar pustaka ataupun catatan kaki. Bagian isi dinyatakan secara tegas antara bab pendahuluan/pembukaan, bab isi, dan bab penutup. Bahasa yang digunakan bersifat teknis. Banyak istilah ilmiah yang digunakan di dalamnya.
2. Laporan
Laporan adalah suatu cara komunikasi dari penulis untuk menyampaikan hal-hal penting kepada seseorang atau suatu badan hukum sehubungan dengan tugas yang dibebankan kepadanya. Pembuatan laporan sangatlah perlu, terutama dalam kaitannya dengan penyusunan kebijakan-kebijakan seperti berikut ini:
a. Mengatasi suatu masalah;
b. Mengambil suatu keputusan yang lebih efektif;
c. Mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah;
d. Mengadakan pengawasan dan perbaikan, serta;
e. Menemukan teknik-teknik baru.
Menurut isinya, laporan dapat berupa buku, laporan wawancara, laporan diskusi, laporan perjalanan, laporan pengamatan, laporan peristiwa, dan laporan penelitian.
3. Makalah
Makalah adalah karya ilmiah yang membahas suatu persoalan dengan pemecahan yang didasarkan paha hasil kajian literatur atau lapangan yang disusun untuk pertemuan-pertemuan ilmiah seperti simposium, seminar, atau lokakarya.
Makalah biasa disebut paper yang ditujukan untuk memenuhi tugas kuliah atau pelajaran. Dikenal juga dengan sebutan kertas kerja, yakni jenis makalah yang disusun oleh seorang pejabat yang dibawakannya dalam suatu pertemuan.
Adapun karakteristik makalah, sebagai berikut:
a. Merupakan hasil kajian pustaka dan atau laporan pelaksanaan suatu kegiatan lapangan yang sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan.
b. Mengilustraskan pemahaman mahasiswa dalam menerapkan suatu prosedur, prinsi[, atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan.
c. Menunjukkan kemampuan pemahaman mahasiswa terhadap isi dari berbagai sumber yang digunakan.
d. Mendemonstrasikan kemampuan mahasiswa dalam meramu berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintesis yang utuh.
Makalah terbagi ke dalam dua jenis, yaitu makalah biasa dan makalah posisi.
a. Makalah biasa dibuat untuk menunjukkan pemahaman terhadap permasalahan yang dibahas. Penulis mengemukakan berbagai aliran atau pandangan tentang masalah yang dikaji dan juga Ia memberikan pendapat berupa kritik dan saran mengenai aliran atau pendapat yang dikemukakan. Dalam makalah ini penulis tidak perlu memihak salah satu aliran dan beragumentasi untuk mempertahankan pendapat tersebut.
b. Makalah posisi dibuat untuk menunjukkan posisi teoritik seorang penulis (mahasiswa) dalam suatu kajian. Penulis dituntut tidak hanya menunjukkan penguasaan terhadap suatu teori atau pandangan tertentu, tetapi juga harus menunjukkan sikapnya dalam sudut pandang keilmuan disertai dengan alasan yang didukung oleh teori atau data yang relevan. Dalam menyusun makalah posisi, mahasiswa harus mempelajari berbagai sumber tentang aliran dan pendapat tertentu dari sudut pandang yang berbeda-beda dan bahkan yang saling bertentangan. Dalam bahasannya mahasiswa dapat memihak salah satu aliran atau dapat membuat suatu sintesis dari berbagai pendapat yang ada. Dengan demikian mahasiswa dituntut memiliki kemampuan analisis, sintesis, dan evaluasi yang baik dalam membuat makalah.
Makalah biasa dan posisi terdiri atas pendahuluan, isi, dan kesimpulan.
a. Pendahuluan
Bagian ini menguraikan masalah yang akan dibahas yang meliputi latar belakang maslaah, perumusan masalah, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika pembahasan.
b. Isi
Bagian ini memuat uraian tentang hasil kajian penulisan dalam mengeksplorasi jawaban terhadap masalah yang diajukan, yang dilengkapi oleh pendukung serta argumen-argumen yang berlandaskan pandangan pakar dan teori yang relevan. Bagian ini boleh saja terdiri lebih dari satu bagian.
c. Kesimpulan
Bagian ini merupakan kesimpulan dan bukan ringkasan isi. Kesimpulan adalah makna yang diberikan penulis terhadap hasil diskusi/uraian yang telah dibuatnya pada bagian isi. Dalam mengambil kesimpulan tersebut, penulis makalah harus mengacu kembali ke permasalahan yang diajukan dalam bagian pendahuluan.
4. Skripsi
Skripsi adaalah karya tulis ilmiah seorang mahasiswa dalam menyelesaikan program sarjana (S-1). Skripsi menggambarkan kemampuan akademik mahasiswa dalam merancang, melaksanakan, dan menyusun laporan penelitian pendidikan bidang studi atau penelitian yang berkenaan dengan masalah dalam bidang studinya.
Karakteristik skripsi adalah sebagai berikut:
a. Skripsi difokuskan pada eksplorasi permasalahan dan atau pemecahan masalah dibidang tertentu sesuai dengan jurusan penulisnya.
b. Skripsi ditulis berdasarkan hasil pengamatan dan observasi lapangan dan atau penelaahan kepustakaan.
5. Tesis
Tesis adalah karya tulis ilmiah seorang studi mahasiswa dalam menyelesaikan program magister (S-2). Tesis melukiskan kemampuan akademik dalam merancang, melaksanakan, dan menyusun laporan penelitian pendidikan.
Karakteristik tesis adalah sebagai berikut:
a. Berfokus pada kajian satu isu sentral dalam satu disiplin ilmu, sesuai dengan program studi yang ditempuh oleh mahasiswa tersebut.
b. Merupakan pengujian empirik terhadap posisi teoretik tertentu dalam disiplin ilmu yang dipelajari.
c. Menggunakan data primer(data yang dikumpulkan dari lapangan) sebagai data utama dan dapat ditunjang oleh data sekunder. Untuk penelitian bibliografi, digunakan sumber otentik.
6. Disertasi
Disertasi adalah karya tulis ilmiah resmi akhir studi mahasiswa dalam menyelesaikan program Doktor (S-3). Disertasi menggambarkan kemampuan akademik dalam merancang melaksanakan, dan menyusun laporan penelitian yang berhubungan dengan temuan baru dalam satu disiplin ilmu. Disertasi yang disusun dan dipertahankan dalam ujian sidang untuk memperoleh gelar Doktor.
Karakteristik disertasi adalah sebagai berikut:
a. Berfokus pada kajian mengenai satu disiplin tertentu sesuai dengan bidang studi yang dipelajari.
b. Kajiannya bersifat mendalam dan berfokus pada penemuan yang baru dalam disiplin ilmu yang dipelajari.
c. Disertasi dapat berupa pengujian terhadap teori yang telah ada, pengembangan teori dan prinsip-prinsip baru, atau pengembangan model baru yang diujikan di lapangan, dan bila diperlukan dapat ditunjang oleh data sekunder.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Karya ilmiah merupakan tulisan yang disusun dengan metode ilmiah, yakni metode yang berdasarkan cara berpikir yang sistematis dan logis. Pembahasan karya ilmiah dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang diperoleh melalui suatu penelitian
Penulisan karya ilmiah meliputi tahap persiapan, pengumpulan data, pengorganisasian dan pengonsepan, pemeriksaan/penyuntingan konsep, dan penyajian atau pengetikan.
Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah Karya tulis ilmiah bermacam ragam sifat dan bentuknya. Secara umum, bentuk penyajian karya tulis terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu bentuk popular, bentuk semiformal, dan bentuk fomal.
Sedangkan karya ilmiah terbagi ke dalam enam ragam, diantaranya artikel, laporan, makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.
B. Saran
Penyusun berharap, setelah membaca makalah ini para pembaca dapat memahami secara merinci tentang konsep dasar perkembangan peserta didik, serta dapat menerapkan dalam kalangan dunia pendidikan khususnya bagi para tenaga pendidik yang berperan dalam dunia pendidikan.

Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Perkembangan Definisi Teknologi Pendidikan Tiap Tahun

1. Definisi awal Teknologi Pendidikan (1920),  teknologi pendidikan dipandang sebagai media, media ini sebagai media pembelajaran visual yang berupa film, gambar, dan tampilan media ini menampilkan suatu mata pelajaran. 2. Definisi (AECT) 1963. “Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar” 3. Definisi Commission Instruction Technology (CIT) 1970 “Dalam pengertian yang lebih umum, teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran disamping guru, buku teks, dan papan tulis. Bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film,OHP, computer dan bagan perangkat keras maupun lunak lainnya.” 4. Definisi Silber 1970 “ Teknologi Pembelajaran adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan pasokan, pemanfaatan) komponen s...