BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Berdasarkan hasil pengamatan kami terhadap masalah-masalah pendidikan khususnya dari segi teknis dan konsepnya terlebih lagi setelah penggantian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ke kurikulum 2013.
Kami menyadari, bahwa masih banyak orang yang belum memahami dan mampu membedakan antara model desain dengan model pembelajaran.
Di sini kami tidak akan memaparkan mengenai Model Pembelajaran karena kami menganggap pembaca telah memahaminya dari literatur lain.
Namun, disini kami akan lebih fokus dalam mempelajari model desain karena secara teknisnya ketika seseorang khususnya pendidik akan membuat RPP harus terlebih dahulu memahami pembahasan mengenai model desain dan mengetahui berbagai jenis model desain.
Adapun model desain yang akan kami kaji disini adalah model desain pelatihan Air Force (1975) mulai dari pendekatan filosofis teotik hingga kekurangan dan kelebihan.
B. Rumusan masalah
Jika dilihat dari latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan beberapa masalah di bawah ini:
1. Apa konsep dasar model desain Air Force?
2. Apa pendekatan filosofis dan teoritik dari dikembangkannya model desain Air Force?
3. Bagaimana prosedur pengembangan model desain Air Force?
4. Bagaimana aplikasi dari model desain Air Force?
C. Tujuan
Setelah melihat rumusan masalah di atas, maka diperoleh beberapa tujuan diantaranya:
1. Untuk memberikan pemahaman mengenai konsep dasar model desain Air Force.
2. Untuk memberikan pemehaman mengenai pendekatan filosofis teoritik dari model desain Air Force.
3. Untuk menguraikan prosedur-prosedur yang harus di laksanakan ketika mengembangkan model desain Air Force.
4. Untuk memberitahukan aplikasi model desain Air Force
D. Manfaat
Dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan koleksi model desain yang telah pembaca pelajari sehingga dapat mempermudah pembaca ketika akan memilih model desain apa yang akan digunakan.
BAB II
MODEL DESAIN AIR FORCE (1975)
A. Konsep Dasar Model Desain Air Force
Model desain pelatihan ini merupakan model desain pelatihan yang awalnya digunakan oleh angkatan militer Amerika khususnya angkatan udara dengan tujuan agar setiap personil angkatan udara dapat melakukan pekerjaannya secara efektif dan efisien yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan karena dirasa model desain pelatihan Air Force/ ISD ini telah berhasil dengan baik dalam mencapai tujuannya. Adapun tahap-tahap dalam model Air Force/ISD ini dapat anda lihat di bawah ini:
Instructional Systems Development (ISD) Iterative Process
(Source: Air Force Handbook 36-2235, Volume 1, 2 September 2002)
Selain dari itu, pada awalnya model desain air force ini merupakan pengembangan dari model ADDIE, sesuai dengan namanya model ADDIE ini terdiri dari lima fase atau tahap utama yakni, Analysis, Desain, Development, Implementation, dan Evaluation.
Adapun sama halnya dengan model ADDIE model desain pelatihan Air Force juga dalam tahap atau fasenya harus dilakukan secara sistemik dan sistematik, di bawah ini anda dapat melihat fase atau tahap- tahap dari model ADDIE agar dapat melihat perbedaan dari model ADDIE dengan model desain Air Force diantaranya sebagai berikut:
Berdasarkan gambaran di atas maka, dapat disimpulkan beberapa hal penting dari model desain air Force yang membedakannya dengan model ADDIE diantaranya sebagai berikut:
1. Umpan balik dan hambatan
a. Prinsip umpan balik ini berkaitan dengan perbaikan secara terus menerus terhadap produk/ output yang akan dihasilkan.
b. Prinsip hambatan ini berkaitan dengan kendala yang disebabkan oleh lingkungan dan disini perancang dituntut untuk memikirkan bagaimana solusi untuk mengatasi hambatan ini.
2. Kelenturan/keluwesan
Prinsip ini menyatakan bahwa model desain pelatihan air force ini tidak kaku dalam artian memberikan kebebasan kepada perancang untuk merevisi atau memperbaiki sistem yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik.
3. Cycle linear
Prinsip ini menyatakan bahwa model desain air force ini memiliki siklus melingkar linear dari mulai analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi seperti halnya model ADDIE karena model desain Air Force ini merupakan pengembangan dari model ADDIE.
B. Pendekatan Filosofis dan Teoritik Model Desain Air Force
Model Desain Air Force, ini menggunakan pendekatan system dimana semua komponennya saling terintegrasi satu sama lain yang membentuk satu kesatuan yang utuh. Landasan filosofis dan teoritik model ini berasal teori belajar humanistik.teori belajar behavior.
C. Prosedur Pengembangan Model Desain Air Force
Essensinya prosedur pengembangan model desain air force ini berkenaan dengan tahap-tahap yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam pengembangan model desain air force. Oleh karena itu, di bawah ini akan diuraikan tahap-tahap dalam pengembangannya, diantaranya sebagai berikut:
Tahap 1 : Analisis
Menentukan apakah pelatihan merupakan solusi yang tepat , jika demikian, menetapkan persyaratan pelatihan. Adapun dalam tahap ini terdapat tiga langkah analisis yang harus diperhatikan, yakni:
Langkah 1: Penilaian/Analisis Kebutuhan, mendefinisikan kebutuhan pelatihan. Contohnya: Apakah kebutuhan itu sesuai dengan misi dan visi organisasi ?
Langkah 2: Penilaian/Analisis Kinerja, menentukan apakah pelatihan adalah solusinya. Contohnya: Apakah pelatihan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kinerja agar dapat lebih baik atau bukan?
Langkah 3: Penialain/Analisis Tugas, mengidentifikasi apa yang akan dilatih secara rinci. Contohnya: Apakah yang harus dilatih? Isi pelatihan apa yang cocok? Berapakah durasinya
Tahap 2 : Desain
Tahap desain ini merupakan tahap tindak lanjut dari data yang telah diperoleh pada tahap analisis untuk menentukan tujuan, merancang program pelatihan, dan memilih metode serta media pelatihan.
Adapun untuk penentuan tujuan pada tahap ini ditentukan secara objektif dan spesifik selain dari itu, untuk penggunaan metode dan media pelatihannya harus diperoleh berdasarkan tahap identifikasi terlebih dahulu.
Tahap 3 : Pengembangan
Pada tahap ini informasi data yang telah diperoleh pada tahap analisis dan desain digunakan kembali untuk mengembangkan semua materi pelatihan mencakup melakukan evaluasi formatif dan menyiapkan bahan untuk evaluasi sumatif. Adapun tahap terakhir dari pengembangan ini adalah mengecek semua bahan yang telah diperoleh dari tahap-tahap sebelumnya agar dapat digunakan atau dilaksanakan pada tahap implementasi.
Tahap 4 : Implementasi .
Pada tahap ini semua informasi data yang telah diperoleh diatas kemudian dilaksanakan dalam proses pelatihan sesuai dengan rencana yang telah dibuat dalam tahap analisis desain dan pengembangan selain dari itu pada tahap ini juga dituntut untuk melaksanakan evaluasi dan umpan balik perbaikan untuk memperbaiki program yang dianggap masih belum menjalankan fungsinya dengan baik.
Tahap 5 : Evaluasi
Pada dasarnya dalam model ISD atau Air Force ini evaluasi dilakukan dalam semua komponen atau tahapan sehingga dalam model ISD/Air Force ini terdapat tiga jenis evaluasi yang digunakan mualai dari:
1. Evaluasi formatif adalah tahap evaluasi proses dan produk yang dilakukan selama tahap analisis dan desain serta pengembangan namun tidak termasuk validasi atau perbaikan.
2. Evaluasi sumatif adalah tahap evaluasi yang dilakukan setelah ujicoba untuk validasi atau perbaikan pada akhir program pembelajaran.
3. Evaluasi operasional adalah tahap evaluasi yang dilakukan baik di dalam kelas maupun diluar kelas yang biasanya dilakukan pada tahap implementasi.
Setelah evaluasi-evaluasi tersebut di atas dilakukan kemudian diadakan lagi evaluasi terakhir untuk melihat hasil dari pelatihan yang dilakukan adapun poin-poin yang diperhatikan dalam tahap evaluasi terakhir ini adalah:
Transfer pelatihan berkaitan dengan apakah keterampilan berhasil ditransfer ke pekerjaaan? berapakah persentasenya?
Retensi pelatihan berkaitan dengan persentase keterampilan peserta setelah enam bulan melakukan pelatihan dan pelatihan dianggap berhasil ketika keterampilan, pengetahuan dan sikap yang baik mampu diterapkan dalam pekerjaannya.
D. Aplikasi Model Desain Air Force
Model Desain Air Force ini digunakan dalam mendesain suatu program pelatihan ataupun pembelajaran.
Kekurangan dan Kelebihan Model Desain ADDIE ini sebagai berikut.
1. Kelebihan model ini sederhana dan mudah dipelajari serta strukturnya yang sistematis. Seperti kita ketahui bahwa model ADDIE ini terdiri dari 5 komponen yang saling berkaitan dan terstruktur secara sistematis yang artinya dari tahapan yang pertama sampai tahapan yang kelima dalam pengaplikasiannya harus secara sistematik, tidak bisa diurutkan secara acak atau kita bisa memilih mana yang menurut kita ingin di dahulukan. Karena kelima tahap/ langkah ini sudah sangat sederhana jika dibandingkan dengan model desain yang lainnya. Sifatnya yang sederhana dan terstruktur dengan sistematis maka model desain ini akan mudah dipelajari oleh para pendidik.
2. Kekurangan model desain ini adalah dalam tahap analisis memerlukan waktu yang lama. Dalam tahap analisis ini pendesain/ pendidik diharapkan mampu menganalisis tiga komponen dari siswa terlebih dahulu dengan membagi analisis menjadi tiga yaitu analisis kebutuhan, kerja dan analisis tugas. Dua komponen analisis ini yang nantinya akan mempengaruhi lamanya proses menganalisis siswa sebelum tahap pembelajaran dilaksanakan. Tiga komponen ini merupakan hal yang penting karena akan mempengaruhi tahap mendesain pembelajaran yang selanjutnya (Gusmayani, 2012).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan :
1. Model desain pelatihan ini merupakan model desain pelatihan yang awalnya digunakan oleh angkatan militer Amerika khususnya angkatan udara dengan tujuan agar setiap personil angkatan udara dapat melakukan pekerjaannya secara efektif dan efisien yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan karena dirasa model desain pelatihan Air Force/ISD ini telah berhasil dengan baik dalam mencapai tujuannya.
2. Langkah-langkah Pendekatan Model Desain Air Force: Tahap 1: Analisis (meliputi: Langkah 1: Penilaian/Analisis Kebutuhan, Langkah 2: Penilaian/Analisis Kinerja, Langkah 3: Penialain/Analisis Tugas, Tahap 2: Desain, Tahap 3 : Pengembangan, Tahap3: Implementasi, e).Tahap: evaluasi.
B. Saran
Didalam penulisan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan, penyusunan, pemaparan, maupun penjelasan. Untuk itu kami mengaharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Benny Pribadi. (2010). Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat
Comments
Post a Comment