BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah
Peran Islam dalam perkembangan iptek pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua, menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat (pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan iptek, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh memanfaatkan iptek jika telah dihalalkan oleh Syariah Islam. Sebaliknya jika suatu aspek iptek dan telah diharamkan oleh Syariah, maka tidak boleh umat Islam memanfaatkannya, walau pun ia menghasilkan manfaat sesaat untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama Islam, sebab kata islam itu sendiri, dari kata dasar aslama yang artinya “tunduk patuh”, mempunyai makna “tunduk patuh kepada kehendak atau ketentuan Allah”. Dalam Surat Ali Imran ayat 83, Allah menegaskan bahwa seluruh isi jagat raya, baik di langit maupun di bumi, selalu berada dalam keadaan islam, artinya tunduk patuh kepada aturan-aturan Ilahi. Allah memerintahkan manusia untuk meneliti alam semesta yang berisikan ayat-ayat Allah. Sudah tentu manusia takkan mampu menunaikan perintah Allah itu jika tidak memiliki ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, kata alam dan ilmu mempunyai akar huruf yang sama: ain-lam-mim.
Iptek atau Ilmu Pengetahuan dan Teknolgi, merupakan salah satu hal yang tidak dapat kita lepaskan dalam kehidupan kita. Kita membutuhkan ilmu karena pada dasarnya manusia mempunyai suatu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT hanya kepada kita, manusia, tidak untuk makhluk yang lain, yaitu sebuah akal pikiran. Dengan akal pikiran tersebutlah, kita selalu akan berinteraksi dengan ilmu. Akal yang baik dan benar, akan terisi dengan ilmu-ilmu yang baik pula. Sedangkan teknologi, dapat kita gunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun, dalam mempelajari dan mengaplikasikan iptek itu sendiri, harus memperhatikan beberapa hal yang penting.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh perdaban barat satu abad terakhir ini, mencengangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan iptek modern membuat orang lalu mengagumi dan meniru- niru gaya hidup peradaban barat tanpa dibarengi sikap kritis trhadap segala dampak negatif yang diakibatkanya.
Pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Ada banyak cara untuk beribadah kepada Allah SWT seperti sholat, puasa, dan menuntut ilmu. Menuntut ilmu ini hukumnya wajib. Seperti sabda Rasulullah SAW: “ menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan perempuan”. Ilmu adalah kehidupanya islam dan kehidupanya keimanan.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sejarah perkembangan Ilmu pengetahuan dalam Islam ?
2. Bagaimana karakteristik dan sumber Ilmu Pengetahuan dalam Islam ?
3. Apa yang menjadi landasan Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam ?
4. Apa saja ayat-ayat tentang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, serta kandungan isi serta pengaplikasiaannya ?
5. Harapan dan kenyataan umat Islam terhadap Ilmu pengetahuan?
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah pengamatan ini adalah untuk mengetahui perspektif serta motivasi islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Dan manfaat penyusunan makalah pengamatan ini untuk kepentingan teoritis, yaitu untuk menambah khazanah keilmuan tentang Ilmu pengetahuan dalam islam sehingga dapat mewarnai menambah pengtahuan mahasiswa, serta diharapkan dapat memberi informasi tambahanatau pembanding bagi peneliti lain dengan masalah sejenis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
“ Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (Q.S.Yusuf : 111)
Hull (1958) mencatat dan telah mencoba menarik sebuah perhatian dalam karangannya History dan Philosophy of Science, bahwa menurutnya, periode yang paling penting dari perkembangan ilmu pengetahuan disebutkan sebagai :
1. Periode Yunani Alexandria.
2. Revolusi Ilmu pengetahuan Abad 17.
3. Abad ke 19, sebagai abad materialisme.
4. Periode modern
Menurutnya pula bahwa untuk perkembangan abad 17 dan selanjutnya pada hakekatnya merupakan proses dari abad-abad sebelumnya yaitu abad ke 13 dan kebelakang lagi. Hull menggunakan definisi ilmu pengetahuan sebagai hal ichwal yang menyangkut penemuan (descovery) yang dibedakan dengan seni sebagai hal ichwal kreasi manusia dalam mengisi hidup yang fana ini.
Ilmu sejarah tentu juga masuk dalam cakupan ilmu “alam nyata” ini, sebagaimana diisyaratkan dalam surat Q.S Yusuf:111, bahwa kisah adalah ilmu pengetahuan bagi orang-orang yang mempunyai akal. Ilmu sejarah disini bukanlah hanya titik-titik statis riwayat satu dengan lainnya, tapi lebih luas dari pada itu saja,yaitu hukum yang berlaku dari suatu periode sejarah tertentu.
Ada dua “titik sejarah” yang oleh Hull kurang memperoleh perhatian, yaitu pada abad ke nol, yaitu saat Nabi Isa A.S. dilahirkan, dan abad ke 6 yaitu saat Nabi Muhammad S.A.W. dilahirkan. Titik sejarah tersebut perlu mendapatkan perhatian selayaknya. Memperhatikan jangka periode “titik kelahiran” tersebut maka sejarah perkembangan ilmu pengetahuan ini kita susun.
Dengan demikian maka periodenisasi sejarah ini dapat kita susun sebagai berikut :
I. : Periode abad 6 S.M s/d abad Nol
II. : Abad Nol s/d abad 7
III. : Abad 7 s/d abad 13
IV. : Abad 13 s/d abad 19
V. : Abad 19 s/d ............ sekarang
1. Periodenisasi
1.1.. Periode abad 6 S.M sampai dengan Abad Nol
Periode ini kita kenal dengan sebagai abad falsafah Yunani (abad enam S.M-lahirnya Nabi Isa A.S). Orang terpenting dalam awal sejarah ilmu pengetahuan Yunani adalah Thales dari Miletus, yang diperkirakan hidup antara 620 S.M-540 S.M. Dia seorang ahli matematika, astronomi, dan filsafat. Dia terkenal sebagai pendorong pertumbuhan geometri, yang pengaruhnya banyak berhubungan dengan Mesir lama dan Babylonia. Dia yang memulai metoda Ilmiah deduktif. Sesudah abad ke 5 S.M ini maka perkembangan pengetahuan dapat kita lihat pada dua wilayah, yaitu :
a. Wilayah Athena, ditandai dengan pengandalan intelektual.
b. Wilayah Alexandria (Mesir), ditandai dengan pengandalam empiris.
1.2.. Periode Abad ke Nol sampai dengan Abad ke 6
Periode ini kita kenal sebagai abad kelahiran Kristen. Pada awal periode ini masih kita cata tokoh Galen dibidang kedokteran yang menyusun bukunya diabad ke 2 di Rona. Pada abad ke 3 tokoh aljabar terkenal Pappus dan Diopanthus.
Menurut Hull sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) hal yang dapat dicatat yang membawa kemunduran ilmu pengetahuan periode ini, yaitu :
a. Penguasa Roma yang menekan kebebasan berfikir.
b. Ajaran Kristen yang tidak boleh disangkal.
c. Kerjasama Gereja dan Penguasa sebagai pemegang otoritas kebenaran
1.3.. Periode Abad ke 6 sampai dengan Abad ke 12
Periode ini kita kenal sebagai abad kebangkitan Islam. Bangkitnya Islam, kata Stoddard, barangkali merupakan satu peristiwa paling menakjubkan dalam sejarah manusia. Dalam tempo seabad saja, dari guruh tandus dan suku bangsa terbelakang, Islam telah tersebar hampir menggenangi separuh dunia, mengadakan revolusi berpikir dalam jiwa bangsa-bangsa.
Periode ini terhitung sejak 40 tahun Nabi Muhammad SAW, yang dilahirkan pada tahun 570 M, satu abad kemudian masih merupakan fase perluasan wilayah. Salah satu ciri yang patut dicatat disinya bahwa sekitar perkerjaan penterjemahan buku-buku asing berkembang, maka Ilmu pengetahuan Islam telah didahului oleh satu periode yang khas Islam, yaitu bangkitnya ahli-ahli hukum seperti : Imam Hanafi (699-767 H), Imam Maliky (712-798 M, Imam Syafei (767-820 M), dan Imam Hambaly (780-855 M) sebagai tokoh-tokoh pembina hukum Islam.
Abad ke 8 dan 9 merupakan puncak-puncak pembinaan hukum islam dan penterjemaham kitab-kitab filsafat, astronomi, matematik dan lain-lain. Pada abad ke 12 dapat dikatakan sebagai akhir perpaduan ilmu pengetahuan Islam, yaitu pertemuan antara tiga atau empat ciri, yaitu :
1. Andalan Iman
2. Andalan Intelektuil (filsafat)
3. Andalan Empiris
4. Andalan Mistis
1.4.. Periode Abad 12 sampai dengan 18
Periode ini kita kenal sebagai periode kebangkitan Eropa (filsafat Yunani II), yang bersamaan dengan periode kemunduran umat Islam dan kehancuran agama Kristen. Periode ini dimulai dari abad ke 12 dimana Gerrard Van Cremona menyalin kembali filsafat Yunani dari umat Islam atau hasil kebudayaan Islam seperti Canon of Medicine dibidang kedokteran. Perkerjaan penterjemahan ini terus berlangsung pada abad 13 dan aba 14.
Pada abad 15 diaman Konstatinopel jatuh pada tahun 1453 M, semua buku-buku ilmiah yang tersisa diboyong bersih ke Eropa. Sejak abad ke 11 di Eropa telah berkembang aliran humanisme, dimana pada kerperjayaa pada diri insani ditonjolkan.
Pada awal kebangkitan periode, kalau di Barat dimulai semangat humanisme untuk menantang otoritas gereja, sedang di Islam dimulai dari kesadaran hukum dan keimanan yang bersih untuk mengendalikan manusi ke jalan Allah Swt (yang benar), maka bersamaan ini pula adalah penterjemahan buku-buku asing
Tiga abad pertama pada abad ini merupakan abad penterjemahan literatur-literatur Islam ke bahasa Eropa, baik melalui pendidikan mahasiswa Eropa diperguruan-perguruan tinggi Islam, atau pemboyongan buku-buku ilmiah.
Dalam periode ini dapat kita perinci tiga pemain utama pengisi sejarah pada abad ini, yaitu : Agama Kristen, Agama Islam, dan Ilmu Pengetahuan.
1. Agama Kristen
Pada periode ini merupakan periode yang hampir mematikan Agama Kristen. Agama ini sempat dicaci maki oleh sebagian ahli ilmu pengetahuan seperti Karl Marx dan Hegels pada abad ke 19 dimana dengan mati-matian dituduh sebagai candu masyarakat. Sementara Agama Kristen terus bertahan membela diri, maka sebagai imbalannya adalah ilmu pengetahuan yang memang netral itu sempat digunakan untuk menguasai orang-orang Islam, dijajah dan ditindas. Patut dicatat disini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang kita lihat ini sama sekali bukan kemajuan karena Agama Kristen, tapi setelah menyisihkan Agama Kristen dari akal budi orang-orang Barat itu. Ini bukti sejarah.
2. Agama Islam
Pada periode ini masih patut kita catat tokoh-tokoh kedokteran dan filsafat ahli hukum seperti Ibunu Rusy (1126-1198) penyusun Bidayatul Mujtahid dibidang ilmu syariat. Pada abad berikutnya masih ada lagi yang patut dicatat, seperti muculnya Ibnu Taimiyah (661-728) sebagai penggerak vitalitas aliran Salaf dan banyak berjasa dalam bidang Theologi Islam, ilmu hukum.
Ketika dunia Islam diliputi kegelapan tiba-tiba bergemalah seruan dari padang pasir luas, tempat lahir Islam, memanggil mereka kemabali ke jalan yang benar, yang menggerakan seruan itu ialah Juru Islam termashur Muhammad Bin Abdul Wahab yang lahir sekitar tahuan 1700 M. Tokoh ini meninggal 1787 M.
Dari tokoh inilah yang selanjutnya semboyan “ kembali pada Al-Qur’an dan Hadits” menjadi motto revolusioner dimana-mana. Periode ini mengingatkan pada periode kebangkitan Islam untuk pertama kalinya, yaitu membereskan keimanan,, Keimana kita harus bersih. Inilah ciri kebangkitan Islam.
3. Ilmu Pengetahuan
Ada dua teori mengenai hakekat pengetahuan. Salah satu teorinya disebut dengan “realisme”, mempunyai pandangan yang realistis terhadap dunia ini. Teori kedua disebut dengan “idealisme” yang berpendapat bahwa mempunyai gambaran yang benar-benar tepat dan sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Oleh karena itu pengetahuan bagi seorang idelais hanya merupakan gambaran subyektif dan bukan obyektif tentang kenyataan.
Kalau ada dua teori mengenai hakekat pengetahuan, maka ada pula dua teori tentang jalan memperoleh pengetahuan. Yang pertama disebut “empirisme”. Menurut empirisme, pengetahuan diperoleh dengan perantaraan panca indera. Pengetahuan terdiri dari penyusuan dan pengaturan kesan-kesan yang berabgai rupa itu.
Teori kedua yang disebut “rasionalisme” yang mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan perantaraan akal, hal ini berhajat pada bantuan panca indera untuk memperoleh data dari alam nyata.
Dari keempat teori tersebut itu maka tersusunlah kombinasi-kombinasi seperti realisme-empiris, idealisme empirism realisme rasional dan idealisme rasional.
Semua teori yang disebutkan diatas masih belum membawa kepada pengetahuan yang benar-benar memberi keyakinan. Kebanarannya masih diragukan. Dan inilah hakekat kebenaran ilmih yaitu suatu kebenaran yang relatif adanya.
1.5.. Periode abad ke 19 sampai dengan sekarang.
Pengandalian ilmu pengetahuan masih dominan, dan para intelekuil makin lupa daratan. Abad materialisme benar-benar telah menyelubungi abad ke 19 ini.
Abad ke 20 merupakan abad percobaan bagi ilmu pengetahuan. Ada tiga teori datang diawal pada abad ke 29 yang cukup membuat kegelisahan dalam ilmu pengetahuan, yaitu :
1. Teori Relativitas Einstein
2. Teori Quantum dari Planck
3. Teoru Elektris tentang materi
Karena kesadaran inilah maka pengetahuan itu sendiri telah sampai pada tingkat kesadaran bahwa tidak mungkin mengungkapkan hakekat dan kebenaran sejati. Kebenaran sejati hanya ada pada Allah Swt. Namun ilmu pengentahuan sangat berguna untuk kesejahteraan hidup dan memberi putusan pada rasa ingin tahu dalam diri kita masing-masing.
Mungkin pertanyaan dapat kita ajukan, kenapa ilmu pengetahuan ini tidak segara kembali pada agama? Pertanyaan ini diantaranya enggan menjawab, karena mereka itu “ malu “. Haya einstein yang berani menjawabnya “ Agama tanpa ilmu adalah buta dan ilmu tanpa agama adalah lumpuh “.
2. Ilmu pengetahuan Sedang Mencari Petunjuk Iman
Prinsip ketidakpastian dari Heisenberg (1927) telah mencatat bahwa ilmu pengetahuan telah menyadari dirinya bahwa ia tidak akan sanggup membimbing dirinya sendiri. Ketidapercayaan diri pun mulai muncul perlahan-lahan. Intinya bahwa Ilmu pengetahuan itu harus dilandasi oleh keimanan atau kepercayaan kita terhadap Allah Swt, agar ilmu pengetahuan yang dihasilkan dapat bermanfaat sesuai dengan apa yang diharapkan.
3. Diperlukan kondisi antara
“Kondisi antara” ini hendaklah berlandas pada prinsip keimanan, tapi juga secara ilmiah harus dapat dipertanggungjawabkan secara rasional atau secara empiris. Semua metode ilmiah kita kembangkan dimana saja.
“Kondisi antara” ini harus dikaji dari Al Qur’an dan Hadits, kita selidiki sehingga merupakan ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan empiris.
Kenapa sampai saat ini kita baru mampu ke tingkat “mencocokan” kenyataan dengan ayat Al-Qur’an dan hadits. Melihat kenyataan ini maka pihak luar Islam tentu sangat sinis pada kita. Kalau cuma sekedar mencocokan saja, semua orangpun bisa. Kenapa kita tidak secara berani menempuh penyelidikan alam nyata ini denga berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits. Selama kita hanya “mencocokkan” saja, maka jangan harap ilmu pengetahuan akan hormat pada kita. Bahkan akan tetap jadi tertawaan yang tiada henti-hentinya.
4. Islam dan Pengetahuan Ilmiah
Rasa ingin tahu yang bersifat ilmiah dan penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang sistematis merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam peradaban islam. Hal ini tidak mengherankan karena Islam adalah sebuah agama yang rasional tetapi bukan sebuah agama yang rasionalis. Agama islam telah memperkembangkan sebuah kesadaran yang tinggi mengenai kedudukan akal sebagai inti dalam tradisi-tradisi agama da dalam mempertahankan sikap kritis terhadap ilmu pegetahuan.
Di bawah pengaruh Islam, sains tumbuh subur dan mempunyai sebuah bentuk yang unik. Sarjana-sarja Eropa Utara yang berkultur Latin benar-benar bersimpuh di depan ilmuwan-ilmuwan Muslim di Spanyol dan di pusat-pusat peradaban Islam di sepanjang pantai Laut Tengah, untuk mempelajari dasar-dasar sains dan aspek-aspek lain dari prestasi Islam. Barulah pada abad keenam belas sains dan teknologi Eropa bisa menyamai keunggulan Islam itu.
Tradisi sains dan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum Muslimin betul-betul unik; namun keunikan itu tak hanya terletah didalam metodologinya tetapi juga didalam epistemologinya.
2.2. KARAKTERISTIK DAN SUMBER ILMU PENGETAHUAN DALAM
ISLAM
2.2.1. KARAKTERISTIK ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM
Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam tidak sepenuhnya bertolak belakang dengan ilmu pengetaguan barat. Ada segi-segi tertentu yang merupakan titik persamaan. Hal ini di buktikan bahwa kebenaran akal dan indera juga diakui. Banyak sekali ayat Al Quran yang menjelaskan keduanya. Namun keduanya juga sangat terbatas dalam memecahkan masalah. Tidak semua permasalahan dapat dipecahkan oleh akal dan indera. Karena keduanya sangat terbatas, itulah akhirnya ilmu Islam dirancang dan dibangun selain berdasar kedua sumber di atas, juga berdasarkan kekuatan spiritual yang bersumber dari Allah melalui wahyu.
1. Bersandar pada kekuatan spiritual
Manusia adalah makhluk yang lebih dari skedar bersifat sensual, dia punya akal, punya hati nurani dan punya iman. Dalam keimanan terdapat kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa. Dalam hati juga terdpat kekuatan spiritul. Indikasinya adalah bahwa hati nurani sseorang selalu condong pada perbuatan-perbuatan baik yang diridhoi Tuhan. Pada akal juga terdapat kekuatan spuiritual. Akal manusia mempunyai subtansi sumber dan prinsipnya adalah Ilahi. Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Namun dari ketiganya, para filosof Muslim menempatkan wahyu di atas rasio. Hal ini dikrenakan wahyu merupkan ajaran-ajaran Tuhan demi kemsalahatan manusia, dan wahyu merupkan kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu indera dan akal harus tunduk kepada wahyu, karena wahyu merupakan petunjuk dari Allah selaku Tuhan pencipta mannusia.
Kebenaran yang dirawarkan oleh wahyu sering dipahami sebagai kebenaran apriori. Memang hal ini ada benarnya jika dipandang dari sudut lmu pengetahuan manusia berdasarkan ketentuan –ketentan Allah dalam kitab suci. Artinya kita mengetahui kebenaran sesutu berdasarkan informasi wahyu, walaupun tanpa penelitian terlebih dahulu. Tetapi dari sudut pengalaman bisa juga sebaliknya, yaitu aposteriori. Artinya kita lebih lama mengalami atau mengamalkan sesuatu ajaran Allah tetapi belum tahu rahasia ajaran tersebut dan mungkin kita baru tahu ketentuan-ketentuan yang memerintahkan untuk mengamalkan sesuatu itu. Pendekatan terhadap wahyu tersebut sering diremehkan oleh Ilmuwan Barat, kecuali sedikit sekali. Hal ini berbeda sekali dengan ilmu pengetahuan Islam yang menempatkan wahyu pada posisi dan fungsi yang sangat strategis.
Di samping wahyu, kekuatan spiritual lain bisa berupa intuisi. Seperti halnya wahyu, intuisi juga ditinggalkan Ilmuwan Barat, baik sebagai sumber maupun sebagai pendekatan pengetahuan. Hanya saja Bergson menyakini, bahwa baik dengan budi maupun dengan indera belaka, kita tak mampu menyelami relitas sepenuhnya. Untuk itu kita harus menggunakan intuisi. Dikalangan muslim intuisi menempati kedudukan yang paling baik sebagai sumber mupun pendekatan untuk mendapatkan pegetahuan. Mereka lalu memafaatkan intuiasi dalam melakukan kerja ilmiah untuk mendampingi akal, sehingga disamping ada target-terget yang harus dicapai melalui pemikiran, juga mereka mengharapkan datangnya pengetahuan yang sifatnya dianugerahkan melalui intuisi. Yang kemudian Intuisi ini digunakan untuk menyempurnakan proses pemikiran mereka dalam menggagas persoalan-persoalan ilmu.
Dengan demikian, disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatka penegtahuan yang lain yaitu intuiasi dan wahyu. Sampai sejauh ini pengetahuan yang didapatkan secara rasioanl maupun empiris, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah penalaran sedangkan pengetahuan yang didapatkan melalui wahyu dan intuisi diyakni lagsung dari Allah. Sebenarnya metode ynng dimiliki oleh pemikir Islam lebih banyak dari Ilmuwan Barat, seharusnya pengetahuan pemikir muslim lebih maju di atas ilmu pengetahuan yang lahir dari barat, namuan kenyataannya pada saat ini, ilmu yang dihasilkan oleh Ilmuwan Barat lebih mendomiasi ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa masih ada yang salah dengan para pemikir muslim.
2. Hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal
Karakter ilmu dalam Islam yang kedua adalah didasarkan pada hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan karena memiliki titik temu. Atas dasar dan pertimbangan inilah pendamaian filsafat dan agama menjadi harapan dan aspirasi seluruh filosof muslim. Rata-rata mereka memiliki konsep yang sangat mesra atau harmonis hubungan antara wahyu dan akal, atau antara agama dengan filsafat. Hal ini menjelasakan bahwa ilmu Islam tidak memppertentangkan antara wahyu dan akal.
Namun tradisi pemikiran seperti ini tidak bisa terjadi dikalangan para ilmuwan pada umumnya, terutama para ilmuwan barat. Mereka dapat menerima bahkan menerapakan, bahwa akal sebagai sumber untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan. Namaun mereka menolak wahyu sebagai alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah. Kedunya praktis putus satu sama lain yag tidak bisa disatukan. Merek kurang menyadari bahwa sesunguhnya ilmu tanpa didampingi agama akan menyimpang dari akidah yang benar atau kebablasan, seperti kecondongan mendewakan akal, sedangkan agama tanpa didampingi ilmu akan dirasakan sebagai doktrin-doktrin semata yanng membelenggu penalaran dan pemikiran seseorang, karena tidak ada penjelasan-penjelasan yang memadai dari agama, yang ada hanya ketentuan-ketentuan normatif.
Salah satu sebab berkembngnya kecenderungan dikotomi tersebut adalah kegagalan manusia (Muslim) memahami secara proporsional hubungan antara ilmu dan agama. Mereka terjebak oleh pandangan ilmuwan barat mengenai hubunngan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pandangan ilmuwan barat secara historis dan psikologis dapat dimaklumi, karena sebelum masa renaissance terjadi pertentanngan yang hebat antara doktrin agama (Kristen) dengan temuan ilmu pengetahuan yang menyebabkan banyak sekali korban di kalangan ilmu pengetahuan. Nmun kasus tersebut tidak pernah terjadi dalam dunia Islam. secara historis umat Islam dapat mencapai keayaan ustru karena disemangati oleh Islam. Ibn Rusyd menegaskan “sekiranya tidak terdapat perselisihan dalam pandangan Islam antara agama dan akal, maka keduanya adalah jalan mencapai kebenaran tunggal, dan sebagai sarana mencapai satu tujuan yaitu, kebaikan manusia dan kebahagiaannya.” Filsafat dan agama dengan demikian sama-sama bertujuan untuk mencapai kebenaran.
Mengenai hubungan timbal balik antara keduanya, Al-Isfahani menggambarkan bahwa “tanpa wahyu akal tidak sepantasnya dipedomi, dan tanpa akal, wahyu tidak dapat dicapai scara eksplisit kebenarannya. ” Einstein mengatakan “ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.”
Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kontradiksi dan dikotomi antara sains dan agama. Juka sepintas tampak adanya kontradiksi dan dikotomi yang selama ini dianggap terjadi antara agama dan ilmu pengetahuan, sesungguhnya merupakan persepsi ilmuwan barat lantaran mereka pernah mengalami sejarah hitam yang berkaitan denga pertentangan agama melawan ilmu pengetahuan, sehingga melumpuhkan perkembangan peradabannya. Namun bagi pemikir Islam, ilmu pengetahuan perlu mendapatkan bimbingan agama, sedangkan agama perlu didampingi ilmu pengetahuan.
3. Interpendensi akal dan intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasana-keterbatasan yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangken pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain akal membutuhkan intuisi dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pergerakan yang dicapai masing-masing.
Pascal melihat dengan jelas bahwa, perkembangan rasional tidak akan pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling esensial. Bukan lantaran pikirannya melainkan berkat rahmat Tuhnlah paradoks-paradoks eksistensi manusia bisa teratasi. Maka kita harus menyadari terhaddap kelemahan-kelemahan akal manusia agar kita tdak sampai berbuat sesat dengan mendewakan akal. Rahmat Allah itulah yang paling menentukan dan memuaskan dalam menjawab atau memecahkan persoalan-persoalan pelik yang dihadapi manusia. Rahmat Allah itu mencakup juga intuisi, sehingga intuisi banyak membantu kerja akal dalam memahami kebenaran dan mencapai pengetahuan. Hasi pemikiran rasioanal dikenal dengan pengetahuan perolehan, sedangkan hasil dari pengeahuan intuisi dikenal dengan pengetahuan yang dihadirkan.
Kedua macam pengetahuan ini memiliki ciri masing-masing. Penegtahuan yang dicapai atau pengetahuan perolehan bersifat tak langsung, rasioanal, logis dan diskursif. Sedang pengetahuan yang dihadirkan bersifat langsug, serta merta, suprarasioanl, intuitif, dan kontemplatif. Ciri-ciri tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara pengetahuan perolehan dengan pengetahuan yang dihadirkan, namun keduanya tidak untuk dipertentangkan dalam semua aspeknya, melainkan ada indikasi perbedaan tingkatan. Misalnya sifat rasional peda pengetahuan perolehan dan suprarasional pada pengetahuan yang dihadirkan sesungguhnya tidak bertentangan. Hanya saja sesuatu yang suprarasioanal berada di atas derajat rasioanal, karena berada di luar jangkaun rasio, seperti supraindera berarti di atas indera.
4. Memiliki orientasi teosentris
Bertolakdari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara ilmu dengan sains, ilmu dalam Islam memilki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu tesebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
Ilmu dalam Islam selain berdasar fakta empiris dan akal, juga berdasarkan wahyu (agama). Wahyu mencakup berbagai dimensi persoalan; muai ari permasalahan yang berkaitan ddengab pengalaman atau pengetahuan sehari-hari (knowlodge), ilmu pengetahuan (science), filsafat yang mengandalkan potensi akal, dan persoalan-persoalan suprarasioanal (di atas jangkauna akal). Pada persoalan terakhir ini menjadi wilyah jealajah agama dan di luar jangkauan ilmu maupun filsafat. Ketika mengemukakan permsalahan yang berkait dengan dimensi spiritual atau traansendental, maka ilmu dalam Islam juga menggarap wilayah di luar jelajah ilmu dan filsafat tersebut. Dengan demikian ilmu dalam Islam berlapis ganda; lapis indera, lapis akal dan lapis iman. Sebab itulah ilmu dalam Islam memiliki kandungan informasi dan pembahasan yang jauh lebih mendalam daripada sains, karena ilmu dala Islam di samping melalui proses yang bisa dilalui oleh sains juga mendapatkan bahan-bahan informasi dari Tuhan melalui wahyu. Dengan demikian ilmu dalam Islam memiliki sesuatu yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh sains. Disinilah letak kelebihan atau keunggulan ilmu dalam Islam di banding sains. Adapun kelebihan itu terletak pada faktor transedental.
5. Terikat nilai
Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi dimensi spiritual, wahyu, intuisi, dan memiliki orientasi teosentris, konsekuensi berikutnya sebagai salah satu ciri ilmu tersebut adalah terikat nilai. Ini sangat membedakan dengan sains barat, karena semangat tradisi ilmiah barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu nertal atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan barat, salah satu sarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.
Orang-orang barat merasa resah terhadap dampak negatif dari serangkaian kemajuan yang berhasil dicapai. Kondisi demikian ini secara langsung maupun tidak langsung adalah akibat dari sains barat yang tidak dibangun di atas landasan etika. Berbeda dengan tradisi barat tersebut, tradisi keilmuan Islam sejak dini memiliki perhatian besar pada etika. Pada prinsipnya etika diyakini memiliki peranan yang sangat besar dalam menuntun perkembangan pengetahuan dan respons masyarakat, sehingga pertimbangan-pertimbangan aksiologis selalu ditempatkan menyertai pertimbanngan-perimbangan epostemologis, agar di samping mampu mencapai kemajuan juga mampu mempertahankan keutuhan moralitas yang positif. A. Rashid Maten menegaskan “Dalam Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan” dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dan agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
2.2.2. SUMBER ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM
Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Islam diantaranya :
1. Al-Qur’an dan Sunnah:
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan keduanya adalah langsung dari sisi Allah SWT dan dalam pengawasannya, sehingga terjaga dari kesalahan, dan terbebas dari segala vested interest apapun, karena ia diturunkan dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Adil. Sehingga tentang kewajiban mengambil ilmu dari keduanya, disampaikan Allah SWT melalui berbagai perintah untuk memikirkan ayat-ayat-Nya (QS 12/1-3) dan menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal (QS 33/21).
2. Alam semesta:
Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk memikirkan alam semesta (QS 3/190-192) dan mengambil berbagai hukum serta manfaat darinya, diantara ayat2 yang telah dibuktikan oleh pengetahuan modern seperti[1] :
a. Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS 41/11).
b. Ayat tentang urutan penciptaan (QS 79/28-30): Kegelapan (nebula dari kumpulan H dan He yang bergerak pelan), adanya sumber cahaya akibat medan magnetik yang menghasilkan panas radiasi termonuklir (bintang dan matahari) → pembakaran atom H menjadi He lalu menjadi C lalu menjadi O baru terbentuknya benda padat dan logam seperti planet (bumi) panas turun menimbulkan kondensasi baru membentuk air baru mengakibatkan adanya kehidupan (tumbuhan).
c. Ayat bahwa bintang2 merupakan sumber panas yang tinggi (QS 86/3), matahari sebagai contoh tingkat panasnya mencapai 6000 derajat C.
d. Ayat tentang teori ekspansi kosmos (QS 51/47).
e. Ayat bahwa planet berada pada sistem tata surya terdekat (sama ad-dunya) (QS 37/6).
f. Ayat yang membedakan antara planet sebagai pemantul cahaya (nur/kaukab) dengan matahari sebagai sumber cahaya (siraj) (QS 71/16).
g. Ayat tentang gaya tarik antar planet (QS 55/7).
h. Ayat tentang revolusi bumi mengedari matahari (QS 27/88).
i. Ayat bahwa matahari dan bulan memiliki waktu orbit yang berbeda2 (QS.55/5) dan garis edar sendiri2 yang tetap (QS 36/40).
j. Ayat bahwa bumi ini bulat (kawwara-yukawwiru) dan melakukan rotasi (QS.39/5).
k. Ayat tentang tekanan udara rendah di angkasa (QS 6/125).
l. Ayat tentang akan sampainya manusia (astronaut) ke ruang angkasa dengan ilmu pengetahuan (QS 55/33).
m. Ayat tentang jenis-jenis awan, proses penciptaan hujan es dan salju (QS.24/43).
n. Ayat tentang bahwa awal kehidupan dari air (QS 21/30).
o. Ayat bahwa angin sebagai mediasi dalam proses penyerbukan (pollen) tumbuhan (QS 15/22).
p. Ayat bahwa pada tumbuhan terdapat pasangan bunga jantan (etamine) dan bunga betina (ovules) yang menghasilkan perkawinan (QS 13/3).
q. Ayat tentang proses terjadinya air susu yang bermula dari makanan (farts) lalu diserap oleh darah (dam) lalu ke kelenjar air susu (QS 16/66), perlu dicatat bahwa peredaran darah baru ditemukan oleh Harvey 10 abad setelah wafatnya nabi Muhammad SAW.
r. Ayat tentang penciptaan manusia dari air mani yang merupakan campuran (QS 76/2), mani merupakan campuran dari 4 kelenjar, testicules (membuat spermatozoid), vesicules seminates (membuat cairan yang bersama mani), prostrate (pemberi warna dan bau), Cooper & Mary (pemberi cairan yang melekat dan lendir).
s. Ayat bahwa zyangote dikokohkan tempatnya dalam rahim (QS 22/5), dengan tumbuhnya villis yang seperti akar yang menempel dpada rahim.
t. Ayat tentang proses penciptaan manusia melalui mani (nuthfah) zygote yang melekat (’alaqah) segumpal daging/embryo (mudhghah) dibungkus oleh tulang dalam misenhyme (’izhama) tulang tersebut dibalut oleh otot dan daging (lahma) (QS 23/14).
3. Diri manusia:
Allah SWT memerintahkan agar manusia memperhatikan tentang proses penciptaannya, baik secara fisiologis/fisik (QS 86/5) maupun psikologis/jiwa manusia tersebut (QS 91/7-10).
4. Sejarah:
Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya melalui lembar sejarah (QS 12/111). Jika manusia masih ragu akan kebenaran wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nuh, Hud, Shalih, Fir’aun, dan sebagainya, yang kesemuanya keberadaannya dibenarkan dalam sejarah hingga
saat ini.
2.3. LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM
2.3.1. Iman Pada Qodla dan Qodar sebagai landasan Ilmiah.
Ada berbagai pengertian para ulama kita dalam menjabarkan arti qodla dan qodar. H. Taib Tahir Abdul Muin (1956) dalam risalahya tentang qodla dan qodar, dan menyelidiki makna qodlo dalam Al Qur’an, sebagai berikut :
a. Berarti Hukum ( An- Nisa’ :65 )
Artinya : Demi Allah bahwasannya mereka tidak dianggap beriman sehingga ridho atas hukum-hukum yang telah di tetapkan oleh Nabi bila terjadi perselisihan paham antara mereka, kemudian tidak ada keberatan sedikitpun terhadap apa yang engkau tetapkan (Nabi hukumkan) dan mereka menyerahkan perkara itu dengan sepenuh-penuhnya.
b. Berarti Perintah ( Al-Isra’ :23 )
Artinya : Allah memerintahkan, jangan kami sekalian mengabdikan diri selain kepadaNya (Allah).
c. Berarti Irodah ( Ali – Imron :47 )
Artinya : Apabila Allah berkehendak mewujudkan sesuatu yang telah dihubungkan dengan qudratNya, maka Allah hanya mengatakan “Adakah kamu” sehingga terciptalah.
d. Berarti mewujudkan sesuatu dengan sebaik-baiknya, seindah-indahnya dan serapi-rapinya
Artinya : Maka Allah mewujudkan langit dalam keadaan serapi-rapinya dalam dua masa.
e. Berarti mengabarkankan atau memberitahu ( Al- Isra’ :4 )
Artinya : Kami telah memberikan tahu kepada Bani Israil dalam kitab mereka (Taurat), demi Allah kamu tentu akkan membuat kerusakan dibumi sehingga dua kali.
Dengan mengambil lima dasar pengertian tersebut, maka Syech Muhammad Abduh menerangkan bahwa qodlo adalah pergantungan ilmu Ilahi yang rapi dengan suatu kenyataan, kemestian/hukum karena irodah Allah SWT.
Adapun pengertian qodar adalah ilmu yang sangat luas meliput segala apa yang terjadi dan semua yang berhubungan dengan itu, yang sekiranya terjadi pada saat kemarin, sekarang dan kelak kemudian hari pasti sesuai dengan apa yang telah diketahui dan ditentukan ukurannya sejak semula oleh Allah SWT.
Dalam Surat : Qomar :49 yang artinya, “ Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.
Sehingga beriman pada qodlo dan qodar berarti kita harus percaya bahwa Allah SWT telah menjadikan segala sesuatu dengan ukuran (takaran) batasan yang tertib dan tertentu, sedang ukuran-ukuran tertentu tersebut dapat berbentuk (ditakdirkan) sepanjang hukum/kemestian ilmi Ilahi tersebut. Dan huku kemestian Ilahi ini sangat banyak tergantung “sesuatu” tersebut. Hukum Kemestian Ilahi inilah yang diterjemahkan oleh para ahli ilmu pengetahuan yang “dipercayai” sebagai “Hukum Alam” atau sunatullah yang tidak akan berubah-ubah. Dengan kata lain sepanjang menuruti ilmu Ilahi tersebut makan suatu kejadian/peristiwa atau keadaan dapat terbentuk/ditakdirkan. Hukum kemestian Ilahi inilah yang menentukan bentuk dan fungsi dari segala sesuatu yang diciptakan Tuhaan. Karena hukum inilah maka segala sesuatu yang diciptakan Tuhan ini selalu ada dalam keadaan keseimbangan dan tertib, yang menyebabkan segala yang ada di semesta alam ini dari yang terkecil sampai yang paling besar termasuk masyarakat manusia, benda mati, tumbuh-tumbuhan, tidak berada secara sembarang saja, tapi menurut ukuran dan peraturan tertentu.
Prinsip inilah yang menjadi landasan yang “dipercaya” oleh ilmu pengetahuan moderen. Seluruh pengetahuan moderen tidak akan dapat tersusun tanpa mendasarkan pada prinsip bahwa alam ini mempunyai hukum-hukum dan peraturan-peraturan tertentu. Ilmu moderen teleh mempercayai secara ilmu yakin bahwa susunan alam ini ada/nyata dengan ukuran tertentu. Bagi kita, atas landasan iman pada qodlo dan qodar secara yakin bahwa hukum-hukum dan bentuk alam ini benar-benar adanya, tanpa keraguan dan karena ditegaskan Allah SWT sang pencipta alam, yang maha mengetahui. Kepercayaan tersebut merupakan azas pokok ilmu pengetahuan moderen atau sebagai dasar keimanan kita, salah satu Rukun Iman yang harus kita amalkan, atau kita jadikan landasan dengan penuh keyakinan tanpa keraguan.
Kepercayaan kepada qodlo dan qodar benar-benar sangat bermanfaat. Bahkan kalau kita perhatikan kemajuan teknologi yang kita rasakan pada Zaman Moderen ini adalah bertitik tolah pada keyakinan tersebut. Dengan tuntunan keimanan ini, maka satu rahasia alamm yang penuh dengan teka-teki ini dapat terungkap secara yakin, bahwa segala sesuatu di alam jagad ini telah ditetapkan sejak awal penciptaannya, yang dibatasi oleh hukum tertentu yang terus berlaku dan tidak akan berubah.
2.3.2. Kini kita berada dalam Zaman Teori. Qodla
Terdorong oleh iman pada qodlo yang merupakan tuntunan bahwa dalam alam ini terdapat suatu “hukum kemestian Ilahi” seyogyanya merangsang kita untuk menterjemahkan semua persitiwa melului proses berpikir yang dapat melakukan dengan menyusun dugaan-dugaan (hyphotesa). Dugaan-dugaan yag menerangkan secara logis keseragaman beberapa peristiwa hasil pengamatan yang ditangkap oleh panca indra dan akal, tafsiran yang selanjutnya akan menghasilkan teori-teori. Teori-teori ini pada dasarnya merupakan dasar dugaan yang kuat terhadap hukum kemestian ilmu Ilahi tersebut
Lebih dari tujuh abad lamanya, kebudayaan Islam yang lahir diabad ke VII Masehi, tumbuh dan berkembang dan menjadi kemajuan dari umat-umat lain dipermukaan bumi ini. Kemudian datanglah masanya menurun. Hasil-hasil yang dicapai mulai membeku dan akhirnya ketinggalam dari ummat-ummat lain sebagai salah satu ummat yang paling terbelakang didunia.
Maka kedudukan mercusuar berangsur-angsur diambil alih oleh orang-orang Eropa. Hubungan antara dunia Islam dan benua Eropa amat banyak, baik perdagangan, atau pelayaran di laut, disekitar laut Tengan, Expedisi-expedisi perang Salib dari Eropa ke Palestina adalah saluran-saluran dari proses pewarisan tersebut.
Apabila perkembagan ilmu pengetahuan empiris didalam dunia Islam tetap berlanjut, niscaya akan datang juga “zaman teori” di kalangan mereka. Sangat banyak sekali Ilmu Pengetahuan didunia, sehingga mengharuskannya untuk menyimpulkannya. Penyimpulan tersebut dengan cara memisahkan peristiwa atau gejala-gejala dalam kelompok-kelompok(klasifikasi), kemudian menentukan ciri-cirinya yang seragam. Tentu akan timbul kecenderungan membuat pengelompokan yang sederhana. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyusun hipotesa-hipotesa yaitu dugaan-dugaan tentang apa yang tidak ditangkap oleh pancaindra, dugaan dapat menerangakan secara logis keseragaman beberapa peristiwa yang ditangkap oleh pancaindra. Hipotesa yanng kuat disebut teori. Bahwa menyusun hipotesa tidak dicela atau dipersalahkan oleh Al-Qur’an, bahkan dipuji dan dianjurkan. Menurut Q.S Ali Imron :191, yang artinya “Yaitu orang-orang yang mengingati Allah ketika berdiri dan duduk, diwaktu berbaring, mereka memikirkan bagaimana kejadian langit dan bumi”.
Dalam ayat tersebut dianjurkan bahwa kita harus memikirkan kejadian langit dan bumi. Jadi semestinya hasil-hasil pengamatan kita terhadap alam, yaitu menafsirkan hasil-hasil pengamatan tersebut berdasarkan pemikiran yang mendalam. Tafsiran inilah yang kita sebut teori.
2.3.3. Pentingnya pengukuran, Qodar, Statistik.
Istilah Qodar atau “takdir” sering diartikan para ahli bahasa dengan kata “ukuran”. Dan dalam bahasa Indonesia istilah “kadar” dengan “ukuran” telah biasa dipakai. Misalnya “kadar larutan gula itu 10%” .
Dengan pengukuran dan perhitungan, pengetahuan akan menjadi semakin meyakinkan. Seringkali dengan cara pengukuran dan perhitungan kita dapat membedakan teori yang benar dan keliru.
Kemajuan ilmu pengetahuan alam menghasilkan pula kemajuan teknik. Berdasar ilmu pengetahuan alam orang akan membuat bermacam-macam barang dan alat perkakas yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya. Kemajuan teknik selama hampir dua abad ini memuncak pada penerbangan Apollo 11 ke bulan. Dimana kita menyaksikan satu kemajuan manusia. Sungguh mengaggumkan kemampuan otak manusia, bukan hanya mampu utuk mengetahui atau mengenal tetapi juga mampu memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan dan mampu mengatur kekuatan-kekuatan alam sehingga mengikuti kehendaknya. Dan tepatlah ungkapan Al-Qur’an bahwa manusia adalah “Khalifatullah fil Ardl”, wakil Tuhan di muka bumi. “ketika Allah berfirman kepada malaikat “sesungguhnya Aku menjadikan seseorang khalifah diatas bumi”. Dalam kehidupan sehari-haripun, penting sekali arti ukuran dan pengukuran demi untuk mendapatkan obyektifitas.
2.3.4. Memahami Teori Sebagai Anak Tangga Menuju Iman
Dengan menyebarnya pengaruh sekulerisme, individualisme, rasionalisme, posivisme dan relativisme maka pengaruh agama terhadap kehidupan terasa semakin berkurang diseluruh dunia. Tetapi sebaliknya dengan meletusnya krisis nilai sejak beberapa saat dewasa ini maka tercetus pulalah gerakan untuk kembali ke agama. Ke agama mana mereka akan kembali? Oleh karena itu haruslah ditempuh langkah-langkah positif dan konstruktif terhadap sinyalemen bahwa terdapat krisis dalam agama itu sendiri.
Banyak ilmiawan abad 19 memang percaya bahwa fakta-fakta ilmiah yang perlu dipelajari itu adalah tak terhingga jumlahnya. Acapkali mereka yakin bahwa akan tiba saatnya untuk dapat mencapai kebenaran mutlak dan pemahaman terakhir. Namun sebaliknya banyak para pewaris mereka, dewasa ini tidak seyakin itu dan hanya sanggup berbicara tentang “pemahaman sebagian” dan terus menerus mendekati kebenaran mutlak, tetapi tiada kunjung dapat meraih sepenuhnya.
Disinilah posisi “penemuan teori” yang harus kita sadari bahwa sampai kapanpun kita tidak akan mungkin menjangkau “kebenaran mutlak” secara empiris. Bahwa “penemuan ilmiah” adalah sejauh sebgai pengantar saja menuju kebenaran mutlak yang kita imani.
Penjabaran teoritis pada hakekatnya adalah merupakan tangga menuju ujung “kebenaran mutlak” yang kita imani. Dalam Q.S Al-Baqarah, “Bahwa kebenaran mutlak itu hanya ada di/dari tangan Allah SWT. Oleh karenanya janganlah kamu menjadi orang yang bingung/ragu”.
2.4. AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG ILMU PENGETAHUAN DAN
TEKNOLOGI
2.4.1. Q.S YUNUS AYAT 101
Artinya :
“ Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan dibumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman . (Q.S. Yunus:101)
Kandungan isinya :
a. Surah Yunus ayat 101 berisi tentang perinta Allah kepada manusia untuk mempelajari berbagai ciptaan-Nya terutama dalam penciptaan langit dan bumi yang merupakan tanda-tanda kemahakuasaan Allah SWT.
b. Seseorang yang tidak percaya adanya penciptaan alam, maka semua tanda-tanda kekuasaan Allah dalam alam ini tidak bermanfaat baginya, dan peringatan para nabi atau rasul tidak memberi bekas dalam jiwa mereka.
c. Ayat ini juga menyuruh manusia untuk selalu menggunakan akal pikirannya dalam menangkap dan mengkaji fenomena-fenomena alam semesta.
Aplikasinya :
a. Kita harus mempelajari segala ciptaan Allah SWT,
b. Kita harus mempercayai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
c. Kita pun harus mempercayai adanya penciptaan alam dan tanda-tanda kekuasaan Allah
d. Kita harus menggunakan akal fikiran dalam mengkaji atau mempelajari segala apa yang ada di alam semesta.
2.4.2. Q.S AL-BAQARAH AYAT 164
Artinya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. ( Q.S. Al-Baqarah: 164)
Kandungan Isinya :
a. Kemahakuasaan Allah Swt dalam menciptakan dan menata alam semesta yang berada dalam gengaman-Nya yang meliputi penciptaan langit dan bumi, mneggilirkan siang dan malam, menjalankan bahtera dilautan, menurunkannya air hujan dari langit dan mengatur tugas angin dan awan
b. Allah menciptakan langit dan bumi dengan membawa kegunaan untuk makhluk-Nya khususnya manusia, seperti menjadikan siang dan malam, menciptakan lautan yang penuh dengan ikan yang sangat bermanfaat bagi manusia
c. Allah menurunkan hujan dan mengatur angin dan awan sehingga tumbuh berbagai jenis tumbuh-tumbuhan untuk kesejahteraan makhluk-Nya terutama manusia
d. Allah memerintahkan kepada manusia untuk selalu menggunakan akal pikirannya, seseorang yang dapat menggunakan akal pikirannya berarti telah dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang telah diciptakan oleh Allah SWT
e. Sesungguhnya dari ciptaa-ciptaan Allah Swt. Tersebut merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, bagi orang-orang yang dapat menggunakan akal pikirannya dan selalu bersyukur kepada Allah SWT.
Aplikasinya :
a. Kita diwajibkan untuk memanfaat segala ciptaan Allah SWT secara bijaksana
b. Kita diharuskan untuk selalu bersyukur atas pemberian rahmat dan rizki yang telah Allah berikan kepada kita
c. Kita harus menggunakan akal pikiran kita dalam memahami memanfaatkan segala ciptaan Allah SWT.
d. Jauhkan diri kita dari sifat sombong, karena kesombongan hanyalah milik Allah SWT.
2.5. HARAPAN DAN KENYATAAN UMAT MUSLIM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN
Mencoba meramalkan masa depan ummah Muslim tiga puluh, empat puluh, lima pulih tahun mendatang adalah upaya yang tidak ada gunanya. Kita tidak bersimpati dengan astrologi(ramalan). Bijaksanawan Sa’di Shirazi pernah berkata: “Orang bijaksana tetap belajar, sekalipun kata-kata bijaksana terpampang di tembok “. Dan kebijaksanaan adalah bahan baku vital dalam perencanaan maupun implementasi kebijaksanaan. Apa pun keraguan yang ada, adalah perlu untuk memiliki pemahaman akan apa yang tidak nampak, apa yag mungkin dihasilkan oleh kebijaksanaan tertentu, apakah pemahaman tersebut diperoleh melalui proyeksi perkembangan-perkembangan masa depan yang mungkin, ataukah melalui percampuran antara pengetahuan dan spekulasi tak resmi.
2.5.1. Tantangan Umat Muslim terhadap Ilmu Pengetahuan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis. Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia.
Islam adalah satu-satunya agama samawi yang memberikan perhatian yang khusus terhadap ilmu pengetahuan. Dimana ilmu pengetahuan hanya dapat dicapai dengan jalan belajar. Hal ini disyaratkan dalam wahyu pertama yang diturunkan, yaitu:
اقرأ باسم ربك الذي خلق(1)خلق الإنسان من علق(2(اقرأ وربك الأكرم(3(الذي علم بالقلم(4(علم الإنسان ما لم يعلم(5)كلا إن الإنسان ليطغى((6
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap muslim dan muslimah wajib menuntut ilmu” (Fazul-Ul-Karim, 1971, hal. 20)
Perintah Nabi di atas membawa konsekuensi hukum, bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap orang Islam. Kewajiban ini telah disepakati oleh semua ahli hukum Islam baik dari kalangan tradisional maupun modernis.
Sungguhpun demikian, menuntut ilmu pengetahuan tidak terbatas bersumber pada al-Qur’an dan sunnah Nabi. Dianjurkan agar mereka (umat Islam) menuntut ilmu pengetahuan di negara-negara yang kadar ilmu pengetahuannya sangat luas dan tinggi. Dalam al-Qur’an Allah menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah cara terbaik dan terpenting yang bisa menuntun kepada iman. Bahkan Allah juga menegaskan bahwa mencari ilmu pengetahuan adalah suatu sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lebih lanjut ditegaskan pula bahwa mencari ilmu pengetahuan merupakan perilaku agung yang bisa mengangkat nilai dan status derajat seseorang yang melakukannya:
يا أيها الذين آمنوا إذا قيل لكم تفسحوا في المجالس فافسحوا يفسح الله لكم وإذا قيل انشزوا فانشزوا يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير
Salah satu keagungan nikmat yang dikaruniakan Allah bagi umat Nabi Muhammad SAW ialah nikmat ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya karena Allah telah mengaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu merupakan sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi merupakan terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi.
Peradaban modern adalah hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang gemilang telah dicapai oleh manusia setelah diadakan penelitian yang tekun dan eksperimen yang mahal yang telah dilakukan selama berabad-abad. Maka sudah sepantasnya kalau kemudian manusia menggunakan penemuan-penemuannya itu guna meningkatkan taraf hidupnya. Kemajuan teknologi secara umum telah banyak dinikmati oleh masyarakat luas dengan cara yang belum pernah dirasakan bahkan oleh para raja dahulu kala. Tampaknya manusia di masa depan akan mencapai taraf kemakmuran yang lebih tinggi dan memperoleh kemudahan-kemudahan yang lebih banyak lagi.
Agama Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak anti terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau, di masa sekarang maupun di waktu-waktu yang akan datang. Demikian pula ajaran Islam tidak akan bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang teratur dan lurus dan analisa-analisa yang teliti dan obyektif.
Sebaliknya agama Islam mendukung dan mendorong manusia untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat memakmurkan bumi sebagaimana tugas manusia menjadi khalifah Allah di bumi. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dapat menembus sekat-sekat dan keterbatasan manusia pada era sebelumnya. Pada Surat Ar-Rahman dijelaskan ayat 33:
يا معشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السماوات والأرض فانفذوا لا تنفذون إلا بسلطان
Namun demikian sebagai pemegang kunci ilmu pengetahuan dunia ini (Al-Quran), masyarakat muslim pada saat ini masih berada dalam keterpurukan dunia dan terpinggir menjadi negara miskin dan berkembang.
2.5.2. Kenyataan Masyarakat Islam dalam Ilmu Pengetahuan
Perkembangan Sains dan Teknologi kian hari terasa semakin pesat. Bahkan telah diakui dapat membawa suatu perubahan besar dalam peradaban manusia. Banyak hasil dari perkembangan Sains dan Teknologi yang tadinya masih diluar angan-angan manusia kini sudah menjadi keperluan harian mereka. Contoh yang paling dekat adalah teknologi transportasi yang demikian cepat, dalam jangka waktu kurang dari 100 tahun, manusia sudah menemukan teknologi untuk terbang keluar angkasa, menciptakan pesawat yang lebih cepat dari suara, juga teknologi kapal selam. Dari segi Informasi, sains dan teknologi juga mengalami kemajuan luar biasa. Penyampaian informasi yang dahulu memerlukan waktu hingga berbulan-bulan, kini dengan adanya telepon, handphone, faxsimile, internet, dapat sampai ke tujuan hanya dalam beberapa detik saja, bahkan pada masa yang (hampir) bersamaan. Perkembangan dalam bidang lainpun seperti material, alat-alat transportasi, alat-alat rumah tangga, bioteknologi, kedokteran dan lain – lain maju dengan begitu pesat.
Kita harus mengakui bahwa sains dan teknologi telah mengambil peranan penting dalam pembangunan peradaban material atau lahiriah manusia. Penemuan-penemuan tersebut telah memberikan bermacam-macam kemudahan pada manusia, mulai dari transportasi, komunikasi, ilmu pengetahuan, kesehatan, rekayasa genetika, dan masih banyak lagi.
Tetapi sangat disayangkan sampai saat ini, kebanyakan ummat Islam masih menjadi pengguna/konsumen produk sains, teknologi dan industri yang ditemukan atau dibuat oleh saintis, teknolog dan industrialis bukan Islam. Produksi umat Islam masih berbasiskan sumber daya alam yang mempunyai nilai tambah (added value) yang rendah, belum berbasis sains dan teknologi yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Begitu juga dengan para Ilmuwan dan teknolog Islam belum menjadi satu kelompok yang maju, berilmu pengetahuan dan berteknologi tinggi yang bisa menjadi rujukan dan tempat konsultasi para Ilmuwan, saintis dan teknolog dunia lainnya. Justru yang terjadi adalah banyak orang Islam yang belajar, mengkaji dan meneliti berbagai bidang sains dan teknologi dengan berguru kepada para Ilmuwan barat di Eropa, Amerika, Australia dan lain-lain. Karya-karya ilmiah para ilmuwan, saintis dan teknolog Islam masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan barat. Penguasaan teknologi dalam masyarakat Islam masih rendah. Produk-produk industri buatan umat Islam masih terlalu sedikit dan berdaya saing rendah, sehingga masyarakat Islam kurang dapat memberi manfaat kepada masyarakat dunia.
Banyak ilmuwan, pakar sains dan teknolog Islam mencoba untuk mencari akar permasalahan ini dan kemudian mencoba untuk menyelesaikannya. Misalnya Prof. Dr. Abdus Salam yang pernah mendapat hadiah Nobel dalam bidang Fisika pada tahun 1978 M., dari dalam negeri, Prof. Dr. Ahmad Baiquini mantan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional Indonesia (1973M.-1984 M.) dan Prof. Dr.-Ing. BJ Habibie yang pernah menjadi Menteri Riset dan Teknologi Indonesia selama 20 tahun (1978M.- 1997 M.). Tetapi nampaknya mereka masih belum menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya, hanya menyentuh masalah-masalah di permukaan yang lebih bersifat material dan lahiriah.
Menurut Prof. Dr. Abdus Salam, ”Umat Islam tertinggal dalam bidang sains dan teknologi karena beberapa sebab diantaranya: Tidak mempunyai komitmen terhadap sains, baik sains terapan maupun sains murni, tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan tercapainya kemandirian sains dan teknologi (self reliance), tidak membangunkan kerangka institutional dan legal yang cukup untuk mendukung perkembangan sains dan menerapkan cara yang tidak tepat dalam menjalankan manajemen kegiatan di bidang sains dan teknologi.” Salam menawarkan beberapa solusi, sebagaimana yang dikatakannya dalam kata pengantar buku Islam dan Sains, pertarungan menegakkan rasionalitas, sebagai berikut: Ilmuwan dan teknolog hendaknya bersikap kritis, dan difasilitasi oleh negara agar terbentuk kelompok-kelompok intelektual yang aktif mengadakan kegiatan ilmiah, memperbanyak ilmuwan praktisi, mendorong apresiasi masyarakat terhadap ilmu-ilmu terapan dan teknologi tinggi, mendorong agar ilmuwan muslim melakukan interaksi dengan ilmuwan non muslim yang lebih maju guna mengambil manfaat.
Sedangkan Prof. Baiquni dalam bukunya Al Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menguraikan, ”Diantara sebab tertinggalnya umat Islam dalam bidang sains dan teknologi adalah: Pertama, adanya dikotomi di kalangan ulama Islam yang mungkin tidak begitu memahami atau salah faham terhadap buah fikiran Imam Al Ghazali, sehingga mereka memisahkan ilmu-ilmu agama dari sains dan teknologi. Selain itu para ulama terdahulu, mereka adalah pakar dalam bidang agama, dan juga sains. Adapun para ulama agama sekarang tidak begitu menguasai sains, sehingga mereka mencoba menjauhkan pengikut-pengikutnya dari pengaruh ahli ilmu kauniyah. Hal ini mereka buat agar terbebas dari pertanyaan-pertanyaan krtitis murid-murid mereka, sedangkan mereka tidak dapat menjawabnya. Kedua, embargo sains dan teknologi yang dibuat oleh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang, lebih-lebih lagi negara umat Islam, sehingga jumlah pakar sains di negara-negara Islam jauh lebih kecil dari pada yang ada di negara-negara bukan Islam, Institusi pendidikan sains dan teknologi di negara-negara Islam jauh lebih kecil dari pada yang ada di negara-negara bukan Islam.”
Begitu juga dengan Profesor. BJ. Habibie, yang terkenal dengan alih teknologi, dengan berfokus pada penguasaan teknologi tingkat tinggi. Melalui empat tahapan alih teknologinya beliau mencoba mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang sains dan teknologi, antara lain : Pertama, pembelian Lisensi untuk memproduksi barang-barang dagangan yang ada di pasar dunia, dengan design dan teknologi yang telah disiapkan oleh pihak penjual lisensi yang berada di dalam dan luar negeri. Kedua, integrasi teknologi baik yang diperoleh dari hasil pembelian lisensi maupun pengembangan sendiri yang memungkinkan modifikasi dan adaptasi untuk mendisain produk baru. Ketiga, penciptaan teknologi baru dengan mempergunakan kemampuan teknologi yang telah ada dalam bentuk himpunan lisensi. Keempat, hasil research, development dan terbina melalui pengalaman integrasi teknologi serta pengembangan sains secara besar-besaran untuk mempertahankan keunggulan teknologi yang telah dikuasai, sehingga produk-produk yang dihasilkan tetap unggul dan mampu bersaing di pasar dunia.
Tentu dunia dan Ummat Islam sangat berterima kasih dan berhutang budi terhadap kontribusi para ahli yang telah memetakan, bahkan mencoba menjalankan program-program dalam rangka mengatasi hal yang menjadi kelemahan ummat. Sebagai contoh Habibi, dengan program-programnya telah berhasil menciptakan teknologi tingkat tinggi yang diakui dunia, misalnya teknologi pesawat terbang.
Namun, tawaran solusi ketiga tokoh tersebut masih belum sempurna untuk bisa membuat ummat ini bangkit dari keterpurukan ilmu pengetahuan. Alih teknologi adalah hal yang memang sangat dibutuhkan , terutama untuk mengejar ketertinggalan dalam sains terapan. Mungkin belajar dari Jepang, yang berhasil membangun teknologi dengan berkonsentrasi dalam mempelajari ilmu pengetahuan terapan yang praktis, sehingga dapat menghasilkan teknologi yang dibutuhkan manusia. Mencoba untuk membangun konstruksi sains dan teknologi pada masyarakat, serta melakukan langkah-langkah revolusioner dan fundamental dalam pendidikan iptek juga merupakan suatu langkah yang sangat baik, sebagaimana ditawarkan oleh Prof. Salam dan Prof. Baiquni. Namun, dasar dari itu semua adalah bagaimana membangun keperibadian manusia.
Sejarah telah menunjukkan bagaimana Rasulullah Saw. dengan menggunakan ilmu dan kaedah wahyu dari Allah, telah mendidik para sahabat yang sebagaian besar buta huruf, terbelakang dalam ilmu pengetahuan, dibandingkan dengan negara lain saat itu. Tanpa ada institusi pendidikan formal, dan institusi-institusi Research and Development dalam berbagai bidang ilmu, tetapi telah sukses mendidik para sahabat menjadi pribadi unggul. Yang dilakukan oleh Rasul adalah menanamkan aqidah yang lurus dan mantap kepada para shahabat, serta akhlaq yang mulia, yang diiringi dengan ilmu-ilmu dan tugas-tugas lain yang sangat menyokong mereka untuk mengembangkan keahlian dan spesialisasi dalam bidang mereka masing-masing. Hasilnya, dalam waktu 30 tahun saja umat Islam menguasai 1/3 dunia. Romawi dan Persia jatuh ke tangan para sahabat di zaman Pemerintahan Saidina Umar bin Khattab. Kemudian banyak Ilmuan yang lahir dari negara-negara di luar Arab. Sejak itu, berkembanglah budaya Ilmiah Islam dalam masyarakat Islam. Inilah pembangunan manusia unggul yang dirintis oleh Rasul, sehingga dengan modal dasar tersebut, mereka dapat berkembang dan mengembangkan diri secara maksimal tanpa melupakan agama mereka.
Pandangan seperti ini adalah, pandangan yang berlandaskan dari sejarah sirah nabawiyah yang mengkaitkan secara erat kemajuan Islam dalam segala bidang, dengan pembangunan aqidah dan akhlaq bagi setiap individu muslim.
Selanjutnya, beberapa pakar dan ulama mencoba memasukkan unsur-unsur yang lebih mengedepankan persoalan moral, etika dan komitmen dalam menganalisa sebab keterpurukan Islam dalam bidang sains.
Menurut Muh Abduh, ”Kelemahan ini disebabkan oleh karena Ilmuwan Islam mengajarkan sesuatu yang tidak berlandaskan Islam, serta permasalahan ideologi dan aqidah yang diabaikan.” Menurut Abd. Hamid Ghazali, yang dikutip oleh Abduh, bahwa keberhasilan ulama dan cendekiawan muslim zaman dulu adalah karena mereka secara sungguh-sungguh mengabdikan dan memberikan jasa yang maksimal untuk kemajuan Islam. Abduh, dengan latar belakang yang kuat dalam bidang agama, lebih menekankan pada ideologi dan aqidah yang diabaikan oleh ummat dan ilmuwan muslim. Begitupun Abd Hamid Ghazali, lebih menekankan pada motivasi dan komitmen dari para ulama yang berbeda antara dahulu dan sekarang. Hal ini mungkin saja karena kenyataan bahwa banyak saintis muslim yang cerdas dan mumpuni, namun mereka malah bekerja untuk kepentingan barat, atau tidak mau mencurahkan kemampuan mereka untuk memajukan ummat.
Pandangan yang mengedepankan permasalahan landasan agama, yaitu aqidah dan etika yang menjadi pendorong utama memang sangat rasional, mengingat dorongan agama Islam terhadap Ilmu pengetahuan begitu kuat. Banyak perintah agama yang berkaitan dengan ilmu, keutamaan menuntut ilmu, bahkan sampai pada taraf wajib dalam menuntut ilmu, juga balasan bagi orang yang menuntut ilmu. Qardhawi bahkan menyatakan, bahwa Ilmu adalah agama, dan agama adalah Ilmu. Bagi penganut pandangan ini, keyakinan, akhlaq dan beragama yang tinggi, akan mendorong orang (sarjana Muslim ) mengembangkan ilmunya.
Hoodbhoy, dalam menganalisa lambannya kemajuan sains Islam, mengajukan beberapa hipotesis, yang menarik antara lain, sebab-sebab yang berkaitan dengan masalah sikap dan filsafat, konsep pendidikan, konsekuensi sifat khusus hukum Islam, materi, atau kelemahan tata sosial ekonomi tertentu dan sebab yang berasal dari sifat khusus politik dalam Islam. Sebab yang berkenaan dengan sikap masyarakat Islam misalnya, digambarkan adanya pergeseran dari masyarakat yang kritis, yang selalu berfikir dan memecahkan masalah, menjadi masyarakat yang fatalis, dan masyarakat yang utilitarianisme, melihat sains terapan dan meninggalkan sains murni. Padahal sains murni itulah yang merupakan dasar dari pengembangan sains terapan. Sains murni dianggap tidak bermanfaat. Padahal, zaman awal keemasan Islam dimulai dengan pengembangan filsafat sains, penerjemahan karya-karya filsafat, yang terlihat ”tidak berguna”, tetapi menjadi dasar yang kuat bagi pengembangan sains terapan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ilmu pengetahuan telah mengalami perkembangan melalui periode-periode tertentu, dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh yang berjasa didalamnya melalui eksperimen-eksperimen tertentu.
Ilmu pengetahuan dewasa ini sangat berkembang pesat, sehingga sangatlah berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan.
Ilmu pengetahuan harus mempunyai suatu landasan, yaitu landasan agama Islam agar Ilmu pengetahuan bisa bermanfaat dan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah Islam yang ada.
Ilmu pengetahuan merupakan sumber investasi yang sangat diperlukan untuk pembanguan ummat manusia dalam menghadapi tantangan-tantangan dimasa yang akan datang.
3.2. Saran
Ilmu pengetahuan yang baik haruslah berlandaskan Islam, agar arah perkembangannya bisa kearah yang baik, yaitu dengan tujuan untuk mensejahterakan ummat manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Ir. Muhammad Sahri & Aziez Rasyunah B.A (1981). Pengantar menuju revolusi ilmu pengetahuan dalam islam, Yayasa Pusat Studi AVICENNA Surabaya: 1981
Sardar Ziauddin (1977). Teknologi dan pembangunan di dunia Islam, Penerbit Pustaka :London:1977
Drs, Fadloli M.Ag. Buku ajar Star Platinum: Pendidikan Agama Islam, Kartasura Solo : Putra Kertonatan
(diakses pada tanggal 03/12/2013)
http://hajiakbar2546.wordpress.com/2011/05/15/sumber-ilmu-pengetahuan-dalam-islam/ {Sumber ilmu pengetahuan dalam Islam}
(diakses pada tanggal 03/12/2013)
http://barabbasayin.blogspot.com/2013/07/ilmu-pengetahuan-dalam-pandangan-islam.html = {Karakteristik ilmu pengetahuan dalam Islam}
(diakses pada tanggal 04/12/2013)
http://ibnulbasyar.wordpress.com/2012/06/02/iptek-dalam-islamharapan-dan-kenyataan/
Comments
Post a Comment