Skip to main content

Kebudayaan Agama Islam di Indonesia


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebudayaan di Indonesia sangatlah beragam mulai dari sabang sampai marauke. Tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri akan kebudayaannya. Adapun agama dan sistem kepercayaan yang dianut pun sangatlah beragam. Khususnya di daerah Sunda, mayoritas penduduknya merupakan penganut Agama Islam. Agama Islam sangatlah kental bagi kebudayaan Sunda. Dari segi pola hidup, aturan-aturan, dan sistem nilai yang dianut pun mirip seperti Ajaran Islam. Sehingga, perkembangan Islam di tanah Sunda sangatlah cepat.
Untuk itu penulis ingin menggambarkan lebih dalam mengenai Kehidupan Islam di Tanah Sunda, bagaimana proses akulturasi Ajaran Islam dengan kebudayaan Sunda dan bagaimana karakteristik orang sunda itu sendiri.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Apa itu Budaya?
2) Apa itu Agama Islam?
3) Bagaimana karakteristik Orang Sunda?
4) Bagaimana Islam dalam kehidupan Orang Sunda?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1) Definisi dari Budaya dan Agama Islam
2) Karakteristik Orang Sunda dikaitkan dengan Ajaran Islam
3) Islam dalam kehidupan Orang Sunda


1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Bagi penulis, menambah wawasan mengenai Kebudayaan Islam di Tanah Sunda
2) Bagi pembaca, menambah wawasan sehingga dapat mengetahui mengenai Kebudayaan Islam di Tanah Sunda
3) Bagi khalayak umum, memberikan informasi mengenai mengenai Kebudayaan Islam di Tanah Sunda


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.Menurut para ahli kebudayaan itu adalah
Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. 
Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.2. Agama Islam
Islam (Arab: al-islām, الإسلام "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaituAllah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4]Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.



2.3. Karakteristik Orang Sunda
Budaya Sunda adalah budaya yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat Sunda. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah-tamah (soméah), murah senyum, lemah-lembut, dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya masyarakat Sunda.
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut, religius, dan sangat spiritual. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo silih asih, silih asah dan silih asuh; saling mengasihi (mengutamakan sifat welas asih), saling menyempurnakan atau memperbaiki diri (melalui pendidikan dan berbagi ilmu), dan saling melindungi (saling menjaga keselamatan). Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah nilai-nilai lain seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong-royong untuk mempertahankannya.
Agama Islam begitu mudah diterima oleh orang Sunda. Karena karakter agama Islam tidak jauh berbeda dengan karakter budaya Sunda yang ada pada waktu itu.  Sedikitnya ada dua hal yang menyebabkan agama Islam mudah dipeluk oleh orang Sunda. Yang pertama, ajaran Islam itu sendiri yang sederhana dan mudah diterima oleh kebudayaan Sunda yang juga sederhana. Ajaran tentang akidah, ibadah terutama akhlak dari agama Islam sangat sesuai dengan jiwa orang Sunda yang dinamis. Yang kedua, kebudayaan asal yang menjadi “bungkus”  agama Islam adalah kebudayaan timur yang tidak asing bagi orang Sunda. Oleh karena itu, ketika orang Sunda membentuk jati dirinya berbarengan dengan proses Islamisasi, maka agama Islam merupakan bagian dari kebudayaan Sunda yang terwujud secara tidak sadar menjadi identitas kesundaan mereka.
Islam masuk ke dalam kehidupan masyarakat sunda melalui pendidikan dan dakwah, bukan dengan jalan penaklukan. Hal tersebut membuat wajah Islam di tatar Sunda berbeda dengan Islam yang disebarkan dengan cara peperangan (paksaan). Kalau di daerah lain agama Islam dianggap sebagai kekuatan asing yang sukar bersatu dengan kebudayaan setempat, maka di masyarakat Sunda, Islam dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan dirinya sendiri. Oleh karena itu, sejak diperkenalkan pertama kali oleh Syekh Syarif Hidayatullah (1470M) di sebelah timur dan kesultanan Banten di sebelah barat, agama Islam terus menyebar ke seluruh pelosok tatar Sunda dengan tanpa hambatan yang berarti. Dengan tidak terasa orang sunda memeluk Islam seperti belajar kebudayaan sendiri, lambat tapi pasti Islam menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari. 
Menurut hasil sensus penduduk tahun 2000 agama Islam di Jawa Barat dipeluk oleh 37.606.317 orang  yang merupakan 98% dari jumlah penduduk Jawa Barat. Tercatat pula 172.523 buah mesjid, 4.772 buah pesantren, 150.927  orang Kiyai, 35.495 orang Ulama, dan 36.201 orang mubaligh yang tersebar merata di seluruh pelosok JawaBarat. Dengan keadaan seperti tersebut  di atas dapat di katakan bahwa rakyat Jawa Barat (Sunda) hampir seluruhnya beragama Islam atau dengan kata lain bahwa agama orang Jawa Barat (Sunda) adalah agama Islam.
2.4. Islam Dalam Kehidupan Orang Sunda
2.4.1. Akulturasi Islam Dengan Budaya Sunda
Asimilasi dan akulturasi antar dua kebudayaan atau lebih akan melahirkan suatu bentuk kebudayaan baru yang merupakan hasil titik temu dari proses pembauran terus menerus antara berbagai kebudayaan yang berbeda tersebut. Titik temu antara nilai-nilai Sunda dengan nilai-nilai Islam adalah lebih banyak pada etika atau tatakrama. Sistem muamalah yang diajarkan Islam menemukan realitas empirisnya dalam kehidupan masyarakat Sunda. Apa yang dicita-citakan oleh masyarakat Sunda tentang cageur bageur, someah ka semah, nyaah ka sasasama sesuai dengan ajaran Islam. Prinsip-prinsip ulah ngarawu ku siku dalam pemilikan harta dan jabatan, ulah kaleuleuwihi dalam makan dan minum menemukan kaidah Zuhud dan Qonaah dalam .ajaran tasawuf.
Dalam tingkatan tertentu pengaruh agama Islam pada kehidupan orang-orang Sunda dapat dilihat dari beberapa hukum adat yang mereka praktekan dalam bermasyarakat. Hampir di seluruh tempat yang dihuni oleh orang Sunda di Jawa Barat penyelenggaraan hukum waris diatur menurut ajaran faraidh fiqh Islam. Dalam perkawinan juga dilaksanakan secara fiqh Islam yang dipadukan dengan upacara adat, seperti: nyeuyeuk seureuh, buka pintu, sawer, dan huaplingkung. Meskipun, umumnya upacara adat seperti itu dilakukan setelah akad nikah dilangsungkan.
Yang berhubungan dengan proses kehidupan manusia juga dikenal dengan upacara lingkaran hidup (circle life), yaitu upacara untuk menangkal malapetaka yang mungkin muncul saat manusia berada dalam waktu-waktu krisis. Mulai manusia  masih dalam kandungan ibunya sampai manusia itu mati diadakan upacara, misalnya babarik, opat bulan jeung tujuh bulan, mahinum, nyusur tanah, tiluna, tujuhna, matangpuluh, natus, merupakan upacara adat yang dipadukan dengan do’a-do’a dari ajaran Islam.  Dalam  kesempatan itu, para pemimpin agama yang bijaksana biasanya  memberitahukan kepada para hadirin, bahwa upacara adat tersebut bukan merupakan kewajiban utama yang harus dilakukan oleh orang Islam.. Demikian juga dalam masalah jual beli, pola makan  di beberapa tempat, ajaran Islam telihat melekat di dalamnya.
Di samping itu ada suatu kebiasaan pada sebagian orang Sunda yang suka memuliakan waktu atau tanggal tertentu, yang dianggapnya lebih mulia dari waktu yang lainnya, seperti bulan Maulud (Mulud menurut lafal orang Sunda). Menurut kepercayaan orang kampung di Priangan, bulan Mulud merupakan bulan yang istimewa. Dalam bulan ini banyak sekali anjuran dan sekaligus banyak pula pantangannya bagi aktivitas tertentu. Bagi orang yang ingin mematangkan satu ilmu, maka dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan Maulud. Misalnya untuk mematangkan ilmu penca, ilmu kebal atau ilmu kedigdayaan lainnya. Oleh karena itu, dikampung-kampung di wilayah Priangan ada istilah “ngamuludkeun” (membersih-kan dalam bulan Maulud) barang-barang pusaka atau kramat, seperti keris, gung, payung; atau mandi di sungai dengan kembang tujuh warna dan sebagainya. Sebaliknya banyak yang percaya bahwa pada bulan ini, harimaupun akan mengasah kukunya, khususnya pada tanggal 14 Maulud waktu bulan purnama.
Dalam sistem kepercayaan orang Sunda terdapat kepercayaan kepada kekuatan super natural yang paling tinggi, yang sangat berkuasa dan menentukan segalanya. Yaitu  Gusti Allah, Pangeran murbeng alam. Kepada tuhanlah seluruh manusia harus berbakti dan mengabdi  dengan sungguh-sungguh. Allah murba wisesa, dalam arti sempurna kepandaiannya. Walaupun di kalangan tertentu masih terdapat kepercayaan sisa-sisa  agama terdahulu tetapi pada umumnya orang sunda telah memberikan hatinya untuk Iman kepada gusti Allah dan meyakini aqiedah Islam yang lainnya. Kangjeng Nabi Muhammad adalah sebutan penghormatan kepada Nabi Muhammad, yang diyakini sebagi nabi terakhir. Muludan adalah suatu perayaan untuk menghormati kelahiran nabi Muhammad yang diisi oleh sidekah mulud dan pengajian bersekala besar dengan mengundang mubaligh dari daerah lain yang lebih terkenal.
Al-qur’an menjadi bacaan wajib bagi kebanyakan masyarakat sunda. Hampir dipastikan anak-anak mulai berumur tujuh tahun telah diperkenalkan  membaca al-qur’an walaupun dengan cara sederhana ( alip-alipan, ngejah, narabas ).  Terutama di daerah pedesaan belajar al-qur’an biasanya pada sore hari atau setelah sholat (sambeyang) maghrib. Pada waktu-waktu tersebut akan terdengar dari seluruh pelosok kampung suara anak-anak membaca al-qur’an dengan suara nyaring . Ketika seorang anak telah menamatkan bacaan al-qur’an tigapuluh juz, maka orang tuanya mengadakan perayaan khataman, yaitu acara salametan dengan mengundang tetangga untuk hadir di rumah atau di mesjid untuk mendengarkan bacaan terakhir anak yang khatam qur’an dan diikuti oleh makan nasi tumpeng bersama dengan lauknya daging ayam yang dipanggang ( bakakak).
Dalam bidang arsitektur masjid di tatar sunda berbeda dengan arsitektur mesjid di negara timur tengah yang di dominasi oleh garis lengkung dan berkubah. Kebanyakan masjid dan tajug di tatar sunda berupa bangunan sederhana dengan arsitektur yang kalau dilihat secara sepintas tidak jauh berbeda dengan bentuk rumah penduduk. Bentuk yang paling banyak adalah dalam bentuk atap tumpang dua atau tiga dengan model nyungcung . Oleh karena itu,  mesjid-mesjid di tatar sunda dikenal juga dengan sebutan Bale Nyungcung. Sebelum ada Kantor Urusan Agama (KUA) mesjid dipakai untuk kegiatan acara ijab qobul pernikahan, sebagai bale nyungcung mesjid di tatar Sunda identik dengan kegiatan perkawinan.
Walhasil, dalam kasus-kasus di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip ajaran Islam dapat mengakomodasikan nilai-nilai budaya Sunda, dan prinsip budaya Sunda dapat mengakomodasikan nilai ajaran Islam. Maka sekarang, persoalannya bukan terletak pada bagaimana menyundakan Islam dan meng Islamkan Sunda, tetapi bagaimana antara keduanya dapat bersinergi melahirkan sosok insan kamil, luhung  elmuna pengkuh agamana jembar budayana. Islam adalah ajaran yang universal melintasi batas-batas etnis, ras dan budaya, sedangkan budaya Sunda adalah budaya yang sangat terbuka dan merespon positif setiap nilai baru yang memungkinkan dirinya untuk   lebih maju dan dinamis. Sebagai orang Sunda, tantangan terbesar adalah, bagaimana orang Sunda dapat tampil ke muka dengan segala identitas keSundaan yang mempunyai jiwa kosmopolitan ajaran Islam. Dan kewajiban bagi setiap orang Islam Sunda untuk membuktikan bahwa dengan semangat jihad Islamlah, Sunda akan terus nanjung, dan dengan kekayaan budaya Sundalah, Islam akan tetap agung.
Ajaran tentang akidah, ibadah terutama akhlak dari agama Islam sangat sesuai dengan jiwa urang Sunda yang dinamis. Kebudayaan asal yang menjadi “bungkus” agama Islam adalah kebudayaan timur yang tidak asing bagi urang Sunda. Oleh karena itu, ketika urang Sunda membentuk jati dirinya berbarengan dengan proses Islamisasi, maka agama Islam merupakan bagian dari kebudayaan Sunda yang terwujud secara tidak sadar menjadi identitas kesundaan mereka.
Orang Sunda lebih menyukai substansi agama yang diwujudkan dalam kehidupan. Dalam menyikapi berbagai aliran keagamaan yang berkembang di lingkungannya, orang Sunda lebih fleksibel selama aliran itu tidak menyimpang terlalu jauh dari tradisi kesundaan. Disadari atau tidak budaya Sunda bisa menjadi semacam penangkal fanatisme berlebih. Ini bisa dipahami dari watak orang Sunda yang menganut nilai-nilai cageur, bageur, bener, singer, dan pinter.
Kelima watak orang Sunda itu bisa kita dipahami seperti ini. Cageur, yakni harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzon-isme. Bageur, yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja.
Bener, yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam. Singer, yaitu penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya.
Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.
Di antara hal-hal yang dianggap memiliki interelasi antara budaya Sunda dan kebiasaan umat Islam adalah seperti yang telah dipraktekan oleh Sunan Kali Jaga dalam proses penyebaran dakwah Islam. Suksesi dakwah Sunan Kali Jaga melibatkan budaya Sunda yakni wayang golek.
Dengan demikian ini, pengikut Islam menjadi banyak, dan dominasinya adalah orang Sunda. Karena orang Sundalah yang tentunya lebih memahami mengenai perwayangan, dan tidak pasti dipahami oleh orang selain Sunda, kecuali mereka telah menyaksikannya dalam beberapa kali pertunjukan.
Dengan pola hubungan yang saling menguatkan ini,meniscayakan pandangan hidup dan pola fikir masyarakat Sunda menjadi berbanding lurus dengan Islam.Hanya saja tidak semua masyarakat Sunda menerapkan hal ini dan tentu saja karena ada alasan yang cukup kuat yakni adasejarah yang menceritakan bahwa pada awal masa penjajahan tidak hanya Islam saja yang berhasil mendekonstruksi pemahaman masyarakat Sunda mengenai konsep theologi (ketuhanan), namun ada juga agama lain yang terhitung cukup sukses dalam mempengaruhi masyarakat Sunda. Seperti, Hindu, Budha, dan agama lain sebagainya yang sengaja singgah di tatanan pasundaan dengan visi misi mengajak masyarakat Sunda untuk mengikuti ajaran mereka.
Namun dari sekian banyaknya ajaran yang berusaha mempengaruhi,  yang memiliki pengaruh paling besar adalah Islam. Sehingga, pandangan hidup masyarakat Sunda yang tercermin dari tradisi lisan dan sastra Sunda. Seperti peribahasa, istilah, pepatah, serta pameo, yang dibudayakan secara turun-temurun oleh masyarakat Sunda, baik didesain secara sengaja ataupun tidak,realitanya senada dengan ajaran Islam,hal ini pun semakin memperkuat asumsi bahwa Budaya Sunda dan pola hidup umat Islam memang memiliki banyak kemiripan.
Misalnya saja, pameo “silih asih, silih asah, dan silih asuh” yang berarti saling mengasihi, saling berbagi ilmu, dan saling melindungi. Pada hakekatnya pameo Sunda ini berbanding lurus dengan hal-hal yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suri tauladan sekaligus pedoman bagi seluruh umat Islam dalam bertindak. Bedanya, Budaya Sunda tidak berdasarkan hadist sedangkan Islam segala hal selalu dimuarakan pada Qur’an dan Hadist. Meskipun Budaya Sunda tidak berdasarkan hadist ataupun menggunakan bahasa khas keislaman, akan tetapi pandangan hidup orang Sunda cukup sesuai dengan ajaran Islam.
Hal lain yang juga merupakan kemiripan dari budaya Sunda dan Islam terlihat dari mahar dalam pernikahan masyarakat Sunda. Di Sunda, orang cenderung tidak pusing atau bahkan stres karena memikirkan tuntutan biaya mahar yang terlalu besar, sehingga terkadang mengakibatkan lestarinya perawan tua dan bujangan lapuk.Di Sunda tidak sedemikian ketatnya, cukup dengan seperangkat alat shalat saja sudah dapat menikah. Implikasinya ada gurauan istilah “kalau mau nikah ke Sunda dulu,” karena saking tidak terlalu beratnya kadar ukuran mahar. Hal ini telah menunjukan bahwa betapa Sunda telah banyak dipengaruhi oleh ajaran Islam yang menganjurkan kepada para perempuan yang akan dipinang agar meminta mahar yang sesuai dengan kadar kemampuan mempelai pria.
Imam Bukhari dan Muslim pernah meriwayatkan suatu hadist terkait mahar bagi perempuan, yakni yang “Diriwayatkan dari Sahal bin Saad bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW minta dinikahkan. Namun laki-laki yang akan menikahinya tidak memiliki harta apa-apa. Rasulullah SAW bertanya,"Apakah kamumemiliki sesuatu yang bisa kamu jadikan mahar untuknya?." Orang itu menjawab,"Saya hanya punya satu sarung ini saja." Nabi berkata, bila kamu berikan sarungmu itu kamu tidak punya sarung lagi." Berikan sesuatu walaupun hanya cincin dari besi." Orang itu menjawab lagi. "Saya benar-benar tidak punya apa-apa." Maka Nabi berkata,"Apakah kamu hafal barang sesuatu dari ayat Al-Qur'an?." "Ya, saya hafal surat anu, anu dan anu." Nabi bersabda,"Aku telah nikahkan kamu dengan apa yang kamu hafaldari Al-Qur'an."Hadist ini menjelaskan betapatidak membebankanketentuan mahar dalam Islam. Dan inilah yang merupakan kesetaraan pemahaman yang mengintegrasikan antara Islam dan Sunda.



















BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam tingkatan tertentu pengaruh agama Islam pada kehidupan orang-orang Sunda dapat dilihat dari beberapa hukum adat yang mereka praktekan dalam bermasyarakat.
Dari sekian banyaknya ajaran yang berusaha mempengaruhi,  yang memiliki pengaruh paling besar adalah Islam. Sehingga, pandangan hidup masyarakat Sunda yang tercermin dari tradisi lisan dan sastra Sunda. Seperti peribahasa, istilah, pepatah, serta pameo, yang dibudayakan secara turun-temurun oleh masyarakat Sunda, baik didesain secara sengaja ataupun tidak,realitanya senada dengan ajaran Islam,hal ini pun semakin memperkuat asumsi bahwa Budaya Sunda dan pola hidup umat Islam memang memiliki banyak kemiripan

3.2 Saran
Ilmu pengetahuan tentang kebudayaan haruslah tetap dilestarikan, khususnya dalam kebudayaan sunda yang sangat kental akan nuansa Islamnya. Begitupun orangtua sejak dini harus menanamkan nilai-nilai keagamaan maupun lainnya kepada anak, agar kelak menjadi insan kamil.

DAFTAR PUSTAKA


Tanpa nama.2011.Agama Islam dan Budaya Sunda. Tersedia di http://www.knowledge-leader.net/2011/01/agama-islam-dan-budaya-sunda-2/. (Diakses Pada Tanggal 07--09-2015 13.00)
Tanpa nama. 2012. Antara Islam dan Budaya Sunda. Tersedia di http://sunda.andyonline.net/2012/11/antara-islam-dan-budaya-sunda.html. (Diakses Pada Tanggal 07--09-2015 13.00)
Tanpa nama. 2012. Islam itu Sunda, sunda itu Islam. Tersedia di
http://salmanitb.com/2012/03/17/islam-itu-sunda-sunda-itu-islam/?ai1ec=. (Diakses Pada Tanggal 07--09-2015 13.00)
Tanpa nama. Tanpa tahun. Tersedia di https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Sunda. (Diakses Pada Tanggal 07--09-2015 13.00)
Tanpa nama. 2000. Tersedia di http://www.seabs.ac.id/journal/oktober2000/Sejarah%20Suku%20Sunda.pdf. (Diakses Pada Tanggal 07--09-2015 13.00)


Comments

Popular posts from this blog

Konsep Model Desain Pembelajaran versi IDI (Intructional Development Institute)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran tidak hanya berbicara pada aspek terjadinya proses belajar mengajar tetapi sudah berbicara pada sarana pendukung terjadinya proses tersebut dan bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Model pembelajaran merupakan salah satu alat atau cara yang dapat diterapkan dalam proses pemeblajaran agar menunjang terjadinya proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran : Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Desain pembelajaran dapat dimaknai dari b...

Model Pendidikan dan Pelatihan Dick and Carey

BAB I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Definisi teknologi tidak sempit, tidak semata-mata sebagai suatu barang elektronik yang canggih, namun, teknologi pun memiliki definisi sebagai cara dan sumber. Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam segi alat, tak ubahnya teknologi dalam segi cara dan proses pun mengalami perkembangan, termasuk mengenai desain pembelajaran. Berkenaan dengan mata kuliah Desain Program Pendidikan dan Pelatihan ini, dalam pelaksanaannya pun menggunakan beberapa desain pembelajaran. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, setiap komponen harus memahami apa tujuan yang hendak dicapai dan langkah-langkah seperti apa yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Khususnya untuk tim pengembang desain maupun dari instruktur, guru, fasilitator, atau apapun sebutannya harus memahami desain pembelajaran seperti apa yang akan digunakan kemudian. Dalam kesempatan ini, pembahasan makalah berikut akan mengungkap mengenai Model Dick and Carey, sala...

Konsep Desain Model Pelathan Briggs

PENDAHULUAN A. Latar Belakang  Program pendidikan dan pelatihan merupakan program penting yang keberadaannya seharusnya dapat diupayakan dengan baik sehingga dapat menghasilkan peserta diklat yang berkualitas pula. Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan dari berbagai hal. Untuk dapat membantu dalam meningkatkan kualitas program diklat tersebut, maka muncul lah beberapa model-model program pendidikan dan pelatihan dari para ahli dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta karakteristik yang berbeda-beda. Model-model pembelajaran ini dihasilkan dari pemikiran para ahli yang telah meneliti dan mencoba untuk menerapkan model-model ini. Saah satu model yang dikembangkan para ahli tersebut adalah model Briggs. Model Briggs adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978: 23). Model ini lebih ditekankan pada pendidik, pelatih ataupun widyaiswara sebagai pe...